Blog Image

MENYULUT KOBARAN API YANG LAIN


Agar aku semakin mau ikut terlibat lebih jauh dalam perutusan yang mampu menjawab tantangan-tantangan zaman dan mampu mengajak banyak orang berkehendak baik ikut terlibat di dalamnya.


Sudah sejak awal sekali, Ignatius mempunyai visi yang kuat tentang bentuk pelayanan-pelayanan Serikat. Dia mengirim beberapa sahabat seperti Petrus Faber, Diego Laynez menjumpai orang-orang Protestan dan berdialog dengan mereka. Dia mengirim Fransiskus Xaverius ke tempat yang jauh untuk menjumpai orang-orang yang belum mengenal Kristus.

Pelayanan frontier, di tapal batas adalah pelayanan khas serikat. Paus Paulus VI menyatakan dengan sungguh soal ini. “Di mana pun di Gereja, juga di medan yang paling sulit dan ekstrem, di persimpangan ideologi dan garis depan konflik sosial, di mana selalu ada konfrontasi antara keinginan terdalam manusia dan pesan abadi injil, di sana selalu ada Jesuit.” (Paulus VI, 3 Desember 1974).

Paus Fransiskus dalam reksa pastoralnya sebagai Paus telah membawa Gereja Universal masuk dalam pelayanan-pelayanan di daerah periferi-periferi, seperti tempat-tempat yang jauh, para pengungsi, dialog lintas agama, merangkul orang-orang yang tersingkir, dsb. Sekarang wajah Gereja lambat laun menampakkan wajah seperti yang diinginkan paus sendiri, yakni Gereja yang seperti “Kapal Rumah Sakit darurat”. Dengan berada di tapal batas, Gereja menjadi mudah cepat dan tanggap dalam menjawab tanda-tanda zaman.

Pada tahun-tahun terakhir, Serikat berani memutuskan untuk lebih berani memasuki tempat-tempat kerasulan baru, seperti di Kalimantan, dan juga panggilan ke Pakistan. Tak lupa juga karya-karya seperti di Papua, JRS dan dialog antar agama, juga bisa menjadi contohnya. Ini adalah bentuk bagaimana kita menghidupi perutusan ke tapal batas itu.

Pertanyaan refleksi:

  • Apa bentuk-bentuk kerasulan tapal batasku dalam hidupku sehari-hari? Apa yang masih menghambatku untuk maju dalam kerasulan?
  • Dalam karya-karya yang sudah mentradisi, seperti di Kolese, Universitas dan Paroki, apa bentuk tapal batas yang sekarang sedang aku/kita upayakan?
  • Apakah hidup dan perutusanku bisa menyulut kobaran api bagi yang lain, mengajak para kolaborator ikut serta dalam Missio Dei yang sama?

Bahan Doa

  • Image Name
    Luk 4, 16-21. Yesus ditolak di Nazareth.
    Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab. Kepada-Nya diberikan kitab nabi Yesaya dan setelah dibuka-Nya, Ia menemukan nas, di mana ada tertulis: "Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang." Kemudian Ia menutup kitab itu, memberikannya kembali kepada pejabat, lalu duduk; dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada-Nya. Lalu Ia memulai mengajar mereka, kata-Nya: "Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya."
  • Image Name
    Kis 2, 1-13. Pentakosta
    Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat. Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya. Waktu itu di Yerusalem diam orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit. Ketika turun bunyi itu, berkerumunlah orang banyak. Mereka bingung karena mereka masing-masing mendengar rasul-rasul itu berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri. Mereka semua tercengang-cengang dan heran, lalu berkata: "Bukankah mereka semua yang berkata-kata itu orang Galilea? Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa yang kita pakai di negeri asal kita: kita orang Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia, Frigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libia yang berdekatan dengan Kirene, pendatang-pendatang dari Roma, baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab, kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah." Mereka semuanya tercengang-cengang dan sangat termangu-mangu sambil berkata seorang kepada yang lain: "Apakah artinya ini?" Tetapi orang lain menyindir: "Mereka sedang mabuk oleh anggur manis."