Blog Image

REFORMATIO VITAE


Agar aku semakin berani menghidupkan dan mengaktualkan Cinta yang sudah kudapatkan dari Allah sendiri dan semakin mewujudkan pertobatan yang nyata dalam hidup sehari-hari, baik secara personal, komunal maupun institusional.


Seluruh programasi Latihan Rohani St. Ignatius sejatinya mengarahkan kita sampai pada pemahaman dan akhirnya melaksanakan hidup serta panggilan kita dengan Cinta. Pada minggu I, kita sampai pada titik, bahwa dengan cinta dan belaskasih Tuhan, kita dapat melanjutkan hidup. Pada minggu II, kita belajar mencintai Allah dengan berjalan mengkuti dan bekerja bersama Yesus. Pada minggu III, cinta itu berada sampai pada totalitasnya, yang tampak pada salib, yakni sengsara dan wafat Kristus sendiri. Dan kemudian pada minggu IV, cinta itu disempurnakan dengan rahmat kebangkitan bersama Kristus. Maka dari itu, rahmat yang dimohon pada awal minggu II, “lebih dalam mencintai dan mengikuti-Nya” (LR 104), secara bertahap, berjalan maju sampai kesempurnaannya di minggu IV.

Persis pula pada minggu IV pula, kita mendoakan Kontemplasi mendapatkan Cinta. Dan dengan kontemplasi ini, kita mencecap-cecap kembali pengalaman-pengalaman di minggu-minggu sebelumnya, sehingga kemudian kita “tidak bisa tidak” harus menghidupkan cinta itu dalam tindakan hidup kita (LR 230).

Pertobatan yang sudah kita renungkan pada tahun lalu (Tahun Pertobatan Ignatius), dan juga dicecap kembali dalam beberapa hari terakhir di sini, harus pula membawa misi yang sama. Pertobatan tidak hanya dalam kata-kata, tetapi juga dalam perubahan tindakan dan cara hidup kita.

Mengamalkan Cinta dan melakukan pertobatan terus-menerus adalah bagian dari hidup kita sebagai Jesuit. Karena dengan cara itulah, hidup kita akan semakin banyak menghasilkan buah.

Pertanyaan refleksi:

  • Bentuk transformasi macam apa yang akan aku/kita hidupi dan jalani ke depan ini, setelah selesainya retret?
  • Bentuk transformasi macam apa yang perlu kita buat di komunitas dan institusi di mana kita diutus?
  • Hal-hal konkret apa yang bisa kita buat?

Bahan Doa

  • Image Name
    Yoh 15, 1-26. Pokok anggur yang benar, Perintah mengasihi dan Dunia membenci Yesus dan murid-Nya.
    "Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya. Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah. Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu. Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar. Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku." "Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh. Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku. Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu. Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain." "Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu. Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu. Ingatlah apa yang telah Kukatakan kepadamu: Seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya. Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu; jikalau mereka telah menuruti firman-Ku, mereka juga akan menuruti perkataanmu. Tetapi semuanya itu akan mereka lakukan terhadap kamu karena nama-Ku, sebab mereka tidak mengenal Dia, yang telah mengutus Aku. Sekiranya Aku tidak datang dan tidak berkata-kata kepada mereka, mereka tentu tidak berdosa. Tetapi sekarang mereka tidak mempunyai dalih bagi dosa mereka! Barangsiapa membenci Aku, ia membenci juga Bapa-Ku. Sekiranya Aku tidak melakukan pekerjaan di tengah-tengah mereka seperti yang tidak pernah dilakukan orang lain, mereka tentu tidak berdosa. Tetapi sekarang walaupun mereka telah melihat semuanya itu, namun mereka membenci baik Aku maupun Bapa-Ku. Tetapi firman yang ada tertulis dalam kitab Taurat mereka harus digenapi: Mereka membenci Aku tanpa alasan. Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku.
  • Image Name
    Luk 24, 13-33. Kisah perjalanan 2 orang murid ke Emaus
    Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah kampung bernama Emaus, yang terletak kira-kira tujuh mil jauhnya dari Yerusalem, dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi. Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka. Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia. Yesus berkata kepada mereka: "Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?" Maka berhentilah mereka dengan muka muram. Seorang dari mereka, namanya Kleopas, menjawab-Nya: "Adakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi di situ pada hari-hari belakangan ini?" Kata-Nya kepada mereka: "Apakah itu?" Jawab mereka: "Apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dia adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami. Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya. Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel. Tetapi sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi. Tetapi beberapa perempuan dari kalangan kami telah mengejutkan kami: Pagi-pagi buta mereka telah pergi ke kubur, dan tidak menemukan mayat-Nya. Lalu mereka datang dengan berita, bahwa telah kelihatan kepada mereka malaikat-malaikat, yang mengatakan, bahwa Ia hidup. Dan beberapa teman kami telah pergi ke kubur itu dan mendapati, bahwa memang benar yang dikatakan perempuan-perempuan itu, tetapi Dia tidak mereka lihat." Lalu Ia berkata kepada mereka: "Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi! Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?" Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi. Mereka mendekati kampung yang mereka tuju, lalu Ia berbuat seolah-olah hendak meneruskan perjalanan-Nya. Tetapi mereka sangat mendesak-Nya, katanya: "Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam." Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka. Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. Ketika itu terbukalah mata mereka dan merekapun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka. Kata mereka seorang kepada yang lain: "Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?" Lalu bangunlah mereka dan terus kembali ke Yerusalem. Di situ mereka mendapati kesebelas murid itu. Mereka sedang berkumpul bersama-sama dengan teman-teman mereka.
  • Image Name
    Contemplatio ad Amorem (LR 230-237)
    230 Kontemplasi untuk mendapatkan cinta. Catatan. Pertama-tama hendaknya diingat dua hal berikut: 1. Cinta harus lebih diwujudkan dalam perbuatan daripada diungkapkan dalam kata-kata. 231 2. Cinta terwujud dalam saling memberi dari kedua belah pihak artinya yang mencintai memberi dan menyerahkan kepada yang dicintai apa yang dimiliki atau sebagian dari milik atau yang yang dapat diberikan, begitu pula sebaliknya, yang dicintai kepada yang mencintai. Jadi, bila yang satu punya ilmu , dia memberi ilmu itu kepada lainnya yang tidak punya, begitu juga mengenai kehormatan atau kekayaan. Demikian pula sebaliknya, yang lain itu terhadap dia. 232 Doa. Doa seperti biasanya. Pendahuluan I. Membayangkan tempat dalam angan-angan. Di sini melihat diriku dihadapan Allah Tuhan kita, malaikat-malaikat dan orang-orang kudus yang menjadi pengantarku. 233 Pendahuluan II. Mohon apa yang ku kehendaki. Di sini mohon pengertian yang mendalam atas begitu banyak kebaikan yang kuterima supaya oleh kesadaran penuh syukur atas hal itu aku dapat mencintai dan mengabdi yang Mahaagung dalam segalanya. 234 Pokok I. Menimbulkan dalam ingatan anugerah-anugerah yang kuterima: penciptaan, penebusan, anugerah-anugerah pribadi. Menimbang-nimbang penuh cinta betapa besar karya Tuhan buat diriku, betapa banyak dari milik-Nya diberikan padaku; lalu bagaimana Tuhan sampai ingin memberikan diri-Nya sendiri padaku, sedapatnya, menurut rencana ilahi-Nya. Kemudian melakukan refleksi atas diriku dengan menimbang-nimbang apa yang menurut tuntutan budi dan keadilan harus kupersembahkan dan kuberikan kepada yang Mahaagung: segala milik dan diriku sendiri, seperti seorang yang memberikan persembahan dengan penuh cinta mengucap: “Ambilah, Tuhan, dan terimalah seluruh kemerdekaanku, ingatanku, pikiranku dan segenap kehendakku, segala kepunyaan dan milikku Engkaulah yang memberikan, pada-Mu Tuhan kukembalikan. Semua milik-Mu, pergunakan sekehendak-Mu. Berilah aku cinta dan rahmat-Mu, cukup itu bagiku.” 235 Pokok II. Memandang bagaimana Allah tinggal dalam ciptaan-ciptaan-Nya: dalam unsur-unsur, memberi “ada”nya; dalam tumbuh-tumbuhan, memberi daya tumbuh; dalam binatang-binatang, daya rasa; dalam manusia, memberikan pikiran. Jadi Allah juga tinggal dalam aku, memberi aku ada, hidup, berdaya rasa dan berpikiran. Bahkan dijadikan oleh-Nya aku bait-Nya, karena aku telah diciptakan serupa dan menurut citra yang Mahaagung. Lalu melakukan refleksi atas diriku lagi, caranya seperti pada pokok I, atau dengan cara lain yang kurasa lebih baik. Begitu juga untuk tiap pokok berikut. 236 Pokok III. Menimbang-nimbang bagaimana Tuhan bekerja dan berkarya untuk diriku dalam segala ciptaan di seluruh bumi, yakni bagaimana Dia bertindak sebagai seorang yang tengah berkarya, misalnya di langit, dalam unsur-unsur, tumbuhan, buah-buahan, kawanan binatang, dsb, dengan membuatnya berada, berlangsung, bertumbuh berdaya rasa, dsb. Lalu membuat refleksi. 237 Pokok IV. Memandang bagaimana segala berkat dan anugerah datang dari atas, misalnya, kuasaku yang terbatas, berasal dari kuasa Tuhan tertinggi dan tanpa batas; begitu juga keadilan, kebaikan, bakti, belaskasih, dsb., turun dari atas bagaikan sinar cahaya turun dari matahari dan bagaikan air mengalir dari sumber-sumbernya. Lalu mengakhiri dengan refleksi seperti di atas. Akhirnya: percakapan dan Bapa kami.