Awal pengenalan


Tentang St. Fransiskus Xaverius, Pedro Arrupe pernah menulis demikian.


“Bila kita mau mengenali dan mengukur kebesaran St. Fransiskus Xaverius, tanpa perlu melupakan karya-karya besarnya, semestinya menilik kembali sebuah peristiwa di suatu kamar ketika Xaverius tinggal di Paris”.

Apa yang diungkapkan oleh Pater Arrupe ini menunjuk pengalaman awal perkenalan Xaverius dengan Ignatius serta kebersamaan dengan Petrus Faber. Mereka bertiga, Ignatius, Xaverius dan Faber adalah tiga yang pertama dari Serikat Jesus. Perjalanan persahabatan Xaverius dengan Ignatius sendiri pada awalnya tersendat oleh karena perbedaan karakter, usia dan juga latar belakang politis; Ignatius dari Castilla, Spanyol bersatu, sementara Xaverius dari Navarra, bagian dari Castilla yang ingin merdeka dengan dukungan Perancis. Perbedaan dan kesulitan mereka ditembus oleh keuletan dan kesabaran Ignatius melalui percakapan dan persahabatan rohani serta berbagi uang hingga pada akhirnya dalam suatu percakapan Ignatius bertanya: “Xaverius, apa artinya mendapatkan semua dari dunia ini, tetapi kehilangan jiwanya?”


Pertanyaan Ignatius tersebut secara tepat sasaran mengena pencarian Xaverius sekaligus juga merumuskan krisis dan pencariannya sebagai pemuda di jenjang karier masa depannya. Xaverius adalah seorang mahasiswa dengan banyak bakat yang memiliki masa depan yang menjanjikan. Dia menjadi harapan keluarga untuk mengembalikan martabat kebangsawanan yang memudar oleh karena kalah perang melawan Castila (Kerajaan Spanyol!). Pertanyaan Ignatius tersebut dilontarkan dan didengar Xaverius tepat pada tanggal kematian kakak puteri yang menjadi seorang suster klaris di Gandia. Sementara itu, dalam kesehariannya, Xaverius tidak bisa menyangkal kenyataan bahwa Ignatius adalah figur lain dalam arti berbeda minat, selera serta orientasi. Kehadiran Ignatius bagi Xaverius menciptakan rasa tidak nyaman dan membosankan; orang yang sudah cukup umur, tetapi masih ingin studi, dan banyak berbicara mengenai hal-hal saleh serta rohani; misalnya tentang matiraga serta mengenai hal-hal duniawi dan ambisi manusiawi.


Memperhatikan relasi dua pribadi ini, yang kemudian menjadi jesuit tersebut, secara rohani kita meyakini bahwa pada akhirnya Roh Allah lebih kuat berkarya. Ignatius bisa menaklukkan Xaverius dan Xaverius pun mulai memperhatikan sesuatu yang benar dan bermanfaat dari kata-kata Ignatius serta hidup yang dihayatinya. Malahan, perjumpaan yang berawal pada penolakan berujung pada sebuah perubahan orientasi hidup Xaverius serta ketetapan untuk menggabungkan diri dengan idealisme rohani Ignatius. Pilihan dan ketetapan Xaverius tersebut terjadi pada tahun 1533. Disusul dengan kaul di Montmartre bersama dengan lima teman Ignatius lainnya. Selanjutnya keputusan dan pilihan mendasar Xaverius itu dari sisi kerohaniannya diperteguh dan dimatangkan dengan retret sebulan di bawah bimbingan Ignatius sendiri pada tahun 1534.


Andalan Sayap Misioner

Bila pada tahun-tahun pertama kerasulan Serikat Jesus dikenal ada dua sayap kerasulan, yaitu pergi ke tanah misi di luar Eropa dan menghadapi protestantisme di Eropa dengan jalinan rumit persoalnnya, sejak awal kelahirannya pula, Serikat dianugerahi dua rasul unggul di kedua sayap tersebut. Dua rasul unggul tersebut adalah Xaverius dan Petrus Faber. Xaverius adalah Jesuit handal di tanah misi. Sementara Petrus Faber rasul unggul dalam menghadapi protestantisme Eropa. Keunggulan hidup dan karya misioner Xaverius diawali dengan percakapan dan persahabatan dan percakapan rohani dengan Ignatius dan berujung dengan ketetapan untuk menyatukan idealisme rohani dan rasuli yang diperkokoh oleh persahabatan di antara para sahabat St. Ignatius.


Tercatat riwayat perjalanan Xaverius sebagai misionaris ketika Xaverius tinggal satu kamar dengan Diego Laínez. Ketika itu mereka berada di wilayah Italia utara. Beberapa kali Xaverius mengigau hingga membuat Laínez terjaga: “Yesus, saya lelah sekali! Tahukah bahwa ada seorang India demikian berbeban berat hingga tidak sanggup menanggung beban itu?”. Tentang pengalaman di alam tidur ini, seorang anggota Serikat awal, P. Jerónimo Domenéch menambahkan bahwa peristiwa itu menunjukkan hasrat besar Xaverius untuk pergi ke India.


Pada waktu selanjutnya, kesempatan untuk menjadi misionaris tiba, meskipun pada mulanya kesempatan tersebut bukan untuk Xaverius karena untuk perutusan ke wilayah India Ignatius telah memilih Simao Rodríguez dan Nicolás de Bobadilla. Keputusan itu merupakan tanggapan positif dari Serikat atas permintaan Raja Portugal Joao III yang meminta Ignatius mengirim anggotanya menjadi misionaris. Simao Rodríguez langsung berangkat meninggalkan Roma menuju Portugal bersama duta Portugis untuk Roma Pedro de Mascarenhas. Sementara itu, ketika mau berangkat Bobadilla jatuh sakit. Menyikapi keadaan itu, seperti dikatakan oleh Ribadeneira, Ignatius memanggil dan mengutus Xaverius, “Maestro Francisco … ini tugasmu”. Dengan gembira dan sigap Xaverius menyambutnya. “Ya, ini saya,milikmu, siap!”.Hari itu Xaverius mempersiapkan diri dengan memperbaiki beberapa pantalon yang sudah tua.


Dialog perutusan ini terjadi pada tanggal 16 Maret 1540. Artinya, Serikat Jesus pada waktu itu belum dikukuhkan berdiri dengan surat resmi dari Paus Paulus III dan Ignatius sendiri juga belum menjadi Jenderal. Namun demikian Xaverius memahami dan menghayati peristiwa itu sebagai pengalaman perutusan dan pengalaman rohani yang disanggupi untuk dihayatinya. Peristiwa itu adalah peristiwa Serikat awal tentang seseorang yang berhadapan dengan kehendak Tuhan di dalam perutusan. Dari pihak Serikat peristiwa tersebut adalah peristiwa Serikat yang sedang menghayati dirinya sesuai dengan visi dan misi “Panggilan Raja” Latihan Rohani (LR 95-98) dalam ketersebaran untuk perutusan.


Selanjutnya, Xaverius pergi ke Lisabon. Di sana dia mempersiapkan diri bersama dengan Simao Rodríguez. Selama persiapan mereka berdua disambut dengan baik dan dihargai oleh Raja Joao III serta orang-orang lingkungan kerajaan. Malahan, oleh karena perilaku dan sikap hidup mereka yang baik dan mengesankan, Raja Portugal bermaksud menahan mereka dan tidak jadi mengirim mereka ke India. Pada akhirnya dicapai kompromi. Simao Rodríguez tetap tinggal di Portugis dan Xaverius berangkat ke India dari Lisabon. Untuk itu Xaverius menempuh tiga bulan pelayaran dan tiba di Goa India pada tanggal 6 Mei 1542. Selang empat tahun dia menempuh perjalanan lain dan tiba di kepulauan Maluku, Indonesia, pada tanggal 14 Februari 1546.


Sebelum Pergi ke Tanah Misi

Sebelum meninggalkan Lisabon untuk selanjutnya menuju India, Xaverius secara pribadi bercerita kepada Simao Rodrigues tentang pengalaman yang terjadi di Roma.


“Simon, saudaraku, apakah ingat saat kita lewatkan bersama malam itu di hospital? Saya terjaga dengan beberapa kali berteriak. Saat kau menanyakan kepada saya alasan mengapa berteriak, pada waktu itu saya minta agar tidak perlu mempedulikannya. Tetapi sekarang, tahukah bahwa saya akan pergi untuk pekerjaan-pekerjaan besar dan berbahaya bagi pelayanan kepada Tuhan. Saya yakini bahwa rahmat-Nya menopang saya dan menyemangati sedemikian sehingga saya tidak perlu momohon rahmat yang lebih lagi. Telah tiba saatnya untuk mewujudkan apa yang ditunjukkan kepada saya sebelumnya”.

Cerita mimpi ini tentu bisa didiskusikan kebenaran dan nilainya, tetapi dalam satu arti, bisa merupakan sebuah peneguhan atas perasaan-perasaan Xaverius di seputar perutusan ke tanah misi. Pada saat itu Serikat (yang sedang menanti proses kelahiran dengan persetujuan resmi) menerima perutusan dari Bapa Suci. Menanggapi perutusan tersebut Ignatius tidak memilih Xaverius untuk diutus ke India karena menginginkan supaya tetap bersamanya. Yang dipilih adalah Bobadilla del Camino, sorang pribadi yang kuat, orisinil dan memang sudah disiapkan untuk kerasulan di wilayah-wilayah sulit.


Namun demikianlah yang bisa terjadi di hadapan perutusan dan kehendak Tuhan. Akhirnya, Xaverius ambil bagian di dalam perutusan karena Bobadilla sakit. Itulah satu-satunya alasan nampak (la única causa visible) bagi perutusannya. Jadilah, dalam sejarah Serikat dalam karya perutusannya di luar Eropa, Fransiskus Xaverius sebagai misionaris agung. Utusan Tuhan dan pilihan Serikat menjelajah rute-rute tanah misi. Perjalanan kerasulan misionernya berakhir dengan sebuah kematian dalam usia 46 tahun dan dalam kesepian sedih di Sancian; memandangi pintu masuk Cina. Ditemani seorang anak muda Cina yang sejak kecil belajar di kolese Goa.


Masuk Cina merupakan satu mimpi satu dari banyak hal yang terjadi sebelum dia pergi ke tanah misi. Selanjutnya mimpi itu diuji, pada saat berhadapan dengan kenyataan dan di medan kerasulan impian itu semakin besar. Sementara itu apa yang senyatanya terjadi dibawa di dalam doa-doa panjang seorang diri dan di dalam doa-doa tersebut dirasakan seperti menopang keinginan dan kegiatan rasulinya. Xaverius mengalami betapa tugasnya benar-benar menarik. Perutusannya adalah menanam salib di bumi yang tak dikenal serta meluaskan Gereja dan Kerajaan Tuhan. Mimpi menjelma dalam kenyataan kendati kenyataan sendiri kadang tidak cukup untuk menjelmakan mimpinya oleh karena beragam keterbatasan.


Peranan Latihan Rohani

Memahami hidup, perutusan dan karya misioner Xaverius tidak cukup hanya dengan menunjuk mimpi ataupun “kegelisahan seorang bask”. Kita mesti menuju ke pendasaran pembaharuan efektif dari kedalaman batinnya yang terjadi mulai pada saat pertobatan ketika berada di Paris. Inilah yang menerangkan kemampuannya berhadapan dengan pelbagai tantangan, kesulitan dan kegagalan di dalam perutusannya. Selain mimpi, “kegelisahan seorang bask” serta antusiasme mendengar kisah-kisah tentang tanah misi di belahan bumi lain, Xaverius dibentuk oleh pengalaman Latihan Rohani terutama dalam meletakkan “Asas dan Dasar” serta perubahan orientasi hidup. Pengalaman inilah peneguhan jalan pertobatan yang juga mengembalikan benih-benih iman yang ditanamkan dan dirawat di puri Javier ketika masih kanak-kanak serta hampir hilang ketika di Paris. Latihan Rohani sendiri dijalani setelah cukup waktu mempersiapkan diri dan setelah bergabung dengan Ignatius dan kawan-kawan dengan berkaul di Montmartre pada tahun 1534.


Tentang Latihan Rohani-nya seorang Jesuit Portugal yang dipercaya Ignatius dalam menuliskan riwayat rohaninya, Luis Gonçalves da Cámara memberi kesaksian demikian:


"Maestro Francisco, selain kuat di dalam penyangkalan dirinya, dia juga mengikat tubuh dan kakinya dengan tali, karena día adalah satu dari peloncat dan pelari terbaik (atlet) di salah satu bagian kota París; dan dengan begitu día tidak bisa bergerak sama sekali dan begitu dia melakukan meditasi"

Sebelum pergi ke tanah misi, Xaverius ditarik dari benaman alam yang terlalu duniawi. Kemudian dibentuk oleh Latihan Rohani dan di dalam jiwanya dibangkitkan minat terhadap dunia misi. Xavier Léon-Dufour S.J., (San Francisco Javier, Itinerario místico del apóstol, 1998) menggambarkan tiga tahap campur tangan Tuhan dalam mempersiapkan dan mengutus Xaverius. Penggambaran itu diambil dari tiga titik berangkat perjalanannya: dari Paris, dari Lisabon dan dari Santo Tomas Meliapur. Menurut penulis Perancis ini, masing-masing berkaitan dengan pemurniaan jiwa yang semakin intens hingga sampai pada tujuan terakhir, yaitu surga. Titik keberangkat ke tanah asing juga berperan penting bagi perkembangan batin Xaverius sendiri maupun hidup kerasulannya.


Tahap pertama, dari Paris kehidupan Xaverius ditandai oleh kebangkitan minatnya terhadap hidup apostolis. Pada tahun 1533 Allah menarik dirinya dari hidup yang terlalu manusiawi, namun tidak langsung mengirimnya ke benua lain, melainkan menyatakan kepada Xaverius kasih yang berkobar oleh keselamatan jiwajiwa. Allah mempersiapkannya selama enam tahun; ini bukan waktu yang pendek. Allah membawanya ke macam-macam percobaan; Allah membimbingnya dan melatih untuk mengenal di dalam setiap situasi wajah Allah penuh kebapaan supaya mampu memberi diri tanpa reserve kepada orang yang ditemuinya. Tuhan juga dialami mendudukannya dalam suatu komunitas Gereja yang sebenarnya di tengah gerakan reformasi Gereja waktu itu.


Yang dikenal dan dihayati di dalam tahap pertama dalam keunggulan nyata diwujudkan di dalam perjalanan tahap kedua, yaitu mulai tahun 1541: Kristus, melalui wakilnya di dunia, mengirimnya dalam perutusan resmi sebagai “nuncio apostolico” di wilayah Timur Jauh. Xaverius menjadi rasul Kristus dan menghayati hidup sebagai pribadi rohani, orang milik Tuhan yang menjadi miskin, merendahkan diri menjadi hamba dari semua, menderita dalam kesetiaannya kepada Allah dan manusia. Pengalaman inilah yang memasukkan Xaverius ke kedalaman misteri kasih Allah di dalam Kristus dan menjadi kekuatan rasulinya.


Yang ketiga terjadi pada tahun 1545, yaitu ketika Xaverius keluar dari India menuju bagian timur terdorong oleh Roh Kudus. Perjalanan ketiga ini merupakan gerakan misioner yang sama seperti dari Lisboa hingga Maluku dan bagian timur, tetapi kepercayaan yang tumbuh karena dukungan ingatan akan sahabat-sahabat seSerikat dan pada waktu kemudian diuji dalam hidup sunyi sendiri, memiliki akarnya demikian dalam. Kepercayaan diuji dalam kesunyian seorang pribadi yang dikuasai Roh berhadapan dengan roh buruk dan akhir dalam cobaan paling tinggi dari kepercayaannya, yaitu kematian di alam sepi memandang Cina yang masih diimpikannya.


Latihan Rohani yang telah membentuk Xaverius tidak hanya mengobarkannya dengan gairah rasuli menjelajah lautan dalam jarak ribuan kilo meter tetapi juga akhir hidup sunyi seorang diri, dalam ingatan hangat para sahabat yang terus menjalani karya perutusan masing-masing. Inilah kedalaman hidup rohani yang sering bersanding dengan kesepian hidup di tengah medan kerasulan. Latihan Rohani menyiapkan untuk keduanya dalam keberakaran dalam-dalam pada cinta pribadi akan Kristus serta kerinduan akan keselamatan jiwa-jiwa.


Persahabatan Rohani Sejati

Kita mewarisi persahabatan Xaverius dengan Ignatius yang demikian erat dan mendalam. Persahabatan yang berharga itu kemudian dipisahkan oleh jarak dan tugas perutusan. Meskipun demikian persahabatan rohani yang menggerakkan gairah rasuli tersebut tidak luntur atau tidak mati, bahkan boleh jadi bisa dikatakan sebaliknya membakar semangat rasuli tubuh Serikat Jesus sebagai tarekat yang baru lahir. (bdk. “Letter of Francis Xavier to the Jesuits of Rome”, dalam Ignis, 1992:2, hlm. 54-51). Baik Xaverius dan Ignatius mengenang dan merawat pengalaman awal di Paris dalam hidup selanjutnya. Xaverius pernah menulis surat kepada Ignatius.


“sebagaimana dengan air mata aku membacanya, dengan air mata pula aku menulisnya, mengingat masa yang lalu, berlimpah kasih dia berikan kepadaku”.

Dalam surat lain kepada Ignatius ketika Xaverius menceritakan rencana ke Jepang dia mengatakan:


“… saya menyerahkan semua kepada Allah Tuhan kita dalam korban-korban kudus dan doa, yang memperkenalkan kehendak kudus-Nya dalam hidupku sekarang ini dan dalam rahmat untuk memenuhinya secara sempurna … Puteramu yang kecil dan tak berguna, Francisco”.

Nyawanya diserahkan ke tangan Tuhan.

Semangatnya ditanam di hati setiap orang.


Saya tulis di Kolese St. Ignatius, 29 Mei 2018 dan saya baca ulang serta revisi di Gesú, Roma, 17 April 2023


L.A. Sardi S.J.



Hari 4: Sahabat dalam Perutusan
Persahabatan Rohani dan Rasuli untuk Perutusan. Pengalaman St. Fransiskus Xaverius
Hari 5: Kemurahan Hati Melayani