Para sahabat yang terkasih,


Cinta kepada pribadi Yesus yang miskin dan rendah hati, yang menuntun kita untuk mengikuti-Nya, terungkap secara sangat khusus dalam kaul kemiskinan kita. Kaul kemiskinan merupakan dimensi konstitutif karisma Serikat Jesus yang memberi landasan bagi hidup-perutusan. Agar dapat menunjukkan jalan menuju Allah kita dituntut untuk mengikuti cara bertindak Yesus. Yesus dari Nazaret, seorang pribadi yang miskin dan rendah hati, adalah pribadi yang menyatakan cinta tanpa syarat dari Emmanuel (Allah beserta kita) dan mengundang kita untuk menghayati kemiskinan injili. Kemiskinan injili mendorong kita untuk berjalan bersama orang miskin dan melayani mereka.


Roh Menggerakkan Kita untuk Memeriksa Batin atas Kaul Kemiskinan secara Hening


Baru-baru ini, KJ 36 dan discernment in common (penegasan bersama) atas Preferensi Kerasulan Universal menjadi undangan bagi Serikat Jesus untuk bertobat. Selain itu, perayaan Tahun Ignasian 2021-2022 merupakan sumber inspirasi baru bagi proses transformasi yang vital bagi Serikat ke arah yang dituntunkan oleh Roh Kudus.


Karena itu, saya ingin mengajak seluruh Serikat - setiap Jesuit, setiap komunitas, setiap Provinsi atau Regio - untuk memeriksa batin bagaimana kita menghayati kaul kemiskinan. Saya ingin agar buah dari pemeriksaan batin ini menghantar Serikat pada disposisi yang perlu untuk memberi substansi bagi pemenuhan mandat dari KJ 36 untuk memperbaiki Statuta Kemiskinan dan Petunjuk Pengelolaan Harta Benda Serikat (IAG) . Saya yakin bahwa kesungguhan untuk meninjau cara penghayatan kaul kemiskinan kita, dengan makna rohaninya yang dalam, merupakan cara mempersiapkan diri yang terbaik bagi Serikat untuk menerima pembaharuan norma-norma terkait kemiskinan religius kita.


Kaul kemiskinan adalah salah satu cara paling efektif untuk mengidentifikasi diri kita dengan Yesus, jalan kepada Bapa, dengan kuasa Roh Kudus. Hidup di abad kedua puluh satu mengharuskan kita untuk memperdalam pengalaman rohani. Panggilan kita ialah menumbuhkan pengalaman rohani ini dalam dunia sekarang sejalan dengan karisma yang diterima oleh Ignatius dan sahabat-sahabat pertama (first companions). Oleh karena itu, untuk mengawali pemeriksaan batin ini, saya mengajak anda semua untuk kembali kepada unsur-unsur fundamental dari kemiskinan dalam hidup bakti.


Mengikuti Yesus yang Miskin dan Rendah Hati

Kita mengenali Yesus sebagai pribadi yang miskin dan rendah hati bukan karena Dia kekurangan harta benda. Yesus menjadi miskin justru demi memperkaya kita dengan kemiskinanNya . Kemiskinan Yesus adalah buah dari kemurahan hati-Nya, dari seluruh pemberian diriNya, sehingga dalam persahabatan, kita semua hidup dalam martabat putra dan putri Allah. Kemiskinan injili inilah yang kita dambakan ketika kita mengucapkan kaul kemiskinan. Kita menyadari bahwa kita bisa menghayatinya karena rahmat yang kita terima dari Allah sendiri yang mengundang kita untuk mengikuti Dia . “Menjadi miskin” merupakan bagian cara hidup kita. "Menjadi miskin" adalah dimensi cara hidup Yesus yang juga ingin kita hayati sebagai ungkapan radikal dari cinta. Cinta seperti itu mampu secara sukarela mengosongkan diri, mampu menanggung penghinaan yang diperlukan untuk taat pada Roh dan mampu menyerahkan diri kepada kematian di salib . Kita telah mendengar panggilan itu dan kita telah memilih jalan itu dalam kaul yang kita ungkapkan.


Ignatius memutuskan untuk menjadi miskin karena cintanya kepada Yesus yang miskin dan rendah hati. Ignatius ingin melayani Yesus seperti itu. Minggu kedua Latihan Rohani dengan jelas menelusuri jalan untuk mengikuti Yesus. Bagi mereka yang mendengar panggilan tersebut dan mengetahui bagaimana Yesus menjelma dalam sejarah manusia , hal ini dimulai dengan kemiskinan (secara spiritual dan material) dan berlanjut dengan penerimaan atas celaan dan makian yang menuntun pada kerendahan hati. Kerendahan hati ini membuka jalan bagi semua keutaaman lain . Ignatius tidak menginginkan sebuah refleksi atas kemiskinan pada dirinya, Ignatius memilih menjadi miskin karena Kristus memilih kemiskinan. Inilah alasan kaul kemiskinan yang dinyatakan oleh mereka yang berkaul dalam hidup bakti. Mereka ingin hidup seperti yang Yesus yang miskin dan rendah hati. Kemiskinan memungkinkan kita untuk mewartakan Yesus seturut Injil dalam ketaatan radikal kepada Bapa.


Karena itu, alasan "menjadi miskin" sebagai sebuah dimensi mengikuti Kristus berarti membebaskan diri dari segala hal yang merintangi seseorang untuk siap sedia pada bimbingan Roh Kudus. "Menjadi miskin" adalah satu langkah untuk mempercayakan diri sepenuhnya hanya kepada Tuhan. Kemiskinan sebagai upaya menanggalkan dan melepaskan, membebaskan seseorang dari kecenderungan memiliki kekayaan sebagai dasar keamanan individu. Barangsiapa “menjadi kaya" percaya bahwa dirinya bisa punya kendali atas hidup dan menjamin keamannya dari berbagai jenis resiko . Di sisi lain, kemiskinan injili menuntun kita pada hidup di tempat terbuka, meletakkan diri kita dalam tangan orang lain, membawa kita pada ketidakpastian tempat kita menaruh harapan kepada Tuhan.


Kemiskinan Yesus dari Nazaret yang rendah hati dikaitkan dengan misi penebusan-Nya yaitu Sabda menjadi daging dan tinggal di antara kita . Oleh karena itu, kemiskinan para pengikut Yesus bersifat apostolik. Tujuannya ialah menolong jiwa-jiwa, menghadirkan rekonsiliasi bagi ciptaan dalam Kristus di dalam sejarah Kabar Sukacita. Inkarnasi Allah sebagai orang miskin di antara yang miskin merupakan pilihan cara Allah menyatakan DiriNya. Menerima undangan untuk mengambil bagian dalam tugas perutusan Tuhan membutuhkan proses belajar menggunakan perspektif orang miskin sebagai ”tempat” untuk mempersepsi realitas. Belajar memakai perspektif orang miskin perlu untuk “mewartakan kemiskinan” sebagaimana dilakukan Yesus dan para rasul, seperti diinginkan oleh para pendiri Serikat Jesus. Bagi mereka yang berniat untuk mewartakan Kabar Gembira, hal ini adalah undangan untuk bertindak saat ini.


Mengikatkan diri kita pada suatu keadaan tidak berpunya seperti yang dikehendaki kemiskinan injili menyatukan kita dengan semua orang yang menderita, membuat keinginan kita akan keadilan semakin bertambah besar dan memasukkan kita dalam ruang solidaritas yang otentik. Kemiskinanlah yang "melahirkan kreativitas dan melindungi kita dari hal-hal yang membatasi kesiapsediaan kita untuk menanggapi panggilan Tuhan" .


Karena itu, kemiskinan sebagai dimensi cara bertindak para pengikut Kristus bukanlah tujuan pada dirinya sendiri. Kemiskinan seperti itu merupakan sebuah langkah menuju pembebasan dari "kehormatan duniawi yang sia-sia" dan menerima peluang untuk penghinaan (“dicela dan dihina”) yang menghantar pada kerendahan hati. Kerendahan hati adalah jalan hidup Tuhan dan sekaligus pintu menuju keutamaan. Kemiskinan berbanding terbalik dengan dengan kekayaan yang menghantar pada keburukan . Kaul kemiskinan menyiapkan kita untuk memohon dan menerima rahmat kerendahan hati tingkat ketiga . Kaul kemiskinan, dengan demikian, terkait erat dengan pilihan untuk mengikuti Yesus yang miskin-dina dan rendah hati. Dalam kaul itu, kita bertumbuh dalam cinta kepada kemiskinan sebagai cara hidup.


Kaul Kemiskinan dalam Serikat Jesus


Kita masing-masing, selama Latihan Rohani, telah mengalami panggilan Tuhan yang miskin dan rendah hati yang mengajak kita untuk bekerja dengan Dia, dipilih dan mengikuti Dia dalam Serikat Jesus. Formula Instituti , yang pastilah terinspirasi oleh pengalaman spiritual Ignatius dan para sahabat-sahabat pertama (first companions) menyatakan: Dari pengalaman kita tahu, bahwa hidup yang sama sekali lepas dari kelobaan, dan sedekat mungkin menyerupai kemiskinan injili, lebih nyaman, lebih murni, dan lebih cocok untuk membangun sesama; kita tahu juga, bahwa Tuhan kita Yesus Kristus akan mencukupi apa yang diperlukan dalam hal makanan dan pakaian bagi hamba-hamba-Nya yang melulu hanya mencari Kerajaan Allah; maka masing-masing dan segenap anggota harus berkaul kemiskinan kekal, dan menyatakan bahwa mereka, baik secara pribadi maupun sebagai kelompok, tidak dapat mempunyai hak sipil atas harta-benda tak-bergerak apa pun atau penghasilan atau pendapatan tetap, untuk sokongan atau kebutuhan Serikat sendiri. Mereka harus puas mempergunakan apa yang diberikan kepada mereka untuk memperoleh kebutuhan hidup yang pokok."


Dalam memilih untuk melayani di bawah panji Kristus, Serikat berkomitmen untuk bekerja sama dengan sesama dalam misi rekonsiliasi dan keadilan . Misi ini menuntut kita untuk menemani orang-orang terbuang di dunia ini - kebanyakan adalah orang muda - dalam perjuangan mereka untuk mengatasi kemiskinan. Kemiskinan seperti ini bukanlah kehendak Tuhan melainkan konsekuensi dari ketidakadilan struktural dalam relasi-relasi ekonomi, sosial, dan politik dunia yang membuat sebagian besar umat manusia hidup dalam keadaan yang tidak manusiawi dan mengancam keseimbangan alam. Kita mengucapkan kaul kemiskinan untuk memperoleh kepekaan yang diperlukan untuk mendekati mereka yang menderita akibat kemiskinan yang tidak manusiawi itu, untuk menemani hidup mereka sesuai perspektif Injil, dan bergabung dalam upaya mereka untuk memberantas kemiskinan. Termasuk dalam upaya-upaya itu, terutama lebih mendesak sekarang ini, ialah komitmen untuk memelihara bumi dan lingkungan .


Oleh karena itu, menghidupi kaul kemiskinan secara konsisten dalam Serikat Jesus menyiratkan adanya tegangan terus menerus dan discernment of spirits (pembedaan roh). Sejak awal berdirinya, sejarah Serikat memperlihatkan ketegangan-ketegangan ini. Seperti dapat kita lihat dalam potongan-potongan Buku Harian Spiritual St. Ignatius yang masih tersisa dan dalam Deliberasi tentang Kemiskinan tahun 1544, Ignatius membutuhkan waktu yang lama untuk melakukan pembedaan roh untuk menetapkan dalam Konstitusi cara khas Jesuit menghayati kaul kemiskinan. Ignatius menegaskan motivasi terdalam: untuk meniru cara hidup Yesus dan para rasul; meninggalkan warisan atau harta benda dari keluarga, pekerjaan atau bangsa tempat seseorang tinggal, tidak mengejar upah atas pelayanan yang dilakukan, menempatkan segala sesuatu sebagai milik bersama dan bergantung pada pembesar, dekat dengan orang miskin dan melayani mereka. Pada saat yang sama, parameter kemiskinan ditetapkan dalam standard hidup "klerus yang jujur" dan dana simpanan (fund) ditetapkan untuk menjamin sumber daya bagi karya kerasulan, formasi skolastik, dan merawat anggota yang sakit dan lanjut usia.


Tegangan antara hidup miskin di komunitas para profes dan kebutuhan sumber daya untuk "menolong jiwa-jiwa", merawat orang sakit, dan mendukung pendanaan formasi para skolastik selalu hadir dalam kehidupan para Jesuit. Tegangan kita temukan juga dalam kemiskinan pribadi dan suasana hidup suatu komunitas di mana kita tinggal bersama orang lain. Ada juga tegangan yang muncul dari lingkungan budaya dan sosial di mana kita menjalankan hidup-perutusan kita. Oleh karena itu, adalah tepat bagi Serikat untuk mengaitkan kaul kemiskinan dengan semangat magis daripada sekadar kepatuhan atas beberapa standar meskipun standar itu sangat masuk akal . Untuk alasan ini, discernment (penegasan) berdasarkan keadaan individu, waktu, dan tempat selalu diperlukan.


Dalam arti di atas, kata-kata Paus Fransiskus dalam dialognya dengan para peserta KJ 36 menginspirasi sekaligus menantang. “Menurut saya dalam soal kemiskinan St. Ignatius telah jauh melampaui kita. Kalau seseorang membaca bagaimana dia memikirkan kemiskinan dan kaul yang mengharuskan kita untuk tidak mengubah kemiskinan kecuali membuatnya menjadi lebih ketat, kita harus bermenung. Pandangan St. Ignatius bukan sekadar sikap asketik, yang sekedar mencubit sehingga membuat seseorang merasa lebih sakit, melainkan cinta kepada kemiskinan sebagai cara hidup, sebagai jalan keselamatan, cara gerejawi. Karena bagi Ignatius, dan ini adalah dua kata kunci yang digunakannya, kemiskinan adalah ibu sekaligus benteng. Kemiskinan merawat, melahirkan dan menyuburkan hidup rohani, kekudusan hidup dan kehidupan apostolis. Kemiskinan adalah benteng yang melindungi. Betapa banyak malapaetaka dalam Gereja yang berawal dari kemerosotan kemiskinan termasuk di luar Serikat. Maksud saya ialah ini terjadi secara umum dalam Gereja. Berapa banyak skandal yang sayangnya harus saya temui terjadi disebabkan uang. Saya percaya bahwa St. Ignatius memiliki intuisi yang sangat hebat. Dalam visi Ignatian mengenai kemiskinanm kita memiliki sumber inspirasi untuk membantu kita.”

Kredibilitas tentang siapa kita dan apa yang kita lakukan karena itu akan semakin diperkuat ketika kita mewujudkan dalam diri kita kerendahan hati dan kemiskinan seturut teladan Kristus. Untuk mencapai tujuan ini, saya mengajak seluruh Serikat untuk memeriksa bagaimana saat ini kita menghayati kaul kemiskinan dan membiarkan diri dibimbing oleh Roh untuk memperbarui komitmen kita kepada Tuhan yang kita ungkapkan melalui kaul kemiskinan. Suatu pembaruan yang menghidupkan cinta kepada kemiskinan sebagai ibu dari seluruh kait mengait hidup-perutusan kita dan sebagai benteng institusi kita .


Jalan yang akan Kita Tempuh


Pertama, secara tulus bersyukur kepada Tuhan atas begitu banyak karunia yang kita terima melalui kemiskinan injili dan memohon rahmat yang diperlukan untuk memeriksa cara kita menghayati kaul kita sebagai satu tubuh dalam komunitas dan secara pribadi.


Kedua, agar setiap Konferensi mengkaji praktik kaul kemiskinan saat ini guna membantu setiap Superior Mayor untuk merancang arah ke depan di setiap Provinsi atau Regio sehingga komunitas-komunitas siap untuk berdialog mengenai dimensi penting ini dalam mengikuti Yesus dalam Serikat. Dalam kerangka ini, saya secara pribadi akan menemani rekoleksi (retret satu hari) di masing- masing Konferensi, sambil menawarkan pokok-pokok doa dan mengambil bagian dalam percakapan rohani dengan Superior Mayor. Para Superior Mayor akan membagikan gerakan-gerakan batin dan membuka jalan menuju pembaruan hidup-perutusan sesuai dengan teladan dan gaya Yesus yang miskin dan rendah hati yang telah memanggil kita untuk menjadi sahabat-Nya.


Ketiga, setiap Superior Mayor, menimba pengalaman di tingkat Konferensi, berpijak dari pengenalannya atas pribadi-pribadi, karya apostolik dan konteks pelaksanaan hidup-perutusan Jesuit, mengadakan dua kali rekoleksi (retret satu hari) untuk setiap komunitas dalam wilayah yurisdiksinya . Perhatian khusus hendaknya diberikan kepada para Jesuit dalam formasi. Setiap rekoleksi (retret satu hari) harus mencakup waktu untuk doa pribadi, percakapan rohani dalam komunitas, dan perayaan Ekaristi bersama. Setiap Superior Lokal membagikan buah-buah dari pengalaman ini dengan Superior Mayor dalam komunitas-komunitasnya.


Keempat, adalah sesi konsultasi diperluas dari setiap Provinsi atau Regio. Superior Mayor akan mengundang para konsultor dan beberapa orang lain yang dapat berkontribusi untuk memahami dengan lebih baik saluran-saluran rahmat untuk setiap Provinsi atau Regio dan menemani proses pertobatan untuk menghayati kaul kemiskinan secara lebih bermakna. Bersama mereka, Superior Mayor akan mengadakan rekoleksi (retret satu hari) di mana mereka akan berbagi pengalaman mereka di Provinsi/Regio dan mengusulkan langkah-langkah selanjutnya dalam menghayati kaul kemsikinan.


Langkah ketiga dan keempat harus dilakukan sebelum 27 September 2022.

Kelima, pada catur wulan terakhir tahun 2022, saya akan menemani rekoleksi (retret satu hari) kedua untuk masing-masing Konferensi Superior Mayor di mana mereka akan dapat berbagi hasil pemeriksaan yang dilakukan dan mengusulkan pedoman untuk memperbarui penghayatan kaul kemiskinan dalam Serikat.


Pada awal tahun 2023, saya akan menerima dua hal. Pertama saya akan menerima laporan buah-buah perjalanan yang dibuat di Provinsi, Regio dan Konferensi. Kedua, saya akan juga menerima hasil revisi Statuta Kemiskinan dan IAG. Revisi kedua dokumen ini dilakukan oleh Komisi yang diangkat khusus untuk tujuan revisi ini dan dikoordinasi oleh Ekonom Kuria Generalat. Dengan demikian, dasar pijakan untuk menerima revisi Statuta Kemiskinan dan Instruksi tentang Pengelolaan Harta Benda (IAG) sudah disiapkan. Saya akan mempromulgasikan kedua dokumen ini pada saatnya dengan memperhatikan nasihat dari Konsul Jenderal yang Diperluas.


Bunda Maria dari Nazaret menjalani hidup yang miskin dan sederhana bersama Yusuf suaminya dan Yesus, puteranya. Kita mempercayakan diri kita kepada Bunda Maria dan semoga ia berkenan menemani kita dalam proses pemeriksaan batin kaul kemiskinan kita sehingga pengikut-pengikut Puteranya yang lebih baik.


Arturo Sosa, S.J.
Pater Jenderal
Roma, 27 September 2021
Pada perayaan pendirian Serikat Jesus ke-461.

(Teks asli dalam bahasa Spanyol)




Hari 5: Kemurahan Hati Melayani
Kuntum Bunga Yang Gugur Sebelum Berkembang: Kisah Misi Yesuit di Sumba
Hari 6: Sukacita dalam Perutusan