Banyak Pancaran, Satu Api: Banyak Kisah, Satu Sejarah


(1) Selama hampir 500 tahun, Serikat Yesus telah membawa api ke dalam lingkungan sosial dan budaya yang tak terhitung banyaknya. Lingkungan sosial dan budaya ini sangat menantang Serikat dalam mempertahankan kobaran api itu tetap hidup dan menyala. Situasi yang dihadapi dewasa ini tak berbeda. Dalam sebuah dunia yang merangkul umat manusia dengan pelbagai sensasi, gagasan, dan pencitraan, Serikat Yesus mencari jalan agar percikan api inspirasi dasarnya tetap menyala sehingga menghangatkan dan menjadi terang bagi dunia zaman sekarang. Serikat Yesus melakukannya dengan menuturkan kisah yang telah teruji oleh zaman, meskipun anggota-anggotanya tidak sempurna, pun seluruh tubuh Serikat, karena kebaikan Allah yang senantiasa berlangsung tidak pernah membiarkan nyala api itu padam. Ikhtiar kita di sini adalah menyajikan kembali kisah hidup baru yang, ketika dihadapkan pada perjumpaan dengan cerita kehidupan nyata umat manusia dewasa ini, dapat memberikan makna dan menyajikan arah di dalam dunia yang terbelah.


(2). Selama berabad-abad, sejarah Serikat telah memberikan tumpuan bagi pelbagai pengalaman tentang kesatuan di tengah keberagaman. Meskipun berbeda kultur dan konteks, kita para Yesuit acap kali dikejutkan oleh kenyataan bahwa kita disatukan. Melalui penegasan dalam suasana doa, diskusi terbuka, dan pembicaraan rohani, kita senantiasa dirahmati secara khusus untuk menyadari bahwa kita adalah satu di dalam Tuhan, diikat dalam satu tubuh apostolis untuk mengupayakan yang terbaik demi pelayanan bagi Allah di dalam Gereja dan dunia. Pengalaman berahmat ini mengingatkan kita pada Deliberatio Primorum Patrum. Kendati menyadari diri lemah dan rapuh, lagi berasal dari berbagai tempat, teman-teman pertama menemukan bersama kehendak Allah di tengah besarnya perbedaan pendapat. Yang nemungkinkan mereka menemukan kehendak Allah adalah kesediaan mereka untuk menaruh Pethatian dan sepenuhnya bersikap terbuka untuk memberikan diri secara utuh demi lebih besarnya kemuliaan Allah. Demikianlah mereka membuka kisah mereka; mereka nyalakan api, yang kemudian diwariskan pada generasi-generasi selanjutnya kapan pun orang berjumpa dengan Serikat; dan yang memungkinkan sejarah pribadi dari berbagai generasi menjadi bagian dari sejarah Serikat secara menyeluruh. Sejarah kolektif ini melandasi kesatuan mereka; dan jantung tinya adalah Yesus Kristus. Meskipun kita berbeda, Kristus menyatukan kita sebagai Yesuit juga hasrat untuk mengabdi-Nya: tidak tuli akan panggilan Tuhan, melainkan dengan penuh kesediaan dan kesiapan memberikan diri untuk menjalankan kehendak-Nya yang amat suci. Dialah citra tak tergantikan dari Allah yang tak kelihatan, yang mampu menyatakan Diri-Nya di mana pun; dan di tengah budaya pencitraan yang penuh pesona, Dialah satu-satunya citra yang menyatukan kita. Yesuit mengenali dirinya sendiri dengan memandang Dia.


(3). Dalam persahabatanlah (companionship), kita para Yesuit menemukan jati diri kita bukan dalam diri perorangan kita, namun dalam persahabatan dengan Tuhan yang memanggil, dan dalam persahabatan dengan rekan-rekan yang ikut ambil bagian dalam panggilan ini, Sumbernya dapat ditemukan dalam pengalaman Santo Ignasius di La Storta. Di La Storta, Ignasius “ditempatkan” bersama Putra Allah dan dipanggil untuk mengabdi-Nya, Dia yang memanggul salib-Nya. Di situlah Ignasius dan teman-teman pertama menanggapi dengan mempersembahkan diri mereka kepada Paus, Wakil Kristus di dunia, bagi pelayanan iman. Sang Putra, citra sejati Allah sendiri, Yesus Kristus, pemersatu mereka; Dialah yang mengutus mereka ke seluruh dunia. Dialah citra dalam jiwa keberadaan Yesuit dewasa ini; dan citra itulah yang ingin kita wartakan sebaik mungkin kepada sesama.


Konteks Baru—Ujung Batas Baru


(20). Melayani perutusan Kristus zaman ini berarti menaruh perhatian khusus pada konteks global. Konteks ini menuntut kita untuk bertindak selaku tubuh universal dengan perutusan universalnya, sambil pada saat yang sama mengakui adanya perbedaan mendasar pada situasi kita. Sebagai komunitas seluas dunia—dan secara bersamaan pula sebagai jejaring komunitaskomunitas setempat—kita berikhtiar melayani sesama di seluruh dunia. Perutusan iman dan keadilan, dialog agama dan budaya telah menuntut dimensi yang tidak lagi memungkinkan kita untuk membayangkan dunia sebagai bagian-bagian yang saling terpisah; kita hendaknya melihat dunia sebagai satu keseluruhan, tempat kita saling bergantung. Globalisasi, teknologi, dan lingkungan telah menantang sekat-sekat tradisional kita dan menumbuhkan kesadaran kita, yaitu bahwa kita mengemban tanggung jawab bersama bagi kesejahteraan seluruh dunia dan perkembangannya secara berkelanjutan dan mencerahkan.


(21). Budaya konsumtif saat ini tidak menumbuhkan semangat dan hasrat, melainkan lebih mendatangkan ketergantungan dan paksaan. Budaya seperti ini menuntut resistensi. Tanggapan sepenuh hati terhadap kemerosotan budaya ini sangatlah dibutuhkan dan tidak bisa dihindari apabila kita hendak berbagi hidup dengan orang-orang sezaman. Di tengah tantangan situasi yang berubah seperti ini, tanggung jawab kita sebagai Yesuit untuk bekerja sama pada pelbagai tataran telah menjadi sebuah keharusan. Oleh karena itu, provinsi-provinsi kita hendaknya bekerja bersama lebih dari sebelumnya. Demikian pula kita hendaknya bekerja bersama yang lain, yaitu: kaum religius pria dan wanita dari kongregasi lain, kaum awam, aktivis gereja, mereka yang berbagi semangat kita meskipun beda keyakinan; singkatnya, semua orang yang berkehendak baik.


(22) Allah telah menciptakan dunia dengan beragam penghuninya; dan baguslah kenyataan ni, Penciptaan mengungkapkan kekayaan keindahan dunia yang layak dicintai ini: ada yang bekerja, ada yang tertawa, ada pula yang bertumbuh; semua ini adalah tanda-tanda bahwa Allah pidup di antara kita. Meskipun demikian, ternyata kemajemukan menjadi masalah manakala perbedaan antar manusia dipahami sedemikian rupa sehingga sejumlah orang menikmati kesejahteraan atas orang lain yang tersingkir sedemikian sehingga orang bertikai, saling membunuh, dan ingin memusnahkan. Kemudian, Allah dalam Kristus menderita di dalam dan bersama dunia yang hendak diperbarui-Nya. Tepat di sinilah letak perutusan kita. Di sinilah kita hendaknya membuat penegasan atas perutusan kita selaras dengan tolok ukur magis (LR 97) dan demi kebaikan yang lebih universal (Kons. 622). Allah hadir dalam pekatnya hidup untuk membarui segalanya. Allah membutuhkan rekan-rekan kerja dalam usaha ini, yaitu mereka yang dilimpahi anugerah berada di bawah panji Putra-Nya. “Bangsa-bangsa” yang melampaui definisi geografis menanti kita, yaitu “bangsa-bangsa” yang kini mencakup mereka yang miskin dan tersingkir, mereka yang sangat kesepian, mereka yang mengabaikan adanya Allah dan mereka yang memakai Allah sebagai alat demi tujuan politis. Merekalah “bangsa-bangsa” baru, dan kepada mereka kita diutus.


(23) Seraya mengenang Pater Hieronimus Nadal, bersamanya kita berseru: dunia adalah rumah kita. Sebagaimana belum lama berselang Pater Kolvenbach mengungkapkannya: “hidup monastik yang menetap bukanlah milik kita, karena kita telah menerima seluruh dunia untuk menyampaikan kabar baik... kita tidak menutup diri dalam sebuah biara, melainkan berada dalam dunia di antara umat manusia yang dicintai Allah, karena mereka ada di dunia.” Pria dan wanita dalah pusat keterlibatan kita dalam dialog dan pewartaan karena perutusan kita adalah Perutusan Gereja, yaitu menemukan Yesus Kristus yang sebelumnya tidak kita sadari dan, menyatakan-Nya di tempat sebelumnya Ia tidak dikenal. Dengan kata lain, kita berikhtiar ‘menemukan Allah dalam segala,” seraya mengikuti apa yang telah diungkapkan oleh Santo lgnasius kepada kita dalam “Kontemplasi untuk Mendapatkan Cinta.” Seluruh dunia menjadi arah perhatian dan keprihatinan kita.


(24) Demikianlah, sebagaimana dunia ini berubah, begitu juga konteks perutusan kita. Wilayah-wilayah batas baru mengisyaratkan bahwa kita berhasrat untuk merengkuhnya. Oleh karena itu, kita menceburkan diri lebih dalam lagi ke dalam dialog dengan agama-agama yang kepada kita memperlihatkan bahwa Roh Kudus berkarya di seluruh dunia yang dicintai Allah, Kita juga berpaling pada “wilayah batas” bumi ini, yang semakin dirusak dan dihancurkan. Di sinilah, disertai keprihatinan pada keadilan lingkungan, kita kembali menemukan Roh Allah yang berkehendak membebaskan ciptaan yang menderita ini, yang menuntut dari kita ruang untuk hidup dan bernapas.


Semua inisiatif yang diminta dari para Superior Mayor tentu akan membantu usaha kita untuk memikat Jesuit-Jesuit baru, tapi tentu tidak dapat berhasil jika tanpa kultur promosi panggilan yang kuat yang menuntut keterlibatan aktif semua Jesuit dan rekan awam kita. Ada banyak hal yang masing-masing dari kita dapat lakukan, tapi saya ingin menggarisbawahi dua hal secara khusus.


Ite Inflammate Omnia


(25) Alkisah, sewaktu mengutus Santo Fransiskus Xaverius ke dunia Timur, Santo Ignasius mengatakan kepadanya, “Pergilah, kobarkan seluruh dunia!” Dengan kelahiran Serikat Yesus, kobaran api baru dinyalakan di tengah dunia yang berubah. Sebentuk baru kehidupan religius hadir, bukan berkat upaya manusia, namun karena prakarsa ilahi. Nyala api yang telah disulut ini kemudian membakar kehidupan kita, sebagai Yesuit, saat ini, sebagaimana dikatakan oleh Santo Alberto Hurtado, “Nyala api yang menyulut kobaran api-api yang lain.” Dengannya kita dipanggil untuk menjadikan segala hal berkobar dengan kasih Allah (Luk 12,49).


(26) Itulah tantangan baru bagi panggilan kita zaman ini. Kita menghayati jati diri kita sebagai sahabat Yesus di tengah konteks ketika keberagaman citra, wajah jamak budaya yang terbelah, mengundang perhatian kita. Semua itu merasuki kita pula, berakar di tengah tanah subur hasrat alamiah kita, dan memengaruhi kita dengan sensasi yang memenuhi dan mengontrol perasaan dan keputusan kita di luar kesadaran kita. Namun kita mengetahui dan mewartakan satu gambaran, Yesus Kristus, citra Allah yang benar dan citra kemanusiaan sejati. Dialah yang, manakala kita mengontemplasikan-Nya, menjelma manusia dalam diri kita, merajut batin kita yang koyak dan menjadikan kita utuh sebagai pribadi, sebagai komunitas, dan sebagai tubuh rasuli yang dibaktikan pada perutusan Kristus.


(27) Untuk menghidupi perutusan di tengah dunia yang terpecah ini, kita membutuhkan komunitas yang penuh persaudaraan dan kegembiraan. Di dalamnya kita menumbuhkan dan mengungkapkan dengan penuh perhatian satu keinginan yang dapat menyatukan perbedaan kita dan membantu untuk menghidupi kreativitas kita. Kehendak tersebut tumbuh dalam pengalaman akan Allah yang selalu diperbarui, yang gambaran dan kasih-Nya pada Dunia tak terbatas. Kasih tersebut mengundang kita untuk “terlibat dalam perutusan Dia, yang diutus Bapa, dalam Roh Kudus, demi pelayanan yang lebih besar, dalam kasih, dengan segala bentuk salib, dalam meniru serta mengikuti Yesus, yang ingin membawa semua umat manusia dan semua ciptaan bagi kemuliaan Bapa.” 




Hari 7: Menyulut Kobaran Api yang Lain
Dari ‘Lembah Maria’ ke ‘Lembah Code’, Seratus Tahun Novisiat Serikat Yesus di Yogyakarta 1922
Hari 8: Reformatio Vitae