(Teks ini selalu relevan untuk kita baca kembali. Ajakan Paus Paulus V bagi kita untuk melihat kembali asas dan dasar panggilan Jesuit kita)


AMANAT Paus PAULUS VI KEPADA ANGGOTA KONGREGASI JENDERAL 32 pada 3 Desember 1974


Para Pater Serikat Jesus yang saya hormati dan kasihi,

Menjumpai Anda semua pada hari ini, meluaplah perasaan gembira sekaligus cemas ketika ingat saat KJ 31 dimulai pada 7 Mei 1965 dan pada 15 November tahun berikutnya ketika KJ 31 selesai. Saya begitu bergembira karena tidak terbendungnya luapan cinta yang tulus setiap kalj terjadi pertemuan antara Paus dan putra-putra St. Ignasius. Kegembiraan itu disebabkan terutama karena saya melihat kesaksian kerasulan Kristiani dan kesetiaan Anda kepada saya. Namun demikian, tetaplah muncul rasa cemas yang disebabkan karena hal-hal seperti yang akan saya jelaskan berikut ini. Pembukaan KJ 32 adalah peristiwa istimewa, dan memang sudah menjadi kebiasaan kita untuk mengadakan pertemuan semacam ini pada kesempatan seperti ini pula. Tetapi, pertemuan kali ini punya arti lebih historis dan jauh lebih luas jangkauannya. Pada hakikatnya, seluruh Serikat jgnasian-lah, yang saat ini berkumpul di Roma di hadapan Paus setelah perjalanan lebih dari empat ratus tahun dan sedang merefleksikan katakata profetis yang terdengar dalam penglihatan di La Storta, “Aku akan memperhatikan kamu di Roma,” (P. Tacchi-Venturi SJ, Storia della Compagnia di Gesu in Italia narrata col sussidio di fonti inedite, Vol. II, Bag. J, Roma, 1950, edisi ke-2, hlm. 4, n. 2; P. Ribadeneira, Vita lgnatii, Bab IX; Acta Sanctorum Julii, t. VII, Antwerpen, 1731, hlm. 683). .


Dalam hati, muncullah perasaan bahwa sekarang ini merupakan saat yang menentukan bagi Serikat. Dalam hati saya muncul segala kenangan, perasaan, dan firasat akan peranan Serikat dalam kehidupan Gereja. Berhadapan dengan Anda di sini sebagai wakil dari semua provinsi di seluruh dunia, terlihatlah seluruh keluarga St. Ignasius, terdiri atas kurang lebih 30.000 anggota, bekerja demi Kerajaan Allah dan memberikan sumbangan yang tak ternilai bagi karya-karya kerasulan dan misi Gereja, rohaniwan-rohaniwan yang menyerahkan diri bagi pemeliharaan jiwa-jiwa dan demi itu semua, bahkan hidup tersembunyi dan tak dikenal. Tentulah setiap anggota Serikat telah menyampaikan keinginan-keinginan terdalam hati mereka. Banyak telah terungkap dalam postulata dan karena itu, Anda sebagai wakil dari mereka, dituntut untuk memahami dengan teliti dan saling menghargai. Tetapi lebih dari sekadar hitungan jumlah, kami berpendapat bahwa harus juga diperhatikan dengan saksama bobot keinginan-keinginan tersebut, entah itu disuarakan atau tidak. Tak diragukan bahwa keinginan-keinginan itu sesuai dengan panggilan dan karisma khas Jesuit yang diwariskan lewat tradisi yang berkesinambungan, Sesuai dengan kehendak Allah, yang dengan rendah hati hendaknya dicari dalam doa, dan sesuai dengan kehendak Gereja seturut dorongan rohani yang dahulu, kini, dan kelak menopang Serikat.


Pada kesempatan ini, saya tegaskan bahwa saya mempercayai dan mencintai Anda dengan tulus. Saya yakin bahwa Anda mampu memperbarui diri dengan seimbang seperti yang kita semua harapkan.


Itulah maksud dan arti pertemuan pada hari ini, dan saya ingin semua ita Anda refleksikan. Gagasan saya dalam hal ini sudah saya sampaikan lewat surat, yang atas nama saya dikirim oleh Kardinal Sekretaris Negara pada 26 Maret 1970 dan 15 Februari 1973, dan juga lewat surat tertanggal 5 September 1973, In Paschae Sollemnitate, yang saya sampaikan kepada Pater Jenderal dan dengan perantaraannya kepada semua anggota Serikat.


Menyambung gagasan dalam surat tadi, yang saya harap sudah Anda dalami, seperti yang saya inginkan, kini saya ingin berbicara kepada Anda dengan penuh rasa cinta, tetapi juga dengan amat mendesak. Saya berbicara kepada Anda atas nama Kristus dan sebagaimana Anda sering menyebut saya sebagai pemimpin tertinggi Serikat, berdasarkan ikatan istimewa antara Serikat Jesus dan Bapa Suci semenjak lahirnya Serikat. Para Bapa Suci selalu menaruh harapan khusus pada Serikat Jesus.


Pada kesempatan KJ yang lalu, secara khusus Anda saya serahi tugas untuk membendung ateisme, sebagai ungkapan modern kaul ketaatan Anda kepada Bapa Suci (AAS 57, 1965, hlm. 514; 58, 1966, hlm. 1177). Pada hari ini, saya dengan penuh harapan, kembali berpaling kepada Serikat, mulai saat ini, dengan disaksikan oleh seluruh Gereja, untuk meneguhkan dan menggerakkan refleksi-refleksi Anda. Kami memandang Anda sebagai keseluruhan, satu keluarga religius besar yang bersama-sama berhenti sejenak, untuk menentukan jalan yang hendak ditempuh. Pada detik-detik penuh harap dan penantian yang menegangkan ini, saya mendengarkan “apa yang dikatakan Roh” kepada kita semua (bdk, Why 2:7); muncullah dalam hati saya tiga pertanyaan yang harus dijawab, “Dari manakah Serikat berasal? Siapakah Serikat itu? Hendak ke manakah Serikat?”


I. MAKA, “DARI MANAKAH SERIKAT BERASAL?”


Pikiran saya melayang ke abad ke-16, zaman begitu kompleks, zaman peletakan dasar-dasar peradaban dan kebudayaan modern, zaman Gereja terancam oleh perpecahan dari dalam tubuhnya, memasuki masa baru, masa pembaruan religius dan sosial, yang didasarkan pada doa dan cinta kepada Tuhan dan sesama manusia, mencari kesucian asli yang sejati. Pada zaman itu pula lahir pemikiran baru tentang manusia dan dunia yang meskipun bukan humanisme yang paling murni, namun menggoda untuk menempatkan Allah di luar perjalanan hidup dan sejarah. Pada waktu itu dunia memperoleh dimensi baru dari penemuan-penemuan geografis baru. Karena itu, dalam banyak segi dan aspeknya seperti kekalutan, pemikiran baru, penelitian, pembangunan, dorongan, aspirasi, dan lain-lainnya, tidak jauh berbeda dengan zaman kita saat ini.


Di tengah dunia yang penuh gejolak namun juga penuh harapan itu, tampillah tokoh St. Ignasius. Ya, dari mana asalmu? “Bagaikan suara samudra” (Why 1:15), terdengarlah oleh kami, suara yang menggelegar dari abad-abad yang telah jauh silam, seruan serentak saudara-saudara Anda, "Kami berasal dari Ignasius Loyola, Bapa Pendiri kami. Kami berasal dari dia yang mewariskan ciri tak terhapuskan, tidak hanya kepada Ordo yang didirikannya, tetapi juga pada spiritualitas dan gerak kerasulan Gereja.”


Bersama dia, kami berasal dari Manresa, dari gua suci saksi pendakian setapak jiwanya yang besar, yaitu dari kedamaian jernih seorang pemula lewat pemurnian dalam “malam jiwa,” menuju ke puncak rahmat mistik, tempat ia mendapat karunia penglihatan Tritunggal Mahasuci (cf. Hugo Rahner, Ignatius von Loyola und das geschichtliche Werdenseiner Frommigheit, Graz 1947, Bab III),


Di sana pula pada waktu itu, lahir garis-garis pokok pertama Latihan Rohani, yang kemudian selama berabad-abad membantu sedemikian banyak orang, mengarahkan kepada Allah dan antara lain, mengajak manusia bagaimana “dengan jiwa besar dan terbuka bersikap terhadap Allah Sang Pencipta,” mempersembahkan kehendak dan kebebasannya, sehingga Allah Yang Mahamulia dapat menggunakan manusia dan semua yang ada padanya sesuai dengan apa yang berkenan pada Tuhan, (Annotaciones, 5; Monumenta Ignatiana, series secunda; Exercitia Spiritualia S. Ignatii de Loyola et eorum Directoria, nova editio, t. I, Exerc, Spir.; MHSI, Vol. 100, Roma, 1969, hlm. 146).


Dengan St. Ignasius, jawab Anda kepada saya sekali lagi, “Kami datang dari Montmartre, tempat Bapa Pendiri kami, pada 15 Agustus 1534, sehabis kurban Misa yang dipersembahkan oleh Petrus Faber, bersama Faber dan Fransiskus Xaverius, yang pestanya hari ini kita rayakan, bersama Salmeron, Lainez, Rodriguez, dan Bobadilla, mengucapkan kaul, yang bagaikan kuncup bunga pada musim semi dan kemudian di Roma berkembang menjadi Serikat” (Lihat P. Tacchi-Venturi, op. cit., Vol. II, part I, hlm. 63 dst.).


Sekali lagi dengan St. Ignasius—jawab Anda selanjutnya—kami kini berada di Roma; dari sini pula kami bersama-sama berangkat dengan dikuatkan oleh berkat pengganti Petrus, sejak zaman Paulus III, yang setelah mendengarkan pembelaan yang berkobar-kobar dari Kardinal Gaspare Kontarini pada September 1530, memberikan persetujuan pertama secara lisan, pengantar Bulla Regimini Ecclesiae Militantis dari tanggal 27 September 1540, yang dengan kekuasaan tertinggi Gereja, mengesahkan berdirinya Serikat imam baru. Menurut hemat kami, kekhasan Serikat baru ialah kenyataan bahwa Serikat dapat menangkap secara tepat kebutuhan akan orang-orang yang sepenuhnya siap, mampu melepaskan diri dari berbagai hal untuk mengemban setiap tugas perutusan yang mungkin diberikan oleh Bapa Suci, karena pendapatnya diperlukan demi kepentingan Gereja, dengan selalu menjunjung tinggi dan mengutamakan kemuliaan Tuhan: ad maiorem Dei gloriam. Tetapi St. Ignasius masih melihat lebih jauh dari apa yang dituntut bagi masa itu, seperti yang disebutkan pada akhir Quinque Capitula atau Sketsa Pertama Lembaga Serikat Jesus, “Inilah hal-hal yang dapat kami terangkan mengenai pekerjaan kami dalam semacam sketsa. Kami melengkapi keterangan ini agar dengan demikian kami dapat memberikan penjelasan kepada orang yang bertanya tentang cara hidup kami, dan juga kepada mereka yang kemudian akan mengikuti kami, bila Tuhan menghendaki kami mendapat pengikut dalam jalan ini.” (P. Tacchi-Venturi, op. cit. Vol. I, part II, Roma, 2 ed., 1931, hlm. 189).


Demikianlah yang dikehendaki oleh para pendahulu Anda, demikianlah seharusnya Anda. Maka dapat dikatakan bahwa rangkaian kejadian itulah yang akan memberikan definisi kepada Serikat. Definisi itu digali dari sumber-sumber Serikat. Definisi itu pulalah yang memberi petunjuk tentang garis-garis konstitusional Serikat dan memberikan kekuatan hidup yang telah menopang Serikat sepanjang masa.


II. SEKARANG KAMI TAHU, “SIAPAKAH SERIKAT ITU?”


Seperti telah saya rumuskan dalam surat In Paschae Sollemnitate, Anda adalah anggota sebuah ordo yang religius, rasuli, imami dan terikat pada Paus di Roma atas dasar ikatan cinta dan pengabdian yang khusus seperti disebutkan di dalam Formula Instituti.


Anda adalah “religius.” Karena itu anda adalah pendoa, pengikut injili Kristus, dan dijiwai dengan semangat adikodrati dijamin dan dilindungi kaul religius: kemiskinan, kemurnian, dan ketaatan. Kaul itu bukannya perintang kemerdekaan pribadi, seolah-olah merupakan peninggalan masa yang telah silam. Sebaliknya, kaul itu memberikan kesaksian niat jelas untuk mencari kemerdekaan, sesuai dengan semangat Sabda di bukit. Dengan kesanggupan-kesanggupan itu orang yang dipanggil—seperti ditegaskan oleh Konsili Vatikan II “Supaya dapat memperoleh buah-buah rahmat baptis yang lebih melimpah... dibebaskan dari rintangan-rintangan yang mungkin menjauhkannya dari cinta kasih yang berkobar dan dari esempurnaan bakti kepada Allah, dan secara lebih erat ia disucikan untuk mengabdi Allah” (LG 44; PC 12-14). Sebagai religius, Anda rela hidup keras untuk mengikuti jejak Putra Allah “yang mengosongkan dirinya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba” (Flp 2:7) dan yang “oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya” (2Kor 8:9). Sebagai religius—seperti yang telah saya tulis dalam surat di atas—Anda harus menjauhkan “semua bentuk kompromi dengan hal-hal duniawi yang sedemikian jelas tampak pada sedemikian banyak segi perilaku modern.” Anda wajib menerima dan menghayati secara tabah dan berani, sebagai teladan mempelopori— “nilai asketis dan formatif dari hidup bersama” dengan tetap mempertahankan kemurniannya terhadap kecenderungan individualisme dan ego diri.


Anda adalah “rasul,” pewarta Injil, yang diutus ke berbagai tempat, seturut karisma khas Serikat. Anda adalah orang yang diutus oleh Kristus sendiri ke seluruh dunia untuk mewartakan ajaran-Nya yang suci kepada semua orang dalam situasi dan keadaan apa pun juga (Bdk. LR, 145; lih. MHSI Vol. 100, Roma, 1969, hlm. 246). Inilah kharisma khas yang tak tergantikan pada diri seorang Jesuit sejati yang dalam Latihan Rohani dan dalam Konstitusi menjumpai ajakan terus-menerus untuk menghayati hal-hal penting yang khas padanya, keutamaan-keutamaan yang ditunjukkan oleh St. Ignasius, yaitu dengan sekuat tenaga selalu mencari yang lebih baik, yang magis, yang lebih besar (bdk. Criteria, normae generalis dalam Konstitusi). Dari sumber-sumber itulah, motivasi terdalam hidup merasul yang harus dihayati sepenuh-penuhnya ditimba oleh berbagai karya pelayanan Serikat.


Demikian pula Anda adalah “imam.” Ini juga merupakan ciri mutlak Serikat, tanpa mengabaikan tradisi lama dan sah untuk menerima para Bruder, yang tidak menerima tahbisan suci namun mempunyai peranan terhormat dan efektif dalam Serikat. Namun ciri imam tetap dituntut oleh pendiri bagi semua anggota religius profes; ini pun dengan alasan tepat karena imamat adalah mutlak perlu bagi ordo yang didirikan dengan tujuan pokok demi penyucian sesama manusia lewat Sabda dan sakramen sakramen. Memang ciri imam ini menuntut dedikasi Anda dalam hidup aktif—sekali lagi saya tegaskan dalam arti sepenuh-penuhnya (pleno sensu). Atas dasar kharisma ordo imami, yang menyerupakan manusia dengan Kristus yang diutus oleh Bapa, terutama timbul ciri apostolis tugas perutusan, yang Anda pikul sebagai Jesuit. Maka, Anda adalah imam terlatih dalam “keakraban dengan Tuhan,” yang dikehendaki Ignatius supaya hal ini menjadi dasar Serikat; imam yang mengajar, dengan gratia sermonis—karunia rahmat berbicara (bdk. Monumenta Ignatiana, Sancti Ignatit de Loyola Constitutiones Societatis Jesu, tomus III, textus latinus, hlm.1, c. 2, 9 (59-60); MHSI, Vol. 65, Roma, 1938, hlm. 49); imam yang mencurahkan tenaga “supaya Firman Tuhan beroleh kemajuan dan dimuliakan” (2Tes 3:1). Anda adalah imam yang membagikan rahmat Allah dengan pelayanan sakramen-sakramen, imam yang diberi kuasa dan mempunyai kewajiban untuk ikut serta secara organis dalam karya kerasulan, menjamin kelangsungan dan mempersatukan komunitas Kristiani, terutama dengan merayakan Ekaristi. Jadi, Anda itu imam yang sadar sepenuhnya—seperti saya katakan dalam salah satu amanat pada tahun 1963—bahwa “ada hubungan sebelum dan sesudahnya antara imam dan Ekaristi, ketika imam berlaku sebagai pelayan terhadap Sakramen agung, menjadi penyembah yang utama, mengajarkan dengan bijaksana dan membagikannya dengan tak jemu-jemunya” (Amanat bagi para klerus Italia pada Pekan Nasional XIII mengenai Pembaruan Pastoral, 6 September 1963: AAS 55 (1963), hlm. 754).


Akhirnya Anda “dipersatukan dengan Bapa Suci” di Roma dengan ikatan kaul khusus. Karena kesatuan dengan Pengganti Petrus, yang merupakan ciri khas anggota Serikat, telah memberikan jaminan kepada Serikat Jesus, yang kemudian terlihat sebagai tanda kebersatuan Anda dengan Kristus, Pemimpin utama dan tertinggi Serikat, yang ditandai dengan nama-Nya pula.


Kebersatuan dengan Bapa Suci itulah yang menjamin Serikat menjadi sungguh merdeka, artinya bergerak di bawah bimbingan Roh, siap untuk melakukan segala macam tugas perutusan, bahkan yang serba sulit dan di tempat yang amat jauh, tidak terbelenggu oleh batasan waktu dan tempat, Penuh semangat Katolik dan nilai-nilai universal. Dalam rangkaian keempat ciri tadi, saya melihat kelimpahan segala kekayaan mengagumkan dan keluwesan yang merupakan ciri Serikat sepanjang masa, selaku Serikat “para utusan” Gereja. Dari situ asal penyelidikan dan pengajaran teologi, dari situ pula sumber kerasulan kotbah, pelayanan rohani, penerbitan buku dan tulisan, bimbingan kelompok dan pembinaan lewat Sabda Allah dan Sakramen pengampunan, sesuai dengan tugas khas dan khusus yang diwariskan kepada Anda oleh Pendiri Serikat yang suci. Dari situ timbul kerasulan sosial serta kegiatan intelektual dan kultural, dari sekolah-sekolah, untuk pendidikan kaum muda yang kukuh dan lengkap sampai pada tingkatan lembaga universitas dan penyelidikan ilmiah. Dari situ juga Ignasius memberikan pesan kepada para putranya sebagai salah satu tujuan utamanya: puerorum ac rudium in christianismo institutio (pengajaran agama kristiani kepada anak-anak dan kaum buta huruf), sudah sejak ia mulai menulis Quinque Capitula atau Sketsa Pertama. (bdk. P. TacchiVenturi, op. cit. , Vol. I, Bag. II, hlm. 183). Dari situ, timbul misi-misi bukti nyata dan hidup perutusan Serikat. Dari situ timbul keprihatinan kepada kaum miskin, orang sakit, orang-orang pinggiran, dan terbuang dari masyarakat. Di berbagai tempat dalam Gereja, bahkan di bidang-bidang yang paling gawat dan di garis depan, dalam persimpangan ideologi-ideologi, dalam garis depan pergulatan sosial, tempat munculnya konfrontasi antara tuntutan manusia paling dalam dan amanat Injil yang abadi, di sana Jesuit sudah dan selalu berada. Serikat erat terlibat dan menyatu dengan umat Gereja, dalam bermacam-macam karya yang direksa, dengan selalu memperhitungkan bahwa semua itu mutlak perlu dipersatukan oleh tujuan yang satu, yaitu demi kemuliaan Tuhan dan pengudusan manusia, tanpa membuang-buang tenaga hanya untuk mencapai tujuan-tujuan yang kurang berarti.


Mengapa Anda ragu-ragu? Anda memiliki spiritualitas yang bersendi kuat, beridentitas jelas, dan berabad-abad sudah teruji berdasarkan metode-metode sah, yang meski telah melalui saat kritis sejarah, masih tetap membawakan ciri semangat St. Ignasius yang kuat. Maka sama sekali tidak perlu disangsikan lagi kenyataan bahwa semakin setia mendalam pada jalan yang sampai sekarang ditempuh, pada karisma khas, akan tetap merupakan sumber kesadaran rohani dan kerasulan. Benarlah bahwa sekarang di dalam Gereja, tersebar godaan khas zaman sekarang seperti kesangsian sistematis, ketidakpastian akan identitas kita, keinginan untuk berubah, kebebasan dan individualisme. Kesulitan yang telah Anda sadari itu mencekam seluruh umat Kristiani pada umumnya, berhadapan dengan perubahan budaya mendalam yang sungguh menyentuh rasa hakiki akan Allah, Anda mengalami kesulitan-kesulitan rasul zaman sekarang, yang merasakan dambaan mewartakan Injil, dan kesukaran untuk menerjemahkan ke dalam bahasa yang dapat dimengerti oleh manusia modern. Kesukaran ini pulalah yang dialami oleh ordo-ordo religius lain. Saya memahami keraguan dari kesukaran yang sementara ini Anda rasakan. Anda menempati garis depan pembaruan dari dalam, yang terutama setelah Konsili Vatikan II dihadapi oleh Gereja di dunia yang ditandai oleh sekularisasi. Serikat Anda boleh dikata merupakan batu ujian bagi vitalitas Gereja sepanjang abad. Pada Serikat, dapat terbaca makna pergolakan zaman dengan segala macam persoalan, percobaan, permulaan usaha, kelangsungan dan keberhasilan seluruh Gereja, yang saling berhimpitan.


Pastilah saat ini adalah saat krisis yang membawa derita, dan mungkin krisis pertumbuhan, seperti kerap disebut juga. Namun saya sebagai wakil Kristus, yang wajib “menguatkan saudara dalam iman” (bdk. Luk 22:32), dan juga Anda, yang memikul tanggung jawab berat untuk secara sadar mewakili aspirasi-aspirasi anggota yang lain, kita semua harus waspada, jangan sampai penyesuaian yang memang perlu, merongrong identitas dasar dan ciri pokok peranan Jesuit sebagaimana digambarkan dalam formula Institusi, seperti ditawarkan oleh sejarah serta spiritualitas khas ordo, dan seperti tampaknya dituntut oleh interpretasi yang benar atas kebutuhan-kebutuhan zaman. Gambaran itu jangan sampai dirusak.


Janganlah disebut tuntutan apostolis sesuatu yang tak lebih dari pada kemerosotan rohani belaka. Dengan jelas Ignatius memberi pesan, bahwa setiap anggota Serikat, yang diutus untuk melakukan tugas kerasulan harus dengan segala daya upaya berusaha memerhatikan keselamatan diri selagi memperjuangkan keselamatan sesama. Tidak hanya keliru dan berdosa, walau demi suatu hasil rohani betapa pun besarnya itu, jika menempatkan diri dalam bahaya dosa (Monumenta Ignatiana, series prima, S. Ignatii de loyola Epistolae et Instructiones, tom XII fasc II: MHSI, Annus 19, fasc. 217, Januari 1912, Madrid, hlm. 251-252). Bila Serikat bermain api atau terjerumus ke dalam jalan penuh bahaya yang tidak semestinya, maka mereka yang dalam berbagai cara sangat tergantung pada Jesuit dalam pembinaan Ktistiani juga sangat ikut dirugikan.


Sebagaimana saya, Anda menyadari bahwa muncul di berbagai bagian tingkatan hidup adanya ketidakpastian yang kuat, bahkan suatu pertanyaan mendasar tentang identitas Anda. Gambaran Jesuit seperti yang telah saya gambarkan beberapa aspek pokoknya, dari sendirinya adalah pemimpin rohani, pendidik orang sezaman dalam kehidupan Katolik, sesuai dengan peranan khasnya, seperti saya sebutkan di atas, sebagai imam dan rasul. Tetapi sekarang saya bertanya, dan Anda bertanya pula pada diri Anda sendiri, dalam rangka mencari kejelasan secara sadar dan peneguhan yang meyakinkan; bagaimana keadaan hidup doa, kontemplasi, kesederhanaan hidup, kemiskinan, dan penggunaan sarana-sarana adikodrati? Sejauh mana Anda mau menerima dan memberi kesaksian setia terhadap pokok-pokok dasar iman katolik dan ajaran moral, seperti digariskan oleh magisterium Gereja? Bagaimana kemauan untuk bekerja sama penuh percaya dengan tugas Bapa Suci? Bukankah “awan yang menutupi cakrawala” yang saya lihat pada tahun 1966, meskipun “sebagian besar sudah dihalau” oleh KJ 31 (AAS 58, 1966, hlm. 1174), namun sayangnya hingga kini masih tetap membayangi Serikat? Beberapa kejadian yang patut disesalkan dan yang menyebabkan pertanyaan apakah dia masih tetap anggota Serikat, telah terlalu kerap terjadi dan dari pelbagai pihak disampaikan kepada saya, terutama dari para uskup. Kejadian-kejadian itu membawa pengaruh jelek pada klerus, pada religius lain dan awam Katolik. Peristiwa-peristiwa itu patut disesalkan oleh kita semua. Tentu tidak cukup hanya menyesal, melainkan dengan maksud untuk mencari bagaimana mengabdi, agar Serikat tetap, atau kembali pada yang semestinya dan seharusnya, menjawab maksud Pendiri dan harapan Gereja pada masa sekarang. Memang diperlukan adanya studi mendalam tentang Serikat diperlukan mengalami dan memahami keadaan beserta umat manusia. Tetapi diperlukan juga—dan ini saya tekankan—rasa rohani, penilaian iman pada hal-hal yang harus kita lakukan dan pada jalan yang harus kita tempuh, dengan tak lupa tetap mengindahkan kehendak Allah yang menuntut kesediaan tanpa syarat.


III. OLEH KARENA ITU, “HENDAK KE MANAKAH SERIKAT?”

Pertanyaan itu harus dijawab. Sebetulnya Anda sendiri sudah lama menanyakan, dengan sadar, meski mungkin bukan tanpa risiko.

Tujuan yang Anda kejar, dan tepatlah dikatakan bahwa Kongregasi Jenderal ini merupakan tanda zaman atas tujuan tersebut, tidak boleh tidak haruslah mengusahakan pembaruan yang sehat, berimbang, dan taat dengan kerinduan zaman sekarang dengan tetap setia kepada ciri khas Serikat dan menghormati karisma pendiri Serikat. Inilah yang dimaksud oleh Konsili Vatikan II dengan dekret Perfectae Caritatis, yang menghendaki “terus-menerus kembali ke sumber-sumber seluruh hidup Kristiani, serta inspirasi tarekat yang mula-mula, dan penyesuaiannya dengan kenyataan zaman yang sudah berubah” (n. 2). Dengan penuh rasa percaya, Saya ingin menyemangati dan mendorong supaya Anda tetap mengikuti perkembangan zaman. Namun saya tetap mengingatkan Anda, seperti secara umum telah saya sebutkan dalam amanat apostolik Evangelica Testificatio, n. 5, bahwa pembaruan yang sedemikian tidak akan mencapai sasaran bila menyimpang dari identitas khas tarekat Anda yang begitu jelas digariskan dalam anggaran dasar yaitu Formula Institusi. Seperti saya katakan, “Bagi makhluk hidup, menyesuaikan diri pada keadaan sekitar tidak berarti meninggalkan identitas sendiri tetapi justru memperjelas diri dan daya hidup sendiri. Pemahaman mendalam arus masa sekarang dan kebutuhan-kebutuhan dunia modern harus menjadi sumber kekuatan dan kesegaran baru Anda. Ini merupakan tugas mulia, justru karena sukar” (AAS 63 (1971), hlm. 523).


Maka dengan sepenuh hati saya mendorong Anda untuk mengadakan pembaruan seperti diharapkan Gereja, jelas dan tak dapat ditawar! Tetapi bersamaan dengan itu pula, kita sadar bahwa itu memang penting dan sekaligus mengandung risiko.***




Hari II: Asas dan Dasar sebagai Jesuit
Menjalani Missio Dei di Maluku. Catatan Beberapa Yesuit Perintis
Hari 3: Kesiapsediaan Apostolis dalam Missio Dei