Tulisan ini disampaikan oleh Pater Jenderal Arturo Sosa pada kesempatan Kongres Internasional Latihan Rohani di Konferensi Amerika Latin dan Karibia (CPAL). Pater Arturo Sosa menawarkan 7 (tujuh) langkah inspiratif dari hidup St. Ignatius Loyola, yang diambil dari 3 momen penting Sang Peziarah selama di Loyola, Manresa dan di Kapel La Storta. Ketujuh langkah ini membantu kita memahami pengalaman manusiawi dan spiritual Ignatius dalam melihat segala sesuatu baru dalam Kristus. Karena dengan daya transformasi ini, Arturo Sosa yakin kita akan semakin murah hati dalam melayani dan semakin terlibat dalam misi rekonsiliasi dunia.


A. Sewaktu masa penyembuhan di Loyola

Keputusan untuk kembali ke Loyola pastilah tidak mudah bagi Ignatius, apalagi dalam situasi terluka dan kalah perang di Pamplona. Kita bisa membayangkan penderitaan fisik dan emosional Ignatius selama perjalanan. Dia kembali ke Loyola dengan tekad dan impian untuk pulih dan bisa kembali ke hidup lamanya. Tetapi ketika pelan-pelan dia membiarkan dirinya disentuh oleh Tuhan, dia justru membuka diri terhadap hal yang tidak terduga dan mulailah proses pembelajaran yang panjang. Pada fase ini, saya ingin menggarisbawahi dua aspek penting: Hati dan gerak batin (los afectos) menjadi jembatan istimewa untuk berkomunikasi dengan Tuhan, dan bagaimana Yesus bagi Ignatius kemudian menjadi pusat keinginannya (sus deseos).


1) Tuhan berkomunikasi langsung dengan ciptaan-Nya melalui hati dan gerak batin (el afecto)

St. Ignatius mengalami komunikasi Allah dengannya, tidak hanya melalui tindakan lahiriah seperti lewat sakramen-sakramen, kitab Suci, perintah Tuhan, dll., melainkan juga melalui gerak-gerik batin. Ignatius melalui itu mulai mengalami di dalam dirinya, merasakan cinta serta merasakan mimpi Allah terhadap hidupnya dan terhadap seluruh manusia. Di saat pencerahan-pencerahan datang, Ignatius dikejutkan oleh Tuhan yang berkomunikasi padanya secara efektif melalui impian serta keinginan.


Ignatius menemukan bahwa Tuhan mengetuk pintunya melalui suasana hatinya, gerak batinnya, dan Dia ingin berkomunikasi dengannya. Ignatius menghidupinya sebagai rahmat. Kesadaran atas pengalaman ini, dan memutuskan serta mendalaminya, adalah dasar pembelajaran kita dalam pembedaan roh. Di rumahnya di Loyola, secara fisik dia lumpuh, tetapi dia mulai bermimpi panjang, beberapa di antaranya dia membayangkan dirinya dalam hal-hal duniawi; yang lain dia terdorong mengikuti dan menyerupai Yesus serta para kudus. Dia merasa bersemangat saat kedua imajinasi/lamunan itu berlangsung. Namun, setelah lamunan duniawi selesai, dia diliputi oleh semacam kesedihan, yang jauh dari kegembiraan. Sebaliknya, ketika impian untuk mengikuti Kristus dan meniru para kudus muncul, memberinya sukacita yang mendalam sesudahnya.


Dia membutuhkan beberapa waktu untuk menyadari perbedaannya. Dia menceritakan dalam autobiografinya bahwa suatu hari, “matanya sedikit terbuka dan dia mulai merasa heran akan perbedaan itu dan mengadakan refleksi tentang hal itu. Berdasarkan pengalaman ia mulai menyadari bahwa dari pikiran yang satu ia menjadi murung, dan dari yang lain gembira. Sedikit demi sedikit ia mulai menyadari perbedaan roh yang menggerakkannya: satu dari setan, yang lain dari Allah.”


Selama waktu yang dia dedikasikan untuk membaca, perasaan-perasaan mulai muncul, dan Ignatius mulai mengamati dengan khusus. Dengan cara ini, dia menemukan pentingnya jeda sejenak untuk merenungkan apa yang menggerakkan hatinya. Dia menyadari kehadiran berbagai roh yang menggerakkan gerak batinnya: roh baik yang menuntun untuk mengikuti Yesus, sementara roh jahat memecah belah. Dia menyadari bagaimana dibimbing oleh satu roh atau lainnya mengarah pada cara hidup yang sama sekali berbeda. Maka dari itu, Ignatius meyakini bahwa seorang kristiani, membutuhkan metode untuk membuat pilihan, yakni melalui pembedaan roh.


Ignatius dalam arti ini tidak sedang mengajukan sebuah sekolah penelitian psikologis. Dari pengalaman perjumpaannya secara personal dengan Yesus, dia menyadari pentingnya memilah dan membedakan dorongan roh baik dari tipu daya roh jahat. Namun, pembedaan roh/diskresi mensyaratkan pemahaman, keterbukaan dan kejujuran dalam mengenali gerak-gerak batin untuk menyadari apakah itu mengarah pada mengikuti Yesus atau tidak. Untuk itulah, dalam Latihan Rohani, Ignatius menunjukkan serangkaian aturan-aturan pembedaan roh, sembari mengiringi pengalaman-pengalaman doa dari orang yang mengalami tersebut.


Dari pengalaman Ignatius, kita diajar untuk terus-menerus bertanya kepada Tuhan: Tuhan, di mana Engkau menginginkan aku berada? Apa yang Engkau inginkan untuk aku lakukan? Semua ini untuk mengarahkan seluruh hidup kita ke tempat yang paling membutuhkan dan ke kebaikan terbesar/universal berada. Untuk inilah, pentingnya latihan melakukan pembedaan roh/diskresi, baik secara personal maupun komunal.


Diskresi adalah kompas yang harus kita pelajari untuk membantu mengarahkan diri kita di tengah perubahan zaman yang sedang dialami umat manusia saat ini, dengan diterangi oleh Injil untuk mencari dan menemukan solusi, terutama menghadapi situasi ketidakadilan yang semakin hari semakin parah, namun juga untuk membantu kita membuat keputusan, di persimpangan jalan, yang hadir oleh karena realitas-realitas baru di hadapan kita. Ignatius mengingatkan kita lewat Pedoman minggu II , bahwa kita harus sangat memerhatikan roh jahat yang sering bertopeng dengan memalsukan suara Tuhan; dan karena ini, kita tertipu dan bingung.


Sebagai Serikat, kita memiliki sejarah panjang dan tradisi-tradisi serikat yang dapat menjadi godaan yang membuat kita merasa nyaman, seperti berada di comfort zone, berusaha untuk mempertahankan apa yang sudah kita miliki, dan bangga atas apa yang kita biasa punyai. Ini adalah godaan yang membuat kita terbawa pada rasa takut untuk meninggalkan; dan tidak berani untuk mencurahkan energi kita pada proyek dan kerasulan baru serta metode-metode baru dalam kerasulan.


Pengalaman perjumpaan dengan Tuhan, dalam pengalaman Latihan Rohani, membawa kita pada hasrat untuk menemukan apa yang akan menghasilkan lebih banyak buah bagi umat manusia. Oleh karena itu, mengikuti cara Ignatius dan sahabat-sahabat pertamanya, Komisi apostolik Serikat, yang diundangkan oleh KJ ke-36, menyerahkan ke Bapa Paus Fransiskus buah-buah dari proses diskresi bersama yang panjang dan intensif. Maka dari Bapa Suci, kita menerima Preferensi Apostolik Universal (2019-2029) sebagai pedoman untuk kerasulan setiap Jesuit dan semua orang yang bekerja sama dengan kita dalam missio Dei. Preferensi Kerasulan Universal mencerminkan hati Allah dan kehendak Gereja-Nya, serta hasrat yang dimiliki oleh para Yesuit dan banyak rekan kerja kita di seluruh dunia sebagai panggilan dari Allah.


Praktik personal dan komunal untuk mendengar dan menemukan suara Tuhan dalam gerak batin kita sangat penting untuk menemukan kembali harapan. Dengan menunjukkan bahwa Tuhan terus bekerja dalam sejarah, dan terus berkomunikasi dengan kita dan membimbing langkah kita, kita memulihkan kepastian yang dibutuhkan untuk menunjukkan jalan kepada Tuhan. Selanjutnya, tugas tetap bagi kita adalah terus memilih cara-cara konkret untuk memastikan bahwa Preferensi Apostolik Universal, yang telah menggerakkan gerak batin kita, bisa diterima dalam hidup kita masing-masing dan dalam karya kerasulan kita.


Dengan memerhatikan kekayaan praktik diskresi, saya ingin menggarisbawahi perlunya terus-menerus mempraktikkannya dalam karya kerasulan dan komunitas kita. Marilah kita menghindari berpuas diri dengan hanya sekedar membicarakan, menulis atau memberi nasihat pada orang lain tentang diskresi. Karena dengan begitu, kita berisiko merendahkan pentingnya diskresi, apalagi jika kita tidak menjalaninya dengan serius. Jadi, marilah kita dengan jujur memeriksa praktik diskresi kita, karena inilah warisan kunci dari spiritualitas Ignatian.


2) Yesus yang hadir bagi Ignatius sebagai subyek baru hasrat terdalamnya.

Ignatius dalam ziarah hidupnya telah belajar betapa pentingnya hasrat-hasrat atau keinginan-keinginan dari dalam batin, yang mendorong kita terlibat dalam perutusan bersama Yesus. Hasrat-hasrat itu adalah energi yang menggerakkan kita untuk mencapai hal-hal yang besar. Ignatius sangat sadar, tetapi tidak serta merta, bahwa kerohanian hidupnya berdasar pada pengalaman sekaligus latihan-latihan. Dalam Latihan Rohani, Ignatius selalu meminta kita untuk “memohonkan apa yang aku inginkan dan dambakan”. Ia sendiri memberi contoh bagaimana keinginan dan hasrat yang kuat bisa membantu jiwanya dan memberinya energi serta kekuatan yang diperlukan untuk mengatasi semua rintangan yang menghadangnya. Ia alami sendiri dalam bentuk keinginannya untuk meniru hidup para kudus. Pada waktu itu, dia tidak memikirkan konsekuensinya, dia begitu saja memutuskan untuk menjalani kehidupan tobat dan pergi ke Yerusalem. Ketika dia membayangkan Kristus Tuhan kita di Salib, keinginannya yang mendalam adalah meniru Dia dalam kemiskinan, serta menanggung segala macam penghinaan dan perendahan, dan berbagi dengan Yesus akan tugas-Nya membawa jiwa-jiwa kepada Bapa.


Oleh karena itu kita dapat menyimpulkan bahwa Ignatius memiliki tiga “keinginan/dambaan suci”: meniru hidup orang-orang kudus; menghidupi kemiskinan lahir, penghinaan, dan perendahan oleh karena Kristus; dan membantu menyelamatkan jiwa-jiwa. Itulah sebabnya dalam suratnya kepada komunitas Coimbra: “Namun di atas segalanya saya ingin kalian membangkitkan cinta yang murni akan Yesus Kristus, dan dambaan untuk mengabdi-Nya serta merawat jiwa-jiwa orang-orang yang telah Dia tebus.” Juga dalam Konstitusi Serikat dan dalam surat-suratnya, jelas bahwa Ignatius menginginkan semua Jesuit menganggap bahwa “dambaan/hasrat suci” sebagai rahmat untuk dihargai secara mendalam dan dicari secara aktif.


Dalam Examen General, - ini adalah cara pertama agar diterima di Serikat- kita harus meneliti dengan cermat keinginan kandidat untuk mengikuti Kristus, melalui Serikat Yesus. Kandidat ditanya apakah dia benar-benar ingin menjalani kehidupan menurut nasihat injil. Jika jawabannya ya, pertanyaannya berlanjut: “Sudah berapa lama ia mengambil keputusan untuk mengingkari dunia, dan sejak kapan keinginan untuk mengikuti nasihat-nasihat Kristus mulai muncul dalam dirinya.” Kemudian si penanya (examinator) melanjutkan dengan pertanyaan: “Apakah dia punya niat yang tegas dalam Tuhan untuk hidup dan mati di dalam dan bersama dengan Serikat Yesus, Pencipta dan Tuhan kita; dan sejak kapan, di mana, dan melalui siapa, ia pertamakalinya digerakkan ke arah itu?”


Dalam menjadi seorang Jesuit, haruslah dia lahir dengan keinginan/dambaan yang kuat, serta keinginan untuk melangkah lebih jauh dalam mengikuti Yesus. Orang itu perlu mengembangkan kapasitas dambaan yang besar tersebut. Tanpa adanya dambaan ini, akan hanya ada sedikit energi dan buah untuk Kerajaan Allah. Selama menjalani Latihan Rohani, Ignatius menganggap bahwa akan ada pertarungan antara dambaan-dambaan yang berlawanan. Itu wajar dan bukan suatu pengecualian. Jika tidak terjadi, ada yang salah dengan pengalaman itu, dan kita harus bertanya-tanya apa itu.


Dalam pembedaan dan pemilahan hasrat/dambaan-dambaan ini, si retretan belajar memilah dan memilih mana dambaan yang otentik dari mana yang menipu dan menyesatkan. Dambaan yang otentik adalah yang memanusiakan orang tersebut, membebaskan mereka, serta memberi dorongan dan harapan yang berasal dari semangat yang baik. Semakin otentik dambaan kita, semakin itu menggerakkan kita untuk memuliakan Tuhan. Dambaan yang menipu dan menyesatkan adalah dambaan yang menciptakan ketidakharmonisan, memenjarakan, serta memecah belah secara batin. Itu berasal dari roh jahat. Dalam konteks ini, St. Ignatius adalah seorang yang ahli mengajarkan para Yesuit untuk memiliki dambaan yang otentik serta “mematikan” dambaan yang menipu dan menyesatkan seperti keinginan akan kekayaan, kehormatan duniawi dan keangkuhan.


Saat ini kita dapat bertanya pada diri sendiri tentang dambaan-dambaan yang ada dalam batin kita. Pertobatan pada tahun Ignatian mengundang kita tidak hanya datang dengan kesukarelaan, namun karena perjumpaan yang menawan dengan Yesus, seperti yang dimaksudkan Ignatius dalam minggu kedua LR, melalui kontemplasi-kontemplasi kehidupan Yesus. Sehingga, di dalam hati kita masing-masing, tumbuh cinta-Nya kepada Bapa, belas kasih-Nya kepada orang-orang yang terluka, dan hasrat-Nya akan persahabatan. Oleh karena itu, kita diundang untuk mempertahankan setiap harinya hidup bersama dengan Yesus, agar kita menemukan Dia dalam apa yang kita lakukan. Identifikasi diri dengan cara hidup Yesus ini adalah jalan kita kepada Allah, lalu kemudian dibagikan kepada orang lain, dalam berjalan bersama orang miskin, sebagaimana banyak kita temukan dalam kesulitan-kesulitan yang dihadapi jutaan orang muda.


Yesus adalah asas dan dasar hidup kita. Dan di sini sangat berguna bagi kita untuk mengingat Pater Adolfo Nicolás yang dengan sangat jelas serta terus-menerus berbicara tentang gangguan/distraksi-distraksi yang menghalangi Yesus menjadi pusat dalam hidup kita. Seperti misalnya: distraksi mementingkan ego, perfeksionisme, serta penggunaan media yang tidak hati-hati (internet, misalnya) dan kedangkalan hidup beragama. Adolfo Nicolas bersikeras mengajak kita untuk belajar dari Jesuit-jesuit seperti Ignatius sendiri, Fransiskus Xaverius, Petrus Faber, Mateo Ricci, Jose Anchieta, Alfonso Rodriguez, Teilhard de Chardin, Arrupe, dll., sebagai “undangan untuk pergi ke pusat; yakni pada Tuhan sendiri serta pada diri kita sendiri dan panggilan kita di dalam Serikat dan Gereja.”


Itulah sebabnya di dalam formasi para Jesuit, dan rekan-rekan kerja yang memutuskan untuk bekerja sama dalam missio Dei, kita harus memberi ruang atas dambaan dan keinginan suci agar Yesus Kristus dan Injil-Nya berkembang dalam diri setiap orang.


Dengan demikian kita terus-menerus perlu memeriksa apakah struktur dan metode pada berbagai tahap proses formasi, telah mendukung perkembangan dan pertumbuhan dambaan serta kecintaan pada Yesus.


Sebagai ringkasan, saya mengingatkan pada kita semua paragraf dari KJ 36 ini: “Di jantung spiritualitas Ignasian, ada perjumpaan transformatif dengan Kerahiman Allah dalam diri Yesus, yang menggerakkan kita untuk memberikan tanggapan personal. Pengalaman belas kasih Allah dalam memandang kelemahan dan dosa-dosa kita, membuat kita menjadi rendah hati dan dipenuhi dengan rasa syukur, serta membantu kita menjadi pelayan-pelayan belas kasih bagi semua orang.”


B. DI MANRESA IGNATIUS MELANJUTKAN BELAJAR

Segera setelah kesehatannya cukup pulih, Ignatius didorong untuk “meninggalkan” rumah Loyola ke tempat di mana dia tidak akan dikenali atau diperhitungkan di antara yang punya kuasa. Dengan tertatih-tatih, dia tiba di Monserrat dan Manresa, di mana dia menghabiskan sembilan bulan transformasi personal yang amat penting, baik secara eksternal maupun internal.


3) Ignatius belajar menemukan Tuhan di dunia.

Melalui berjam-jam doa setiap harinya dan terutama dalam pengalaman di tepian Sungai Cardoner, Ignatius belajar mengenali kehadiran Tuhan di dunia. Dia tidak tiba-tiba mengalami “pencerahan”. Ignatius sendiri menggambarkannya dalam Autobiografi: “mata budinya mulai terbuka; ia tidak melihat sebuah visiun, tetapi memahami dan mengerti banyak hal; Semua itu dengan kejelasan yang begitu besar sehingga segala-galanya kelihatan baru.”


Pater Gonçalves da Cámara dalam Memorial-nya menulis tanggapan Ignatius atas serangkaian pertanyaan yang diajukannya tentang pendirian Serikat. Ignatius mengatakan: “Dan semua hal itu dijawab oleh segala yang terjadi pada saya di Manresa.” Cámara lalu menambahkan: “Ini merupakan gambaran pemahaman yang luar biasa, di mana Tuhan kita di Manresa menunjukkan diri-Nya kepada Ignatius dan banyak hal lain yang melalui itu Ignatius kemudian mendirikan Serikat.”


Namun, Ignatius tidak melihat dunia yang tertata dan baik, melainkan dunia yang penuh penderitaan akibat dosa, serta jauh dari Tuhan. Dia melihatnya dengan mata Yesus Kristus, dari Dia yang dengan penuh belas kasihan menerima kemanusiaan kita, serta menebus kita. Tatapan Yesus menyalakan cahaya dalam kegelapan dan memungkinkan Ignatius untuk mulai melihat lebih jelas bagaimana mempraktikkan belas kasih yang datang dari Tuhan dalam realitas dunia yang menyakitkan ini. Saat ini kita diundang untuk menemukan Tuhan, baik dalam situasi sosial yang sulit dan penuh konflik, yang menindas hati kita dan menghilangkan pengharapan.


Paus Fransiskus dalam ensikliknya Fratelli tutti, menunjukkan beberapa dari kenyataan ini: “Saat ini di banyak negara digunakan mekanisme politik yang menjengkelkan, memperburuk, dan mempolarisasi. Politik tidak lagi menjadi diskusi yang sehat tentang proyek jangka panjang untuk memperkembangkan semua dan demi bonum commune, melainkan hanya resep-resep paling efektif dalam penghancuran yang lain.” Lalu, bagaimana kita menemukan kehadiran Tuhan situasi kematian seperti ini? Di mana gambaran kehidupan harus ada dalam situasi ini? Tindakan apa yang dapat menghasilkan rekonsiliasi? Apakah kita yang telah melakukan Latihan Rohani sudah siap sedia dan siap bekerjasama dengan yang lain?


Latihan Rohani, yang dihayati dengan keterbukaan dan kemerdekaan, adalah jalan yang menuntun kita melihat segala sesuatu dengan cara baru. Latihan Rohani membantu kita untuk “merasakan dan mencecap-cecap dalam-dalam kebenarannya”. Itulah mengapa sangat penting untuk menyampaikan pengalaman ini kepada semua orang yang berbagi perutusan dengan kita, terutama dengan orang muda.


Pada saat yang sama, setelah pengalaman Latihan Rohani, adalah penting untuk memeriksa seberapa banyak buah yang dihasilkan oleh benih yang telah ditabur dalam hidup kita: Apakah kita menjadi orang yang lebih baik, lebih murah hati, berdedikasi, mau dibimbing oleh Preferensi Kerasulan Universal di dalam kehidupan dan perutusan kita? Apakah kita tumbuh dalam kerjasama yang baik dengan rekan-rekan kolaborator kita, serta dalam membangun jaringan yang mempromosikan rekonsiliasi antar manusia, dengan lingkungan hidup dan dengan Tuhan sendiri?


4) Ignatius belajar terlibat dan ikut ambil bagian dalam pekerjaan Allah dalam menolong jiwa-jiwa

Ignatius menemukan bahwa jika dunia mengalir dari cinta Tuhan, maka semuanya adalah “sarana ilahi”, seperti yang dikatakan Teilhard de Chardin. Orang-orang, benda-benda, dan pengalaman-pengalaman adalah tempat pemuliaan dan persembahan pada Allah. Ignatius belajar merangkul realita dengan spiritualitasnya sehingga dia bisa menemukan Tuhan dalam setiap perkara, baik besar maupun kecil, dan menemukan inspirasi serta tantangan untuk menyelesaikannya. Bagi Ignatius batas antara yang sakral dan yang profan terhapus karena ia menemukan Tuhan dalam segala hal. Cara hidup seperti ini menganggap dunia sebagai “tanah suci”. Ignatius tidak ingin mencintai dan melayani Tuhan lepas dari mencintai dan melayani ciptaan-Nya, karena mereka tidak dapat dipisahkan.


Pengalaman Ignatius akan Tuhan menuntunnya keluar dari dirinya sendiri dan mengajak dia berpartisipasi dalam misi penebusan, yang dilakukan melalui Sang Putra, yang telah mengosongkan diri-Nya menjelma di antara manusia dan memberikan hidup-Nya di kayu salib guna membuka jalan kehidupan sejati. Oleh karenanya, terhadap hidup doanya, Ignatius menambahkan catatan bantuan terhadap orang lain melalui percakapan rohani atau dengan cara lain, karena Latihan Rohani bisa menjadi sarana kerasulan.

Di Manresa inilah, hasrat Ignatius untuk membantu jiwa-jiwa muncul. Dia menemukan cakrawala baru dalam kerohaniannya, dengan jalan membantu orang lain dan dengan demikian kerohaniannya sangat jelas berciri apostolik. Dengan demikian, di Manresa ini Ignatius diubah dari yang awalnya seorang pertapa menjadi seorang rasul. Dia memahami bahwa Tuhan tidak memintanya untuk hidup asketis, bermatiraga, berpuasa, dll., melainkan untuk membantu jiwa-jiwa. Dia menemukan bahwa cinta Tuhan menuntunnya untuk keluar dari penjaranya, atau dalam bahasa Paus Fransiskus, Tuhan ingin Ignatius dan kita semua menjadi seorang Samaria, menjadi bagian dari Gereja yang “keluar” dari dirinya sendiri.


Ignatius kemudian mulai mencari sahabat-sahabat yang bersemangat dalam misi bersama Yesus. Maka, di Manresa, kita menemukan benih dari visi Ignatius tentang hidup religius yang apostolik. Kebaruannya terletak pada kenyataan bahwa kerasulan/pelayanan menjadi poros atau pusat hidup bagi terbentuknya kelompok para sahabat. Sebuah kelompok di mana pelayanan/kerasulan adalah yang utama. Dari pemberian diri hingga pelayanan/kerasulan, terciptalah cara hidup di mana totalitas berada.

Pada tahun Ignatian, kita memohon agar kita bisa melihat segala sesuatu baru di dalam Kristus. Ignatius telah membantu kita melihat bagaimana menemukan Tuhan dalam perubahan zaman saat ini dan dari situ kita diajak menghadapi tantangan-tantangan penggunaan sarana teknologi guna membangun persaudaraan; memperbarui kehadiran kita di tengah-tengah dunia yang non-kristiani; memecahkan cara pandang sempit dalam memahami kerohanian; mencari cara baru bagaiman bekerjasama dalam tim, dalam jaringan-jaringan, yang mengatasi lokalisme dan nasionalisme sempit; mengakui sumbangsih kaum perempuan di semua bidang kehidupan manusia, serta menanggalkan budaya patriarkal dan klerikalisme.


C. LA STORTA: DITEMPATKAN BERSAMA PUTERA


Pada 1537, lima belas tahun setelah Manresa, Ignatius tiba di Roma. Saat itu, dia telah melewati Barcelona, Yerusalem, Alcalá, Paris, Flanders, London, Azpeitia, Venesia. Lalu dia telah mengumpulkan para sahabat, dan sempat pula diperiksa lagi oleh inkwisisi. Setelah menyelesaikan studi teologinya, ia ditahbiskan menjadi imam bersama dengan beberapa sahabatnya dan memutuskan untuk tinggal di Yerusalem. Namun kemudian mereka dihadapkan pada ketidakmungkinan melakukan perjalanan ke Yerusalem. Mereka memutuskan untuk pergi ke Roma secara berkelompok. Beberapa kilometer sebelum mencapai kota Roma, Ignatius masuk ke kapel kecil La Storta, dan saat dia berdoa, “dia merasakan perubahan dalam batinnya dan melihat dengan sangat jelas bahwa Tuhan menempatkan dia bersama Kristus Putera-Nya. Ia sungguh tak berani meragukan bahwa Allah Bapa menempatkan dia bersama Putera-Nya.”


Visiun ini akan sangat menandai kehidupan Ignatius selanjutnya. Di Roma, di mana ia akan menghabiskan sisa hidupnya, Ignatius, bersama dengan kelompok sahabat, akan membangun Serikat Yesus dengan cara hidup religius dan apostolik yang baru. Saya, sekarang akan meringkas beberapa pembelajaran yang berkaitan dengan pengalaman La Storta ini.


5) Ignatius belajar mengatasi kekerasan dirinya

Jalan kerohanian Ignatius dimulai dengan cidera yang memaksanya berhenti dalam hidup, mengalami ketidakmampuan, hingga ketergantungan pada bantuan orang lain. Ini menunjukkan kepada kita betapa pentingnya kita memanfaatkan cidera atau pengalaman cannonball kita sendiri, yakni mengarahkan kita untuk berdiam diri, mencari keheningan, menerima ketergantungan pada orang lain serta pada Tuhan sendiri. Karena dengan demikian kita menghargai ketidakberdayaan kita agar kita hanya fokus serta berkonsentrasi pada apa yang benar-benar penting. Tampaknya kita mengalami hal serupa di masa pandemi Covid-19 yang lalu, bukan?


Tersembuhkan oleh belas kasih Allah, tersatukan dalam kehidupan Yesus dan dirangsang oleh cara hidup para kudus, Ignatius melangkah dan melanjutkan apa yang telah ditemukannya. Dari sikap keras hati tadi, ia kemudian memutuskan untuk bertranformasi dengan mendisiplinkan hidupnya dalam puasa, doa yang panjang dan segala macam matiraga. Sedikit demi sedikit, di Manresa, dia mulai memahami bahwa kekerasan dirinya menghalangi dia untuk dibimbing oleh Tuhan. Yang penting bukanlah dia atau tanggapannya, melainkan Tuhan, ciptaannya dan makhluk-makhluk-Nya. Pengalaman rohaninya ini menuntun dia keluar dari dirinya sendiri; Dia beralih dari yang awalnya berfokus pada dirinya sendiri, termasuk pada cara pandang dan kekuatannya sendiri, menuju pada penerimaan diri sendiri untuk mejadi alat di tangan Tuhan. Puncaknya datang pada pengalaman La Storta, di mana dia ditempatkan Allah Bapa bersama Putera-Nya yang sedang memanggul salib.


Pada tahap ini, Ignatius telah mengatasi semua kekerasan hati. Tidak ada ruang bagi kekerasan hati untuk bisa ikut ambil bagian dalam salib Kristus. Seperti yang dimaksudkan oleh Ignatius dalam konsiderasi Tiga Macam Kerendahan Hati di dalam Latihan Rohani, yang mengajak untuk terus-menerus memohon agar bersatu dengan Tuhan, agar bisa “lebih menyerupai dan melayani-Nya”.


Ignatius menemukan dorongan besarnya untuk siap dibentuk secara total oleh Yesus dan bekerja bersama Yesus. Dalam hal ini kita melihat karya Tuhan yang luar biasa dalam diri Ignatius, yang sepenuhnya menyatu dengan Tuhan dalam bentuk kerendahan hati yang ketiga. Ini bukan lagi hanya pergi berjalan bersama-Nya (seperti dalam merenungkan “Panggilan Raja”), melainkan dibentuk oleh seluruh proses Paskah Yesus sendiri, “sama artinya bagi kehormatan dan kemuliaan Allah yang mahaagung.” Ignatius dengan demikian telah belajar untuk mengubah cara hidup dan cara bertindaknya. Dia menanggalkan kekerasan hatinya, lalu menyerahkan dirinya pada Tuhan, membiarkan “ditempatkan bersama Putera”, memanggul salib bersama Kristus, dan berpartisipasi dalam Misteri Paskah-Nya. Ini adalah suatu rahmat.


6) Ignatius belajar menjadi pribadi yang pasrah dan membiarkan diri dituntun oleh Allah.

Dalam peziarahan rohaninya yang panjang, Ignatius menemukan pentingnya disposisi pasrah (ser pasivo) atau membiarkan dirinya dipimpin oleh Allah. Memang butuh waktu bertahun-tahun bagi Ignatius untuk menjadi dewasa dalam ketaatan kepada Roh. Dia amat terbantu dengan diskresi. Sebab melalui diskresi, dia bisa mengenali bahwa roh jahat secara halus mendorongnya ke egonya, dan rasa puas diri. Sebaliknya, roh baik menuntunnya untuk mematuhi kehendak Tuhan, membiarkan Allah terus seperti “guru menuntun murid-Nya.”


Pater Nadal mengatakan dengan baik, “Ignatius selalu mengikuti Roh Kudus, dia tidak pernah mendahuluinya. Dengan jalan itu, dia dituntun dengan lembut ke tempat yang dia tidak tahu. Sedikit demi sedikit jalan terbuka baginya dan dia setia berjalan di sepanjang jalan itu. Dia secara sederhana hanya menetapkan hatinya pada Kristus.”


Bagi kita, penting bahwa kepatuhan kepada Roh Allah ini, didapatkan dari pengalaman Latihan Rohani, lewat kebiasaan setiap hari, melalui pemeriksaan batin (examen conscientiae), pembuatan keputusan-keputusan, hidup berkomunitas, hubungan antarpribadi, gubernasi, cura personalis dan apostolis, pertemuan rutin tim dalam karya perutusan, pembuatan rencana dan evaluasi, dsb.


Benar bahwa kita zaman ini ditekan oleh budaya masyarakat yang kompetitif, dan itulah mengapa sangat sulit bagi kita untuk bisa mendengarkan dan patuh pada Roh Allah. Adalah penting bagi kita untuk bertekun dan “menanggalkan cinta diri, kehendak dan kepentingan sendiri” sehingga tinggallah kehendak-Nya bekerja dalam hidup kita.


7) Ignatius belajar memandang bahwa segala sesuatu adalah rahmat Tuhan

Ignatius dalam perjalanan rohaninya belajar menemukan kehadiran Tuhan tidak hanya dalam hal-hal yang baik, yang menyenangkan, tetapi juga dalam hal yang tidak menyenangkan, seperti lewat sakit, hinaan, dsb. Dalam Kontemplasi Panggilan Raja di minggu kedua LR, kita diajak untuk “rela menanggung segala kelaliman, segala penghinaan dan segala kemiskinan” agar dapat berjumpa dengan Kristus. Atau dalam aturan pembedaan roh, Ignatius menjelaskan bahwa desolasi dapat menjadi ruang bagi Allah untuk bertindak asalkan kita bertahan dalam kesabaran, mengenali kelemahan kita dan menerima bahwa kita sendiri tidak dapat mengandalkan diri sendiri serta bahwa kita membutuhkan rahmat Tuhan saja.


Ignatius juga belajar bahwa segala sesuatu adalah rahmat Allah melalui atau dengan jalan hidup miskin dan rendah hati. Pengalaman hidup miskin dibuatnya ketika melakukan perjalanan dengan berjalan kaki, bukan dengan menunggang kuda; tidur di “rumah sakit” bersama para tunawisma dan hidup dengan mengandalkan bantuan orang lain. Maka dari itu, lewat hidup miskin itu, dia menaruh pada belas kasih orang lain dan Tuhan sendiri. Ignatius menemukan bahwa kemiskinan harus dicintai bagaikan seorang ibu yang mengajari kita banyak hal penting dalam hidup: dengan itu kita akan diselamatkan dari rasa puas dan cukup diri; dari kelekatan pada rasa aman dan yang paling penting membantu kita membuka hati kita kepada orang miskin lainnya dan kepada Tuhan sendiri.


Bagi Ignatius, kemiskinan dan kerendahan hati jangan dilihat sebagai sebuah pencapaian, melainkan buah dari sikap hidup, yang perlu terus menerus diperbarui dan dikembangkan. Oleh karena itulah, dengan mengikuti gerak-gerak roh, saya telah mengundang seluruh tubuh Serikat untuk memperdalam semangat kemiskinan injili kita dan untuk memeriksa bagaimana kita menghidupi kaul kemiskinan dalam kondisi saat ini, dengan keberagaman konteks sosial yang sangat besar. Dalam surat saya pada 27 September 2021 yang lalu, saya mengatakan: “Dalam menunjukkan jalan kepada Allah, kita dituntut untuk mengadopsi cara bertindak Yesus sendiri. Yesus dari Nazareth, seorang manusia yang miskin dan rendah hati, adalah pribadi yang menampakkan kasih Allah yang tanpa syarat dan yang telah mengundang kita untuk hidup dalam kemiskinan injili, yang menuntun kita berjalan bersama orang miskin dan menempatkan diri kita dalam perutusan-Nya.”


P. Arturo Sosa, S.J.


Hari I: Consideratio Status
Panggilan dari Makassar. Fransiskus Xaverius Memutuskan ke Nusantara
Hari 2: Asas dan Dasar sebagai Jesuit