Dari Eropa ke Nusantara


Bagi sejarah Gereja Katolik Indonesia, tanggal 24 Juni 1522 adalah suatu tanggal istimewa. Pada hari itu di Ternate diresmikan berdirinya Benteng São João di mana di dalamnya ada Gereja Portugis dengan seorang pastor vikaris yang bertugas di sana. Tugasnya terutama untuk melayani orang-orang Portugis yang tinggal di Maluku. Pada waktu itu Gereja Katolik di Maluku merupakan bagian dari Keuskupan Goa dan berada di bawah perlindungan (Padroado) kerajaan Portugal.


Ketika di Ternate dimulai suatu kehidupan kekatolikan, meskipun masih terbatas pada orang-orang Portugis, pada bulan Juni tahun 1522 itu, jauh di semenanjung Iberia, di sebuah desa bernama Manresa seorang mantar serdadu bernama Iñigo sedang berkanjang dalam doa untuk memutuskan jalan hidup yang akan ditempuhnya setelah mengalami peristiwa kekalahan dan menderita luka di pertempuran di Benteng Pamplona setahun sebelumnya. Doa-doa di Manresa mengantar Iñigo ke Roma, Tanah Suci, kembali ke Spanyol dan akhirnya menempuh studi di Paris.


Dua belas tahun kemudian, pada bulan Agustus 1534, Iñigo yang sudah dikenal dengan nama Ignatius, dan 6 sahabat pertama yang ia kumpulkan selama belajar di Paris mengucapkan kaul di Kapel Montmartre di Prancis. Mereka berkaul untuk ke Yerusalem atau jika keadaan tidak memungkinkan, mereka akan membaktikan diri sesuai dengan yang diinginkan oleh Wakil Kristus di Dunia, Sri Paus di Roma. Pada bulan September tahun itu, Fransiskus Xaverius, salah satu sahabat pertama Ignasius, Latihan Rohani di bawah bimbingan Ignasius.


Pada tahun yang sama, tahun 1534, kekatolikan di Maluku memasuki suatu babak baru. Penduduk beberapa desa di pesisir timur laut pulau Halmahera dan pulau Morotai dibaptis. Mereka adalah orang-orang Katolik pertama di Nusantara. Jemaat inilah yang kelak akan dikunjungi oleh Fransiskus Xaverius dua belas tahun kemudian, pada akhir tahun 1546.


Fransiskus Xaverius tiba di Goa, India, pada 6 Mei 1542. Beberapa bulan kemudian Xaverius berkonsentrasi di pesisir di ujung selatan India di mana terdapat puluhan ribu baptisan baru dari kalangan para nelayan (paravar).


Panggilan dari Makassar


Ketika Xaverius memutuskan untuk melakukan kunjungan ke kepulauan Nusantara, tujuan utamanya sebenarnya bukanlah Maluku, melainkan Makassar. Ia mendengar kabar mengenai Makassar ketika berada di Cochin pada bulan Januari 1545. Di sana ia berjumpa dengan Antonio Paiva yang baru saja berlabuh dari pelayaran dari Malaka. Dari Paiva Xaverius mendengar kabar mengenai dua raja di ujung selatan pulau Sulawesi yang telah menerima baptisan, yakni Raja Supa dan puteranya, serta raja Siau. Dalam suratnya kepada para Yesuit di Roma yang ditulis di Cochin tertanggal 27 Januari 1545 Xaverius menulis,


“Di suatu negeri yang lain, yang jaraknya hampir lima ratus league dari tempat saya berada ini [Cochin], terdapat tiga pembesar negeri dan para pengikutnya yang menjadi Kristiani sekitar delapan bulan yang lalu. Para pembesar negeri ini datang ke Benteng Raja Portugal [di Malaka] untuk memohon agar didatangkan para rohaniwan yang kiranya akan memperkenalkan dan mengajarkan hukum Tuhan [...]; tetapi sejak waktu itu mereka berharap untuk hidup sebagai orang-orang yang memiliki pengetahuan dan pelayanan kepada Allah. Oleh sebab itu kapiten benteng Portugis mengirim para imam untuk melaksanakan pelayanan suci. Dari apa yang saya tulis, kalian dapat menangkap betapa tanah ini sudah siap untuk menghasilkan banyak buah. Mohon berdoa bagi mereka.”

Di pihak lain, Xaverius sedang dalam kebimbangan besar mengenai apa yang akan dilakukan selanjutnya, sebab ia juga mendengar kabar mengenai pembantaian yang dilakukan oleh Raja Jaffna terhadap orang Kristiani yang baru saja dibaptis di Srilanka. Dalam surat kepada Francisco Mansilhas, dari Negapatam, 7 April 1545, Xaverius menulis,


“... orang-orang di wilayah Malaka [catatan: tentu yang dimaksud adalah Makassar] sungguh-sungguh terbuka untuk berbakti kepada Tuhan; dan bahwa banyak yang tidak berhasil menjadi Kristiani dan bahwa iman kita tidak bisa ditingkatkan karena kurangnya tenaga orang yang bekerja di sana. Karena saya tidak tahu apa yang akan terjadi di Jaffnapatam (di Sri Lanka), saya masih belum memutuskan apakah akan pergi ke Malaka atau tinggal di sini. Sepanjang bulan Mei saya akan mempertimbangkan apakah saya harus pergi ke sana (Makassar) ataukah tidak. Jika Allah Tuhan kita menghendaki saya ke pulau Makassar, di mana belum lama ini orang-orang menjadi Kristiani, dan bahwa permintaan telah diajukan oleh raja wilayah itu agar seorang imam dikirim ke sana ..., jika saya telah membuat keputusan dalam bulan Mei untuk pergi ke sana, saya akan mengirim seorang utusan ke Gubernur Goa dan memberi kabar kepadanya bahwa saya akan pergi ke wilayah itu, sehingga dia bisa memerintahkan kapiten Malaka untuk membantu dan melengkapi saya dengan apa pun yang akan diperlukan untuk pelayanan kepada Allah di sana”.

Dalam kebimbangan itu Xaverius memutuskan untuk menyepi ke Makam Rasul Thomas di kota Mylapore untuk melakukan doa dan mati raga. Di sana ia melakukan retret untuk “mencari terang dalam kegelapan yang menggelisahkan”. Muncul banyak pertanyaan mengenai arah kerasulannya: ke mana Tuhan memanggilnya? Ke Ethiopia? Pergi ke Srilanka di Kotte atau ke Jaffna? Ke Maluku di mana Raja Dom Manuel Tabarija telah kembali untuk mengambil alih kekuasaan dan mendirikan kerajaan Kristen di sana? Atau ke Makassar untuk membantu raja di sana yang telah dengan tulus memohon agar dikirimi misionaris untuk memperkenalkan iman Kristiani di sana?


Setelah melakukan discernment, Xaverius diyakinkan bahwa ia dipanggil ke Makassar. Dalam surat tertanggal 8 Mei 1545 yang ditulis dari Mylapore, ia menyampaikan keputusannya kepada Master Diogo dan Micer Paolo di Goa


“Saya berpengharapan bahwa Allah Tuhan kita akan menganugerahkan rahmat kepada saya dalam perjalanan ke depan, sebab Ia telah menganugerahkan kepada saya, dengan kepuasan jiwa yang besar dan penghiburan rohani, suatu dukungan dengan membuat saya merasa bahwa merupakan kehendakNya bahwa saya pergi ke wilayah Makassar di mana belakangan ini telah menjadi Kristiani.”

Rupanya Fransiskus Xaverius demikian yakin dengan keputusan itu, “Saya begitu bertekad untuk mengemban apa yang Allah kehendaki untuk saya alami di dalam batin saya, sehingga tampaklah bagi saya bahwa saya melawan kehendak Allah apabila saya tidak melakukannya, dan bahwa [jika saya tidak melaksanakannya] Dia tidak akan menganugerahkan kepada saya rahmat-Nya baik di kehidupan saat ini maupun pada kehidupan selanjutnya.”


Lebih lanjut ia mengungkapkan, “Apabila tidak ada kapal Portugis yang berlayar ke Malaka pada tahun ini, saya akan berlayar di atas kapal orang-orang Moor atau perahu orang-orang kafir. Kepercayaan saya kepada Allah Tuhan kita demikian besar […] sebab hanya karena kasih-Nya semata saya melakukan perjalanan ini, sehingga bahkan apabila tahun ini tidak ada kapal yang berlayar dari pantai ini, dan biarpun yang tersedia hanya sebuah perahu rakit, saya akan dengan percaya diri pergi menggunakannya, menempatkan seluruh pengharapan dalam Tuhan.”


Akhirnya, Fransiskus berlayar ke Malaka dan tiba di sana pada akhir September 1545. Di sana, Fransiskus bekerja keras untuk mempertobatkan banyak orang Portugis dan orang berdarah campuran, supaya hidup layak sebagai orang Kristen. Selain itu, ia juga mengusahakan terjemahan sebuah katekismus pendek ke dalam bahasa Melayu. Dari Malaka ia menulis:


"Aku telah menulis panjang lebar dari India tentang diriku, sebelum berangkat ke Makassar, tempat dua raja memeluk agama Kristen. Aku tiba di Malaka satu setengah bulan yang lalu, tempat aku menanti cuaca baik untuk berangkat ke Makassar, satu setengah bulan lagi dari sekarang. Aku akan menetap di situ, apabila ini kehendak Tuhan. Makassar sangat jauh, lebih dari seribu league dari Goa. Orang yang kembali dari sana mengatakan, bahwa daerah itu siap menerima iman Kristiani, karena mereka tidak memiliki kuil pemujaan dan tidak memuja berhala lagi. Mereka menyembah matahari, apabila mereka melihatnya, tetapi mereka tidak menyembah yang lain. Orang berperang satu sama lain terus menerus."

Tikungan di Malaka


Rencana Fransiskus Xaverius untuk ke Makassar tidak pernah terlaksana. “Saya akan berlayar ke Amboina”, tulisnya kepada para Yesuit di Goa, “di mana terdapat banyak orang Kristiani dan ada banyak kesempatan untuk menambah jumlah mereka.” Mengapa Fransiskus Xaverius berbelok ke Maluku? Mengenai alasan surutnya rencana ke Makassar, ia hanya menulis, “karena berita dari sana tidak sebaik yang mereka sangka, maka saya batal ke sana.” Yang dimaksud dengan “berita yang tidak sebaik yang mereka sangka” adalah retaknya hubungan antara Raja Supa yang sudah dibaptis dengan orang Portugis di Malaka lantaran perkawinan lari putri raja dengan seorang perwira Portugis.


Beberapa tahun sebelumnya, seorang imam yang bertugas di Malaka, Pastor Viegas, sudah berlayar ke Makassar untuk mengajarkan iman kepada orang-orang yang telah dipertobatkan oleh Antonio Paiva. Raja Supa yang gemar berperang telah menjadi Kristen, bukan hanya karena tertarik kepada ajaran agama yang diwartakan Paiva, tetapi mereka memiliki dorongan lain terkait dengan kekuasaan mereka di kawasan tersebut, yakni dukungan senjata api Portugis.


Selama lebih dari setahun Pastor Viegas memberikan pelajaran agama dan membaptis keluarga-keluarga golongan berkuasa di Makassar. Ketika hendak meninggalkan Makassar untuk kembali ke Malaka terjadi kegemparan di pantai karena puteri raja, Helena, hilang. Rupanya gadis itu secara diam-diam naik ke kapal dengan pemuda Portugis yang dicintainya, João de Eredia. Sejak peristiwa itu hubungan antara Malaka dan Kerajaan Supa putus. Itulah “berita buruk” yang menyebabkan Xaverius mengurungkan niat untuk berkunjung Makassar. Dalam bulan Januari 1546 Fransiskus Xaverius memulai perjalanan menuju Maluku, berbelok dari rencana semula.


F. Suryanto Hadi S.J.

Sumber

Costelloe, M.J. 1993. The Letters and Instructions of Francis Xavier. Gujarat: Gujarat Sahitya Prakash.

Heuken, A. 2009. 150 Tahun Serikat Jesus Berkarya di Indonesia. Jakarta: Cipta Loka Caraka.

Muskens, M.P.M. (ed). 1974. Sejarah Gereja Katolik Indonesia. Jilid I. Ende: Percetakan Arnoldus.

Schurhammer, G. 1980. Francis Xavier. His Life, His Times. Roma.



Hari I: Consideratio Status
Dari luka-luka di Pamplona menuju suatu Hidup Baru
Hari 2: Asas dan Dasar sebagai Jesuit