Editor Monumenta memperkirakan bahwa petuah ini diberikan sekitar tahun 1541, yakni sebelum Konstitusi selesai dibuat dan tak lama sesudah Ignasius dipilih menjadi jenderal. Ribadeneira mengemukakan bahwa surat ini ditulis untuk anggota Serikat di Alcala dan kerap dibaca ulang serta dijaga penuh hormat. Surat ini berisi nasihat-nasihat rohani kepada anggota-anggota muda mengenai cara berelasi dengan sesama, khususnya untuk hidup bersama dalam semangat persaudaraan.


1. Kita harus berusaha mempertahankan kemurnian hati kita dalam cinta kasih kepada Allah, tidak mencintai apapun kecuali Dia, dan berharap hanya ingin bergaul dengan Dia dan dengan sesama demi cinta kasih kepadaNya, bukan demi kepuasan dan kesenangan kita.


2. Kita harus bicara hanya saat diperlukan dan demi pembangunan rohani kita atau sesama, dan menghindari apapun yang tak berguna bagi kemajuan jiwa, seperti ingin mengetahui berita dan urusan duniawi. Kita harus selalu bersedia mempercakapkan hal-hal yang berhubungan dengan kerendahan hati dan penyangkalan diri, bukan hal-hal yang menimbulkan tertawa atau kecaman.


3. Jangan seorangpun ingin dianggap dapat berbicara dengan baik, luwes, bijak, atau fasih. Pandanglah Kristus, yang tidak memperhitungkan segalanya itu dan telah memilih direndahkan dan dihina demi keselamatan kita daripada dipuji dan dihormati.


4. Janganlah ingin melihat atau melakukan sesuatu yang tidak pantas dilihat atau dilakukan di hadapan Tuhan dan ciptaan-Nya. Kita harus selalu membayangkan diri kita berada di hadirat-Nya.


5. Jangan berdebat keras-kepala dengan siapapun. Akan tetapi, dengan sabar kita harus mengutarakan alasan-alasan kita dengan maksud menerangkan kebenaran supaya jangan mereka tinggal dalam kesesatan dan pendapat kita sendiri yang menang.


6. Salah satu perkara yang harus menjadi kebiasaan kita, agar berkenan kepada Tuhan, ialah: bahwa kita harus membuang jauh-jauh segalagalanya, yang dapat menghilangkan cinta kasih persaudaraan. Kita harus Selalu berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mencintai mereka dengan cinta kasih persaudaraan, karena Kebenaran Abadi bersabda: “Kalau kalian saling mengasihi, semua orang akan tahu bahwa kalian pengikut-pengikut-Ku” (Yoh 13,35).


7. Bila ada yang memberi sandungan kepada orang-orang lain dan jantas berpendapat bahwa tidak akan dihargai lagi seperti dulu, ia tidak boleh menuruti kekecewaanya, sehingga membuat yang buruk lagi; tetapi ia harus merendahkan diri dan minta maaf kepada mereka yang tersandung karena teladannya yang buruk itu dan meminta penitensi kepada Pembesar. la harus berterima kasih kepada Tuhan, yang memperkenankan ia direndahkan, sehingga semua orang mengenalnya menurut keadaan sebenarnya.


Janganlah ia ingin dianggap lebih baik di mata orang daripada yang sesungguhnya di mata Tuhan. Saudara-saudaranya yang lain, yang menyaksikan itu, harus ingat baik-baik bahwa mereka sendiri dapat jatuh dalam kelemahan yang lebih buruk lagi, dan mereka harus berdoa kepada Allah supaya Ila memberikan kekuatan.


8. Dalam diri Pembesar kita semua, kita harus selalu memandang pribadi Kristus, yang mereka wakili. Dalam kebingungan, kita harus meminta nasihat kepada mereka dan yakinlah bahwa Tuhan berkenan membimbing kita melalui perantaraan mereka.


9. Kita tidak boleh menyembunyikan godaan-godaan, pikiranpikiran yang pada hemat kita baik tetapi harus memberitahukan itu kepada bapa pengakuan atau Pembesar kita. Sebab “Iblis sendiri pun menyamar sebagai malaikat terang” (2Kor 11,14). Kita harus lebih bertindak menurut pendapat dan hasihat bapa rohani daripada menurut pendapat kita sendiri karena kita harus selalu lebih mencurigai pendapat kita sendiri.


10. Dalam pergaulan dengan sesama, kita harus menjaga agar tngkah laku kita bersahaja dan berusaha agar tidak terlalu murung serta terlalu tegang; sebaliknya, jangan pula terlampau gembira dan tertawa terbahak-bahak. Tetapi seperti dikatakan sang rasul: “Hendaklah semua orang dapat melihat sikapmu yang baik hati” (Fil 4,5).


11. Janganlah kita menunda perbuatan-perbuatan baik, meski remeh sekalipun, dengan alasan bahwa pada waktu lain kita akan membuat sesuatu yang lebih besar. Inilah godaan biasa dari si musuh yakni supaya kita mencari kesempurnaan dalam hal-hal yang masih akan datang. Dengan tipuannya itu la berhasil membuat kita meremehkan perkara-perkara sekarang ini.


12. Marilah kita semua tekun dalam martabat panggilan Tuhan dan jangan sampai mematahkan kesetiaan kita yang pertama. Karena kebiasaan musuh adalah menggoda orang-orang yang di padang gurun supaya bergaul dengan sesama manusia untuk menolong mereka; demikian pula sebaliknya pada mereka yang sedang menolong sesama manusia, setan menunjukkan kesempurnaan yang lebih tinggi dalam padang gurun dan hidup dalam kesunyian. Dengan cara ini setan menarik perhatian kita kepada yang jauh untuk menghalang-halangi kita memperoleh apa yang baik saat ini.




Hari 8: Reformatio Vitae
Tur Misi oleh P. Fransiscus Straeter S.J.
Surat Ignatius kepada para Yesuit yang diutus berkarya (8 Oktober 1552).