Kunjungan Fransiskus Xaverius di Maluku (1546-1547)


Dengan menumpang Galeon Banda, Fransiskus berlayar dari Pelabuhan Malaka ke Kepulauan Maluku. Mereka mendarat di Pantai Hatiwi di pantai barat Teluk Ambon pada tanggal 14 Februari 1546. Pada waktu itu ada sekitar delapan ribu umat Katolik tinggal di Hatiwi dan enam desa lainnya. Mereka menerima baptisan pada tahun 1538. Fransiskus Xaverius menetap di Ambon dan berkarya di sana dari bulan Februari hingga Juni 1546. Selama bekerja di Ambon ia ditemani oleh Manuel, anak lelaki kepala kampung Hatiwi.Ia menjadi asisten Xaverius, membawakan buku brevir dan sekaligus berperan sebagai juru bahasa. Mereka mengunjungi kampung-kampung Kristen di Ambon. Baru setelahnya Fransiskus Xaverius melakukan pelayaran mengunjungi pulau-pulau di sekitar Ambon.


"Setiap pulau menggunakan bahasa sendiri; di satu pulau hampir setiap desa memakai bahasa berbeda. Bahasa Melayu seperti digunakan di Malaka sangat lazim di kawasan ini. Dengan susah payah saya menerjemahkan (waktu di Maluku) Syahadat dengan tafsir setiap kalimatnya, doa Saya Mengaku, Bapa Kami, Salam Maria, Salva Regina dan Sepuluh Perintah Allah. Maksudnya, supaya orang mengerti, bila saya menerangkan hal yang penting. Kekurangan besar di seluruh kepulauan ini adalah tiada tulisan dan hanya sedikit orang yang dapat membaca. Bahasa yang dipakai adalah Melayu dan ditulis dengan aksara Arab, yang sudah dan masih diajarkan oleh cacizes Moor. Sebelum mereka menjadi Moor, mereka belum dapat menulis."


Waktu kembali dari Seram, di Ambon terdapat delapan kapal dengan orang Spanyol berlabuh di teluk. Di antara para pelaut dan pedagang ada empat biarawan dari Ordo Agustinian yang bertugas menjadi almosenir. Biarawan Agustinian dan perwira-perwira, para juru mudi dan kelasi-kelasi Spanyol menceritakan kepada Xaverius tentang pulau-pulau yang mereka kunjungi di utara. Akan tetapi yang paling menarik perhatian Xaverius adalah cerita orang-orang itu mengenai Kepulauan Moro, yakni bagian utara Pulau Halmahera dan Pulau Morotai. Dari cerita-cerita itu Xaverius mengetahui bahwa terdapat umat Katolik yang lebih tua daripada umat di Ambon. Mereka telantar karena tidak pernah dikunjungi imam dari Ternate dan dianiaya oleh Raja Jailolo.


"Di seberang Maluku (=Ternate) terdapat sebuah pulau namanya O Moro, 60 mil dari Maluku (Ternate). Di Pulau O Moro, beberapa tahun lalu banyak orang menjadi Kristen. Tetapi, karena imam yang membaptis mereka meninggal, maka mereka ditinggalkan tanpa pewartaan.” (Surat dari Amboina, Mei 1546).


Dari Ambon Fransiskus berlayar ke Ternate. Sebelum sempat berlayar ke Halmahera, Fransiskus tinggal di rumah Balthasar Veloso di Ternate. Waktu Fransiskus hendak menguatkan iman umat di Moro, para kenalannya di Ternate berusaha keras mencegahnya, sebab mereka cemas, jangan-jangan penduduk pedalaman akan membunuhnya. Bukan berarti Fransiskus Xaverius tidak mengalami pergulatan ketika harus mengunjungi Kawasan Moro. Sejak di Ambon ia telah mendengar mengenai tantangan yang kemungkinan harus dihadapi.


“Karena kawasan Moro berbahaya sekali dan orang sangat suka menipu serta sering mencampurkan racun ke dalam makanan dan minuman, yang diberikan kepada orang lain, maka orang yang dapat melayani orang Kristen di Moro ini menolak pergi ke sana. Tetapi, karena orang Kristen di Pulau Moro sangat membutuhkan pengajaran agama dan orang yang mau membaptis mereka, supaya jiwa mereka diselamatkan, dan juga karena saya merasa wajib juga menyerahkan hidup di bumi ini untuk membantu hidup rohani sesama manusia, saya putuskan berangkat ke Moro, untuk menolong hidup rohani orang Kristen itu dengan menanggung bahaya mati, namun menaruh harapan serta kepercayaan kepada Tuhan Allah."


Dalam surat pada bulan Mei 1546 ini Fransiskus Xaverius mengutip kalimat dari Injil yang sering dilekatkan sebagai kata-kata yang diucapkan Ignatius di Paris ketika berusaha ‘mempertobatkan’ Xaverius. Fransiskus Xaverius menulis, “...maka saya memutuskan untuk pergi ke Moro …; dan saya pun menaruh seluruh pengharapan dan segenap keyakinan saya pada Allah Tuhan kita, dan dengan sangat rindu mau menyamakan diri saya dengan segala tenaga saya yang lemah dan tak berarti ini dengan ucapan Kristus Penebus Kita, ‘Barangsiapa hendak memelihara nyawanya, akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, akan mendapatkannya’. Memang tidak sukar memahami arti bahasa Latin dan arti umum ucapan Tuhan itu. Akan tetapi apabila tiba saatnya menerapkan ucapan itu pada suatu keadaan tertentu untuk menyiapkan diri bagi keputusan terakhir, untuk melepaskan nyawa bagi Tuhan [...], apabila berhadapan dengan keadaan yang berbahaya yang di dalamnya orang harus menerima bahwa keputusan terakhir akan berarti hilangnya kehidupan, maka keadaan menjadi begitu gelap, sehingga perkataan Latin yang begitu jelas pun mulai menjadi gelap juga”. (Surat Xaverius dari Amboina, 10 Mei 1546).


Fransiskus menghabiskan waktu dari bulan September 1547 hingga Januari 1547 bersama dengan jemaat di Halmahera Utara (Morotia) dan Pulau Morotai. Orang Katolik di Kawasan Moro adalah jemaat Katolik pertama dari kalangan orang asli Nusantara. Mereka mendapat baptisan pada tahun 1534 oleh Pastor Simon Vaz yang bertugas sebagai vikaris di Ternate. Fransiskus Xaverius menceritakan kesan perjalanan di Kawasan Moro ini dalam sepucuk surat yang ditujukan kepada para Yesuit di Roma,


“Saya melaporkan ini, supaya kalian mengetahui tentang hiburan rohani yang berlimpah di pulau-pulau ini. Sebab, segala kesusahan dan bahaya, yang dengan rela diterima di sini, hanya demi kasih dan pengabdian kepada Tuhan Allah, merupakan hal berharga dengan hiburan rohani berlimpah-limpah. Ternyata, di sini, di pulau-pulau ini, seseorang mungkin kehilangan penglihatannya dalam waktu beberapa tahun, karena banyak menangis akibat mengalami penghiburan begitu besar. Saya tak bisa mengingat, apakah saya pernah mendapat hiburan rohani begitu besar dan terus-menerus seperti yang saya peroleh di pulau-pulau ini. Saya tidak begitu merasakan kelelahan meskipun saya terus menjelajahi pulau-pulau yang dikelilingi para musuh dan kawan yang tidak selalu bisa dipercaya. Di negeri ini tidak tersedia obat-obatan untuk melawan penyakit dan tidak terdapat sarana untuk menjaga kesehatan tubuh. Namun demikian, lebih tepat pulau-pulau ini dinamai 'Kepulauan Harapan kepada Allah' daripada 'Kepulauan Moro'."


Pada bulan Januari 1547 Fransiskus Xaverius kembali ke Ternate. Di sana ia mengajar agama dalam bahasa Melayu dan berusaha menyakinkan orang-orang Portugis yang menetap dan berkeluarga di Ternate agar hidup baik sebagai orang Kristen. Pada bulan Juni 1547 Xaverius kembali ke Malaka lewat Ambon. Sebelum meninggalkan Ambon ia menguatkan kembali orang Kristen dan berjanji akan mengutus seorang misionaris, yang akan menetap di pulau itu.


Masa Awal Misi Serikat Yesus di Maluku


Ketika masih berada di Ambon, sebelum berangkat ke Ternate dan Halmahera-Moro, Fransiskus Xaverius sudah memiliki pandangan bahwa para Yesuit harus hadir di Maluku. Ia melihat kegagalan dalam menghasilkan baptisan dalam jumlah besar di kalangan orang Maluku karena kurangnya tenaga misionaris. Xaverius menulis, “Apabila ada rumah Serikat di Maluku, sejumlah besar orang akan menjadi Kristen. Saya telah memutuskan bahwa rumah [Serikat] harus didirikan di sudut dunia Maluku ini demi lebih besarnya pelayanan kepada Allah Tuhan kita”. Untuk itu ia meminta dua orang Yesuit untuk datang ke Maluku dan memulai misi di sana. Ia meminta Pater Juan de Beira dan dan Pater Francisco de Mansilhas. Mungkin karena melihat sendiri besarnya tantangan di Maluku, Xaverius menulis dengan penekanan mengenai ketaatan “saya memerintahkan kalian atas nama ketaatan untuk datang” ke Maluku. De Mansilhas tidak berangkat ke Maluku. Menurut beberapa sumber akhirnya ia dikeluarkan dari Serikat karena ketidaktaatannya.


Pada bulan April 1547 empat orang Yesuit, Pater Juan de Beira dan Pater Nuno Ribeiro bersama Frater Nicolau Nunes dan seorang lagi bernama Baltasar Nunes berangkat dari Goa. Mereka sempat berjumpa dengan Xaverius di Malaka. Pada bulan Oktober 1547 para misionaris Yesuit pertama ini tiba di Ternate untuk memulai suatu misi permanen Serikat Yesus di Maluku. Misi Yesuit di Maluku akan bertahan selama 130 tahun hingga tahun 1677, saat para Yesuit terakhir meninggalkan Siau menuju Manila ketika orang Spanyol yang memberi perlindungan pada misi (patronato) semakin terdesak oleh armada VOC yang sudah menguasai perairan Kepulauan Maluku.


Dari empat Yesuit pertama itu, Pater Juan de Beira dan Frater Nicolau Nunes bertugas di Halmahera-Morotai sedangkan Pater Nuno Ribeiro dan Bruder Baltasar Nunes di Ambon. Nuno Ribeiro hanya bertahan beberapa bulan di Ambon. Ia meninggal karena diduga diracun. Dua tahun kemudian rombongan kedua misionaris tiba di Ternate. Mereka adalah Pater Afonso de Castro, Frater Manuel de Morais dan Frater Francisco Gonçalves. Pater de Castro dipilih oleh Fransiskus Xaverius untuk bekerja di Ternate dengan rencana penugasan sebagai rektor kolese yang akan didirikan di Ternate. Pater de Castro akan banyak bekerja di Ternate dan untuk beberapa kali kesempatan bekerja di Kawasan Moro. Pada tahun 1558 ia dibunuh sebagai martir ketika dalam perjalanan pulang ke Ternate.


Di antara para misionaris Yesuit awal di Maluku, Pater de Beira dan Nicolau Nunes termasuk yang paling lama bekerja di Maluku. Pater de Beira bekerja hampir 10 tahun di Maluku hingga tahun 1556 ketika menghabiskan masa akhirnya hidupnya di India sebagai orang yang mengalami kelelahan fisik dan mental.


Nicolau Nunes bekerja di Maluku lebih lama lagi. Ia seorang Portugis, lahir antara tahun 1525 dan 1529. Setelah belajar di sekolah klasik selama tujuh tahun, pada tanggal 25 Oktober 1545, ia bergabung dengan Serikat di novisiat Coimbra. Pada tahun 1546 ia mengucapkan kaul pertama dan pada tahun yang sama berlayar ke India dari mana dia dikirim ke Maluku pada tahun 1547. Bekerja bersama Pater de Beira, Moro menjadi ladang kerasulan utama Nunes selama bertahun-tahun. Pada periode tertentu dalam tahun ia meninggalkan Moro dan menetap beberapa waktu di Ternate di mana dia mendirikan sekolah bagi anak laki-laki. Pada bulan Februari 1556 dia berlayar bersama Pater de Beira ke India di mana dia ditahbiskan sebagai imam pada tahun 1557 dan segera kembali ke Maluku, kepada umat Kristiani Moro yang dicintainya. Artinya, seluruh formasi keyesuitan setelah novisiat dijalani di Maluku hingga ditahbiskan sebagai imam di India. Lebih dari sekali dokumen-dokumen Maluku mencatat bahwa Nunes menguasai bahasa asli (Melayu dan bahasa lokal Maluku) dan pengetahuan ini bahkan menjadi pertimbangan utama bagi tahbisan imamatnya. Catatan di India mengatakan bahwa Nicolau Nunes dinilai layak ditahbiskan sebagai imam karena kecakapannya dalam penguasaan bahasa Melayu dan bahasa Maluku, sesuatu yang akan sangat berguna bagi kerasulannya di Maluku.


Tetapi dari tahun 1558 sampai 1562 jalan ke Moro tetap terhalang oleh perang dan penganiayaan. Setelah kematian Pater Francisco Vieira pada tahun 1560, Nicolau Nunes adalah satu-satunya imam Yesuit di Ternate hingga kedatangan misionaris gelombang kemudian. Ia sempat bekerja di Lisabata, Bacan dan kemudian di Moro lagi. Ia ditempatkan di Sakita di Morotai pada tahun 1568. Pada bulan Februari 1569 ia berada di Ternate, tetapi pada tahun 1570 sekali lagi bekerja di Moro. Akhirnya dia meninggalkan Maluku secara definitif pada bulan Februari-Mei 1573, kembali ke Goa dan meninggal di sana pada bulan Mei 1576.


Dari ketekunan Nicolau Nunes kita mendapat gambaran mengenai misi Maluku. Ia banyak menulis laporan mengenai Maluku dan menjadi nara sumber tepercaya dari laporan-laporan yang ditulis oleh Frater Luis Frois. Dalam surat kepada para Yesuit di Goa dan Portugal, tertanggal 10 April 1551, Frater Nicolau Nunes menulis,


“Kami sangat bergembira dengan kabar baik yang kami miliki bahwa Tuhan dengan karya-Nya memberkati kami semuanya. Dia juga melakukan banyak kebaikan bagi Pater João de Beira dalam mempertobatkan orang-orang kafir, menghibur dan mengunjungi orang sakit, membantu mereka dalam kebutuhan mereka, dan memperhatikan banyak janda. Saya sendiri sangat sibuk menjalin persahabatan dan mendengarkan orang beriman. Ada begitu banyak pekerjaan rohani sehingga tidak ada waktu untuk menulis panjang lebar kepada kalian. Pater Afonso de Castro berkhotbah dengan penuh semangat dan sangat berhasil dengan khotbahnya; Setiap hari dia mengajarkan doktrin, melayani pengakuan kepada banyak orang dan menerimakan Sakramen Mahakudus berkali-kali, melepaskan orang-orang dari kebiasaan-kebiasaan lama mereka”.


Fransiskus Xaverius pernah menamai Kawasan Moro sebagai “Kepulauan Pengharapan akan Allah”. Akan tetapi dalam surat yang lain ia juga menamainya sebagai “Kepulauan Kemartiran” karena banyaknya tantangan yang harus dihadapi oleh para Yesuit yang bekerja di sana. Nicolau Nunes menggambarkan Pater de Beira sebagai orang yang telah mengalami “banyak kelaparan dan terbakar oleh terik matahari dan menanggung banyak penganiayaan, jatuh sakit dengan beberapa penyakit yang parah,.” Sementara mengenai pengalamannya sendiri Nicolau Nunes menceritakan bahwa “dua kali diserahkan untuk dibunuh, dan orang Moor datang menjemput saya untuk membunuh saya; secara ajaib Tuhan, yang adalah pelindung sejati dari semua, menjaga saya, quia nondum venerat hora mea (karena waktunya belum tiba).” Pada kesempatan lain Nicolau Nunes mengalami kapalnya kandas sehingga semua buku yang dibawa hilang hanyut tertelan ombak. Akan tetapi, tulisnya, “secara ajaib saya diselamatkan dengan berenang dengan susah payah, … dan bahkan tiba di benteng dengan telanjang”.


Cerita misi Maluku, memang banyak memuat cerita-cerita mengenai beratnya pengalaman di sana. Akan tetapi mereka juga bercerita mengenai situasi umum Maluku, keadaan alamnya, flora dan fauna, serta buah-buahan yang tumbuh di sana. Dalam laporan umum mengenai situasi di Maluku bertanggal 4 Januari 1576, Pater Nunes menulis, “Ada juga cengkeh di pulau lain, meski tidak semuanya, dan setiap tahun bisa membawa satu kapal penuh, karena sudah ada penduduk yang punya tiga ribu pohon cengkeh”. Sementara itu mengenai pulau-pulau yang ada di Maluku ia menulis, “Pulau-pulau ini sangat sehat, dengan udara yang baik dan pohon-pohon besar, dan airnya sangat bagus dan dingin, dengan aliran yang sangat segar.” Mengenai hewan sumber protein, Nunes menuliskan, “Ikan di laut ini gemuk dan enak, dan ayamnya sangat enak; ada beberapa babi juga.” Tidak ketinggalan, Pater Nunes mencatat mengenai lezatnya buah durian, “Ada buah yang lezat yang memiliki duriões, buah paling lezat di dunia, dan juga terdapat di Bacan dan Ternate.”


F. Suryanto Hadi S.J.

Sumber:

Costelloe, M.J. 1993. The Letters and Instructions of Francis Xavier. Gujarat: Gujarat Sahitya Prakash.

Jacobs, H. 1974. Documenta Malucensia. Jilid I. Roma: IHSJ.

Muskens, M.P.M. (ed). 1974. Sejarah Gereja Katolik Indonesia. Jilid I. Ende: Percetakan Arnoldus.

Schurhammer, G. 1980. Francis Xavier. His Life, His Times. Roma.


Hari II: Asas dan Dasar sebagai Jesuit
AMANAT Paus PAULUS VI KEPADA ANGGOTA KONGREGASI JENDERAL 32 pada 3 Desember 1974
Hari 3: Kesiapsediaan Apostolis dalam Missio Dei