Catatan: Beberapa tahun yang lalu, pada masa kepausan Paus Benediktus XVI, mendiang Pater Jenderal Nicolás Adolfo membuat coretan tentang poin-poin yang kemungkinan disampaikan di surat yang akan ditujukan kepada seluruh anggota Serikat. Meskipun Pater Nicolás akhirnya tidak pernah menulis surat itu, dia membagikan poin-poin tersebut dengan beberapa teman. Teks berikut, meski masih dalam bentuk kasar dan tidak resmi, mengungkapkan dengan jelas arah pemikirannya. Atas seizin Pater Nicolás, kami membagikannya sekarang.


Dari Distraksi ke Dedikasi:
Sebuah Ajakan Untuk memasuki Pusat


Untuk beberapa waktu, kita para religius, bertanya- tanya tentang kehidupan kita di Gereja dan tentang kekuatan serta daya tarik kesaksian kita. Orang tidak memerlukan wawasan yang luar biasa atau suatu analisa yang mendalam untuk menyadari bahwa apa yang kita sebut sebagai "kehidupan religius" telah kehilangan pengaruhnya baik di dalam maupun di luar Gereja. Tentu saja tidak menyeluruh. Beberapa kelompok religius telah mempertahankan dan bahkan meningkatkan kredibilitas mereka dengan menampilkan kesejatian hidup mereka, pelayanan mereka kepada orang miskin, atau kedalaman doa mereka. Namun, pertanyaannya tetap ada. Apa yang telah hilang dari diri kita? Di mana letak kesalahan kita? Apakah kita keliru dalam memahami seruan untuk pembaruan kita? Apakah kita melangkah tanpa tujuan?


Kisah klasik para kudus sebagai model


Saya membaca kembali beberapa kisah klasik dari kehidupan para religius zaman dahulu: Ignatius dari Loyola, Fransiskus Xaverius, Yohanes dari Salib, Teresa dari Avila. Dari mereka saya menemukan kebaharuan. Pengalaman ini seperti membawa pulang ke rumah, kembali ke asal-usul, kepada cinta pertama, ketika saya pertama kali berpikir bahwa ada sesuatu yang berharga untuk diberikan dalam hidup saya. Saya terus bertanya pada diri saya sendiri: Kiranya apa yang ada dalam diri mereka yang sekarang ini telah hilang dalam diri kita? Saya rasa itu adalah keterpusatan total pada diri mereka. Mereka telah ditangkap oleh Roh, api, kehidupan dan cara Kristus, dan mereka tinggal tetap di situ, benar-benar terpusat, menelisik kedalamannya, membangun kembali seluruh hidup mereka di sekitar pusat yang baru ini. Mereka benar-benar membumi dalam pengalaman ini dan menghayati yang lainnya, terbakar bersamanya, berbagi nyala api dan cahaya dengan yang orang lain. Mereka menjadi cahaya bagi suatu generasi yang mencari kedalaman yang sama atau yang merasa terkejut dengan keberadaan kedalaman tersebut. Kisah "Klasik" (istilah yang rasanya lebih baik) ini benar-benar terpusat. Di samping para kudus ini, kita tampaknya sangat dan, jika anda mengizinkan saya mengekspresikan, begitu bodoh “terdistraksi”.


Menyangkut hal inilah saya ingin membagikan beberapa refleksi. Harap diperhatikan bahwa saya tidak menulis sebagai salah satu dari para kudus ini. Mereka tahu tentang Tuhan dan menulis tentang bagaimana masuk ke dalam inti kehidupan Tuhan. Saya sendiri tahu tentang destraksi–dan mungkin hampir ahli di dalamnya - dan akan menulis dari apa yang saya pahami.


Dari "terdistraksi dalam doa" menjalar ke "terdistraksi dalam hidup"


Distraksi selama waktu doa menjadi perhatian besar dalam tahun-tahun awal kehidupan religius saya. Ketika berada di novisiat yang terpencil, hampir tersembunyi, di masa lalu, kami mencoba menemukan dalam perjalanan kehidupan kami untuk dikatakan dalam pengakuan mingguan, pengalaman distraksi (gangguan) dalam pengalaman doa membutuhkan pertolongan. Saya membutuhkan waktu bertahun-tahun dalam perjuangan dan juga (mengalami) kegagalan, untuk menyadari bahwa gangguan yang sebenarnya adalah dalam hidup saya sendiri, bukan dalam doa saya. Hal tersebut mengganggu saya hampir di setiap bidang kehidupan, pekerjaan, atau studi saya. Tidak mengherankan jika doa-doa saya mengalami gangguan yang sama. Bagaimana saya bisa memusatkan doa- doa saya, ketika pikiran dan hati saya terganggu dengan begitu banyak hal?


Kesadaran ini membuka lebar-lebar pintu menuju sikap waspada dan kepada salah satu sarana doa tradisional Ignatian: Examen. Saya, seperti banyak teman dalam hidup religius, bukanlah orang jahat. Kita adalah orang-orang yang layak, orang- orang yang berusaha sebaik mungkin untuk melakukan dengan baik apa yang diminta untuk kita lakukan, dari berdoa untuk mengajar, bermain sepak bola, hingga membantu dalam liturgi Pekan Suci. Kita bahkan dapat bernyanyi dengan baik. Tetapi kita mengalami distraksi. Dan saya dapat melihat hal itu, (terlebih) setelah membaca kembali kisah para pendahulu kita itu.


Godaan mudah terdistraksi


Patut diperhatikan, bahwa secara pribadi saya tidak ingin menyalahkan siapa pun. Jika kita mengalami distraksi, hal itu dikarenakan memang gangguan tersebut ada di sekitar kita. Distraksi atau gangguan tersebut biasanya menyangkut pada "akal sehat" akan komunitas manusia di mana pun. Seringnya, destruksi atau gangguan- gangguan terjadi pada "akal sehat", oleh karenanya jika Anda tidak mengikutinya, maka Anda akan dianggap aneh, tidak dapat diandalkan, bahkan terkadang dianggap tidak loyal terhadap kelompok.


Saya akan menyertakan di sini semua faktor yang termasuk dalam pengelompokan sosial, etnis, atau budaya. Sayangnya, tidak sulit untuk menemukan para religius yang terkait dengan pengelompokan- pengelompokan semacam itu, yang telah memproyeksikan kepada diri mereka atau ke "penyebab" yang terbatas dari semua idealisme masa muda mereka, sehingga mereka akhirnya menjadi pemimpin yang terbatas juga pada kepentingan sosial, etnis atau budaya. Dan ini adalah distraksi yang besar; sesuatu yang tidak pernah saya lihat dalam diri salah satu "para kudus" zaman lalu.


Distraksi mudah lainnya adalah identifikasi emosional dari kelompok yang menderita semacam kompleksitas. Apa yang saya pikirkan adalah kelompok-kelompok yang, di masa lalu, telah menderita penindasan atau ketidakadilan, dan sekarang menggunakan pengalaman yang benar-benar buruk itu sebagai alasan untuk mengklaim keadaan diri sebagai “korban” abadi. Kadang-kadang kelompok yang telah terpinggirkan di masa lalu itu dapat menggunakan hal ini sebagai pengaruh untuk hidup dalam situasi istimewa selamanya. Oleh karena orang-orang yang dikuduskan biasanya memiliki hati yang baik, mereka rentan terhadap gangguan semacam ini.


Dengan kata lain, kaum religius yang ingin mewakili Injil Yesus Kristus cenderung lemah dalam ideologi dan pemikiran ideologisnya. Kami mengalami kesulitan dengan ambiguitas dan realitas wilayah abu-abu ini. Kita sendiri terlatih untuk berkomitmen secara total, kita dengan mudah memproyeksikan kebenaran total pada komitmen apa pun di mana kita merasa terpanggil, dan menjadikan kita buta terhadap nuansa-nuansa yang ada, ambiguitas, bahkan kontradiksi dari "hitam-putih" pandangan dunia ini. Selama beberapa tahun dalam kongregasi-kongregasi religius termasuk di sini Serikat kita sendiri - kita terbagi antara mereka yang berada (bergerak) di sektor-sektor sosial dan mereka yang berada di bidang pendidikan; antara mereka yang melayani orang miskin dan mereka yang melayani kaum elit. Kita membenarkan, atau mencoba untuk membenarkan, pilihan-pilihan secara teologis, tanpa menyadari bahwa ini benar-benar lebih ke ideologis.


Distraksi yang luar biasa! Kita tidak selalu paham bahwa ‘option for the poor’ adalah pilihan yang didasari oleh cinta, dari hati, dari dalam (diri kita), sebagaimana ketika Yesus merasakan belas kasihan kepada orang banyak yang miskin. Option for the poor ini tidak dapat "dituntut" dari orang lain, karena hal itu harus datang dari dalam hati. Tanpa wawasan yang penting ini, kita menerjemahkan "opsi preferensial" ini sebagai "kewajiban moral" dan merasa dibenarkan untuk menuntut hal ini juga dari semua orang, di bawah ancaman menganggap mereka kurang Kristiani, kurang berkomitmen, kurang injili. Atau lebih ekstremnya, kita bahkan tidak bisa berurusan dengan mereka sebagai saudara; (karena) mereka (dianggap) adalah pengkhianat Injil.


Perfeksionisme sebagai distraksi narsistik


Orang seharusnya tidak berpikir bahwa semua gangguan datangnya dari luar. Setidaknya, satu berasal dari pencarian yang sangat religius akan kebaikan, ketaatan kepada Tuhan dan perkembangan rohani. Kita menyebutnya dengan "perfeksionisme" dan melukisnya dengan warna berbeda dari berbagai zaman dan konteksnya. Ini adalah distraksi/gangguan lama, tetapi selalu mematikan bagi wawasan dan kehidupan religius. Santo Paulus, bersama dengan jemaat Kristen perdana, bereaksi terhadap ekses-ekses yang sangat khusus dan muncul dari beberapa kelompok yang sangat berkomitmen, sebutlah (kaum) "Farisi". Kita telah menjumpainya dan berkanjang dengannya selama berabad- abad; dan kita merasa bahwa hal itu bukanlah masalah di zaman para rasul saja, tetapi telah menjadi godaan, distraksi yang nyata, hampir di setiap waktu.


Psikologi modern menaruh perhatian besar pada fenomena menyangkut perhatian khusus untuk diri sendiri, untuk citra diri sendiri, untuk penampilan, atau persepsi orang banyak. Ada yang menyebutnya dengan "narsisme". Fenomena ini tentu cocok dengan jenis distraksi/gangguan yang sedang kita hadapi. Kita terganggu, secara paradoks, oleh dorongan kita sendiri untuk mengejar kesempurnaan. Di sini pengalaman hidup para kudus zaman dahulu sangat membantu. Pria dan wanita ini mengikuti Kristus tanpa syarat dalam kenosisnya, dalam pengosongan dirinya, dan karena itu tidak terganggu oleh apa pun dari diri mereka yang dapat menghalangi usahanya itu. Mereka bahkan menggunakan bahasa yang secara logis “berlebihan” untuk mengekspresikan totalitas konsentrasi mereka: “Saya bahkan berhasrat bahwa saya menderita kutukan karena disingkirkan dari Kristus”..., “no me mueve, mi Dios, para quererte”..., “ nada, nada, nada "...,”kerendahan hati ketiga ..., "percaya bahwa putih yang kulihat adalah hitam" ..., dan seterusnya.


Bagi kita Jesuit, distraksi/gangguan perfeksionisme ini bisa begitu sangat halus. Tidaklah sulit untuk mendeteksinya dalam diri kita sendiri atau orang lain, tetapi lebih sulit untuk mengidentifikasinya dalam kelompok atau di lembaga tempat kita berkarya. Gangguan dasar semakin diperumit oleh “gangguan tambahan lainnya” seperti persaingan/kompetisi, kebutuhan kompulsif untuk selalu up-to-date (kekinian) dalam teknologi, untuk memiliki gadget elektronik, untuk menggunakan kemungkinan komunikasi yang baru, dan lain sebagainya. Suatu lembaga dapat cenderung membuat “perfeksionisme”,norma yang dipakai untuk mengukur kemajuan dan jaminan masa depan dalam dunia pasar yang ketat. Tidak mengherankan bahwa, kecuali selama perayaan Pekan Suci, kita tidak pernah merayakan “kegagalan dalam Kerajaan Allah” dengan mengikuti Yesus Kristus. Sebaliknya, kita selalu dan hanya merayakan kesuksesannya saja. Bukankah hal ini juga berkontribusi dalam distraksi sehingga mengambil pilihan yang salah?


Ego sebagai Gangguan Nomor Satu


Tentu saja, gangguan terbesar dan terpusat dari semua adalah diri/kedirian kita. Ego kita tidak pernah beristirahat dan akan selalu menarik perhatian kita pada dirinya sendiri. Tanpa perlu mengecilkan peran "hal-hal rohani" - baik atau buruk - kita dapat dengan aman mengatakan bahwa ego adalah sumber gangguan terbesar dalam kita menjalani kehidupan ini. Distraksi/gangguan terjadi ketika fokus pikiran dan hati kita tidak berada pada tempatnya. Mengalami kontradiksi atau kesulitan, kadang-kadang bahkan pada waktu yang menentukan, adalah bagian dari hidup dan mewartakan Injil. Orang yang benar-benar maju dalam pengalaman rohani hidup melalui pengalaman seperti ini dengan kebebasan batin yang luar biasa, yang membawanya ke dalam keintiman yang lebih dekat dengan Tuhan, dengan kebenaran, dan dengan sebagian kecil yang benar-benar ahli dalam pengalaman penderitaan. Mereka yang kurang maju dalam hal kerohanian mengalami penderitaan melalui kesulitan-kesulitan dan melihat semuanya itu sebagai bagian dalam melawan dirinya. Mereka merasa teraniaya dan, secara alami, kehilangan kedamaian dan sukacita batin mereka. Memfokuskan diri pada apa yang disalahpahami atau diri yang terluka akhirnya akan menjadi suatu distraksi yang begitu besar.


Proses serupa terjadi ketika fokus pengambilan keputusan kita bukanlah pada kehendak Tuhan, yang tidak pernah bisa saya kendalikan atau arahkan, tetapi lebih pada pendapat orang lain, baik pendapat umum atau pendapat orang yang kita sukai, cintai, atau kita kagumi. Pengalaman seperti inilah yang saya sebut sebagai “distraksi popularitas”, dan hal itu berasal dari pengalihan tempat dan proses pengambilan keputusan kita dari proses diskresi yang panjang dan tidak pernah terkontrol, menjadi dinamika perasaan dan tindakan yang lebih dipermudah, bahkan terhadap orang yang dianggap yang suci dan terhormat.


Hal semacam itu terjadi pula ketika ada penyusutan dalam cakrawala manusia dan rohaninya. Cara yang paling umum terjadi adalah, tentu saja, ketika kita jatuh cinta dengan pendapat kita sendiri, terutama jika kita berpikir bahwa pendapat kita itu begitu cerdas, yang terbaik dari yang ada lainnya. Kita juga bisa sangat teralihkan oleh pendapat- pendapat kita sendiri bahwa, jika kita menghitungnya, tidak akan pernah selesai. Ketika Santo Ignatius menawarkan kepada orang-orang yang menyelesaikan Latihan Rohani beberapa peraturan untuk memiliki perasaan dan sikap yang benar dalam Gereja, ia berusaha membantu mereka untuk bebas dari distraksi/gangguan cakrawala yang sempit ini. Kata-katanya memang terdengar keras dan sulit untuk diterima, tetapi apa yang diinginkan oleh orang suci ini adalah kebebasan, keterbukaan terhadap sesuatu yang lebih besar dari sekedar beberapa ide, bahkan jika itu adalah milik saya.


Pentingnya kebebasan semacam ini menjadi jelas jika, alih-alih pendapat pribadi, kita berbicara tentang ideologi dan pilihan ideologis. Berapa banyak keputusan pribadi atau kelompok yang digambarkan sebagai hasil dari diskresi individu atau komunal yang benar-benar hanya pilihan ideologis yang dibungkus dalam bahasa diskresi, tetapi datang dari proses yang hanya dalam bentuk yang menyerupai dikresi yang sejati itu? Dalam kasus-kasus seperti itu, bahkan teologi berfungsi sebagai alat untuk kepentingan ideologis dan menjadi distraksi atau pengalih perhatian.


Distraksi menyangkut ego menjadi paling kuat ketika komunitas, atau relasi rohani dengan komunitas, memudar atau menghilang. Kita, orang-orang yang dikuduskan ini, telah membuat komitmen untuk bersama-sama menemukan kehendak Allah, sebagai satu tubuh, satu kesatuan komunitas iman, misi, dan cinta. Di sini kita menemukan makna ketaatan yang sejati, yang sering disalahpahami sebagai kaul religius. Kabar buruknya adalah bahwa hal ini sangat sulit, terutama untuk yang lebih visioner, bahwa semakin cerdas, mereka lebih mendedikasikan pada satu penyebab yang penting. Selalu jauh lebih mudah untuk melakukan sesuatu sendirian, dengan inspirasi pribadi (kebanyakan mental atau emosional).


Anehnya, lebih mudah untuk menyebut seseorang sebagai nabi, ketimbang melakukan diskresi bersama orang lain dan harus dengan rendah hati menghadapi kelemahan pemikiran atau pendapat kita. Kita bisa menjadi nabi di luar komunitas, sampai mereka yang memiliki otoritas ingin membungkam kita, dan kemudian kita lari ke komunitas untuk mencari perlindungan, yang terkadang masih juga menyalahkan komunitas tersebut atau para pemimpinnya karena kurangnya pemahaman, keberanian, visi, dan dukungan. Tidak ada niat buruk yang disengaja. Ada banyak keinginan baik, banyak visi, tekad besar untuk membuat perbedaan ... tetapi meski demikian kita mengalami distraksi.


Distraksi menyangkut media dan pasar: gadget, internet ...


Distraksi semacam ini adalah yang paling umum dan paling mudah ditengarai. Semuanya itu ada tepat di depan kita semua, dan hanya sedikit dari kita yang bisa mengklaim kebal total atau hanya sebagian dari gangguan ini. Oleh karenanya, semuanya itu bukan yang paling berbahaya. Kita tentu membutuhkan media ini dan juga beberapa gadget. Ini bukan pertanyaan. Tetapi mengapa kita merasa seolah-olah kita inferior (rendah diri) jika kita tidak turut mutakhir (kekinian) di dalamnya? Mengapa kita merasa sangat buruk karena berbeda? Mengapa semua itu begitu penting bagi kita untuk diterima, untuk menjadi satu kesatuan?

Mungkin kita terus-terusan terdistraksi karena kita tidak memutuskan lagi. Kita telah memberi ruang bagi media untuk mendefinisikan ortodoksi baru, sebuah kanon baru tentang “kebenaran”, yang bukan lagi merupakan sebuah kebenaran, melainkan opini publik yang sengaja dibangun dan tidak kritis. Cara berkembang budaya informasi yang baru ini membenturkan kita pada pilihan-pilihan dasar. Apakah kita menginginkan informasi atau pemahaman? Kecepatan atau kedalaman? Berpusat di dalam Kristus atau menjelajahi jaringan (Web)? Saya tahu ini bukan pilihan eksklusif dan tidak ada dari kita yang bermimpi membuat semuanya seperti itu, tetapi mereka bisa menjadi nyata dalam kehidupan kita yang tidak penuh perhatian sebagaimana distraksi lainnya.


Distraksi akan kedangkalan dalam dunia religius: untuk atau melawan adat, kebiasaan, tradisi, ritual, ibadah, posisi, dan teori.


Terdapat semacam distraksi yang khususnya mempengaruhi kita para Jesuit, mengingat studi intelektual kita yang lama. Distraksi/gangguan itu memengaruhi kita ketika pertumbuhan intelektual kita tidak berakhir dengan doa, adorasi, atau dalam pelayanan. Semuanya itu tentu mengganggu karena terjadi di dalam Gereja dan di dalam kehidupan imannya. Kita cenderung berpikir bahwa apa yang tidak sesuai dengan teori saya tidak ada artinya; bahwa jika saya tidak dapat menemukan "pemahaman" itu adalah "omong kosong”. Dan kami sangat tidak toleran dengan yang namanya omong kosong. Selanjutnya kita mengambil posisi tidak dewasa yang khas, yakni "semua atau tidak sama sekali", meyakinkan diri kita sendiri bahwa "jika saya tidak setuju, itu pasti tidak memiliki arti sama sekali". Santo Ignatius memotong kecenderungan seperti itu melalui aturan- aturannya untuk memiliki perasaan yang benar di dalam Gereja. Dia tidak peduli dengan apa yang masuk akal baginya, tetapi lebih pada apa yang masuk akal bagi orang-orang sederhana pada masanya, orang-orang beriman yang sederhana di Gereja.


Kita sendiri cenderung sesumbar: "Saya tidak pernah memuji apa yang tidak saya sukai". Ignatius memberitahukan kepada kita untuk memuji segala sesuatu yang membantu orang dalam devosi mereka, dalam doa mereka, perasaan mereka yang dekat dengan Allah dan Gereja-Nya. Peraturan yang diberikan Ignatius ini memiliki warna dan arah pastoral yang kuat. Di dalamnya Ignatius mengatakan kepada kita untuk tidak terganggu dengan diri kita sendiri, dengan ide-ide kita, dengan apa yang kita suka dan tidak suka, dengan pendapat dan pandangan teologi kita, tetapi untuk mempertimbangkan bagaimana orang-orang berjalan dan hidup di hadirat Allah. Lupakan diri kita sendiri dan berdiri teguh demi kehidupan orang-orang ini.


Para Jesuit besar menampakkan diri kepada saya sebagai pria berkarakter: utuh, berdedikasi, konsisten, fokus, dan tidak terdistraksi


Melihat lebih dekat pada sejarah para Jesuit dapatlah menolong kita. Kita semua sangat bangga, dan memang benar, tentang sejarah kita dan orang-orang hebat yang mengisinya. Ketika saya melihat mereka kembali, dari perspektif distraksi/gangguan kita, apa yang mengejutkan saya dalam diri mereka semua adalah dedikasi total mereka pada panggilan dan misi mereka. Mereka adalah orang-orang yang telah memberikan segalanya dan tetap fokus pada tujuan akhir dari pemberian atas diri mereka: Tuhan dan pelayanan untuk Kerajaan-Nya. Akan terlalu lama untuk mengembangkan bagaimana masing-masing menjalankan komitmen yang sepenuhnya terfokus ini. Mari kita mengingat kembali beberapa nama, yang dapat ditambahkan oleh orang lain dalam jumlah kecil:

Para Pendiri: Ignatius, Xaverius, Faber

Para Pencipta : Anchieta, Vieira, Castiglione, Pozzo

Para Pionir: Ricci, De Nobili, Brebeuf, Teilhard, Arrupe ...

Para Mistikus: Ignatius, Xavier, Colombiere, Teilhard...


Bagi saya ingatan akan orang-orang ini tampak sebagai undangan untuk pergi menuju kepada yang inti, yang menjadi pusat; yang inti di dalam Tuhan, dan yang inti dari diri kita sendiri dan panggilan kita di dalam Serikat dan di dalam Gereja. Panggilan dan misi yang telah kita terima dari Tuhan dan yang kita warisi dari para pendahulu kita tidak memberi ruang bagi pengikut atau pelayan yang “terdistraksi”. Tuhan terus memanggil para saudara dan sahabat untuk pergi mengikuti Putra-Nya, orang-orang yang bersedia memberikan segalanya untuk mimpinya tentang keselamatan bagi semua umat manusia. Tugas itu terus menjadi besar dan menantang. Tanggapannya sendiri juga harus total, terkonsentrasi, fokus, atau bahkan lebih, karena kita mulai memahami bahwa rencana Allah selalu menjadi rencana untuk alam semesta dan bukan hanya untuk keluarga manusia.


Kehadiran Allah bagi semua ciptaan mendefinisikan kembali misi kita dengan gema dari Kitab Kejadian dan Paulus, yang diperbarui dalam permohonan terbaru dari Bapa Suci Paus Benediktus XVI. Sekali lagi kita mendengar Ignatius mengingatkan kita bahwa mereka, yang ingin membedakan diri mereka dalam hal pelayanan bagi Tuhan yang sedemikian itu, akan mempersembahkan seluruh hidup mereka untuk tugas tersebut...


Ini adalah doa yang menyertai surat ini: agar kita semua menanggapi dengan baru terhadap panggilan Tuhan kita Yesus Kristus yang tak henti-hentinya untuk kebaikan bagi Gereja, kemanusiaan dan alam semesta.


Adolfo Nicolás, SJ


Hari 3: Kesiapsediaan Apostolis dalam Missio Dei
Pewartaan Injil di antara orang pribumi Nusa Tenggara Timur. Umat beriman di Flores diteguhkan kembali (1864-1917)
Hari 4: Sahabat dalam Perutusan