Pada tahun 1851 gubernur Portugis di Dili mengijinkan Flores Timur diduduki tentara Belanda sebagai jaminan atas pinjaman uang sebesar fl 80.000,-. Maka, Pastor C. de Hessele Pr berangkat ke Larantuka dan melaporkan adanya k.l. tiga ribu orang Katolik di daerah itu (1853). Sejak 1562, orang di Pulau Solor serta Flores Timur mulai dinasranikan oleh Pater-pater Dominikan dari Goa, namun pada abad ke-19 hanya dikunjungi sewaktu-waktu oleh seorang imam dari Dili, sehingga iman mereka dirasuki banyak unsur takhayul.


G. Metz SJ ialah Jesuit pertama, yang sejak semula dikhususkan untuk berkarya di antara orang-orang bukan-Eropa. Ia tiba di Larantuka (1863) dan menggantikan Pastor C. Franzen Pr, orang saleh yang sakit-sakitan dan terpaksa pulang. P. Metz pernah menjadi guru bahasa serta matematika di kolese Sittard. la pandai, namun sederhana dan tidak ingin menonjolkan-diri. Menurut konfraternya di Surabaya, untuk pastoral di antara orang Eropa di Jawa justru dibutuhkan orang yang berkesan 'hebat', mampu berbicara bagus-bagus, bahkan jika tidak tahu apa-apa tentang hal yang bersangkutan. Sebab, masyarakat kolonial ini kosong, ‘materialistis dan tanpa budaya' (demikian P. J. B. Palinckx).


P. Metz dengan tenang, namun ulet meletakkan dasar sehat untuk perkembangan Gereja di Flores sampai ia lelah dan lemah, sehingga terpaksa harus pulang ke Belanda (1880). Pastor bonus yang pantas disebut Vader Metz rajin memberikan pelajaran agama sesudah Misa, membuka sekolah dengan asrama ('anak piara'), mengajar berkebun, membagi obat dan mulai membiasakan orang supaya menikah di gereja.


P. G. Metz ingin, supaya doa dalam logat Melayu-Larantuka boleh digunakan, namun ditolak oleh uskup. Ia mereformasikan perayaan Natal yang tradisional dengan menyatukan adat 'Mimino' (patung Kanak-kanak Jesus dari masa Portugis) dengan liturgi resmi. Pada tahun 1878 P. Metz mengorganisasi pembelaan Larantuka terhadap serangan ‘orang gunung'. Mereka menuduh pastor-pastor mendukung penghapusan upacara adat lama yang penuh unsur takhayul. Untuk mencegah wabah cacar air P. Metz menyiapkan tenaga suntik dan menyediakan obat. Bantuan ini menguatkan kepercayaan rakyat kepada pastor. Perlahan-lahan iman mempengaruhi lagi kehidupan sehari-hari, baik orang-perorangan maupun masyarakat. Atas dasar ini banyak orang dari Larantuka - terutama guru-guru - kemudian menjadi rasul di seluruh Flores, bahkan di Kepulauan Kei juga. Setelah mendarat di Batavia, P. J. Meijer SJ langsung ditugaskan untuk membantu P. Metz di Larantuka (1864). Namun sebelum satu tahun lewat ia sudah meninggal dunia pada usia 38 tahun. Pada tahun itu jumlah umat Katolik di Flores dan Timor sebanyak 11.200 orang beriman.


Pendidikan yang praktis dimulai oleh para bruder Jesuit sejak 1879 dan didukung oleh Suster-suster Fransiskanes dari Semarang (OSF). Pada tahun 1896 terjadi ketegangan antara para Pater Jesuit di Larantuka dan Suster Fransiskanes, 'yang terlalu bebas' (misalnya pergi dari susteran selama berhari-hari untuk mencari kayu), sehingga perayaan Misa di kapel susteran dihentikan. Dua bruder di Larantuka hampir diterkam buaya, waktu mencari kayu dekat muara sungai.


Pembesar para Jesuit, P. A. Terwindt, mengadakan visitasi pertama di Flores pada tahun 1877. Mgr. Claessens-lah uskup pertama, yang mengunjungi Flores pada tahun 1881 dan menerimakan Sakramen Penguatan kepada 782 orang. Pada dekade 1870-an jumlah umat hampir berlipat ganda. Putera mahkota Don Lorenzo, yang dididik di asrama para pastor, sangat mendukung misi, menemani para pastor dalam perjalanan di luar Larantuka dan mengajarkan katekismus. Sekolah dan asrama dibangun untuk k.l. 100 anak, yang diawasi oleh seorang bruder. Sejak tahun 1890-an P. J. Booms SJ meningkatkan mutu sekolah sederhana ini. Br. E. Vermeulen, seorang pandai besi, membangun gereja besar di Posto-Larantuka.


Pada tahun 1878 tiga pastor menetap di Larantuka dan dua di Maumere. Tujuh tahun kemudian lima Jesuit tinggal di Larantuka, yang merupakan residensi Serikat Jesus seperti sewajarnya dan yang terbesar di seluruh misi. Namun satu di antara anggotanya seringkali(!) begitu sakit, sehingga harus ziekteverlof di Jawa. Karena perjalanan dinas dibiayai pemerintah, maka pastor yang melayani daerah, tinggal di pastoran Larantuka, namun berminggu-minggu melakukan perjalanan keliling daerah.


Atas dasar yang diletakkan P. Metz, penggantinya Pater C. ten Brink SJ (1881-1890) bersama dengan pater-pater muda mulai menanamkan Injil di wilayah yang hampir bukan Katolik lagi. Konga, misalnya, hendak dijadikan stasi dengan pastor tetap, yaitu P. B. Schweitz SJ dan Bruder Zinken (1885). Mula-mula mereka terpaksa harus membersihkan gereja kecil, yang digunakan sebagai kandang kambing selama pastor tidak di tempat. Orang belum mengerti, bahwa menjadi 'Katolik' bukan berarti dibaptis lalu hidup seperti semula, - sebagaimana yang mereka jalankan selama puluhan tahun, waktu tiada seorang pastor, yang menerangkan arti beriman pada mereka.


Dengan susah payah 'tradisi' menyanyikan litani dengan meneguk minuman sampai mabuk, perlahan-lahan diubah oleh misionaris perintis. Rupanya, upacara umat (atau lebih tepat rakyat), yang berasal dari masa misionaris Portugis, dipegang kuat-kuat, walaupun di'cemari' beberapa ekses, sehingga pastor Jesuit Belanda sangat tidak suka padanya, bahkan menolak menghadirinya. Mereka menekankan upacara menurut liturgi resmi, terutama Misa, Pengakuan dosa dan pernikahan di gereja. Tetapi, orang tidak ingin menikah di gereja, karena 'memusingkan' dan 'membuat mandul'. Rakyat kurang mengerti dan pastor-pastor kecewa.


Karena orang Konga tidak mau melepaskan kebiasaan buruk (a.l. minum sampai mabuk) sesudah arak-arakan pada Pekan Suci, maka umat dikenakan interdik(!) dan P. B. Schweitz pulang ke Larantuka. Akhirnya, orang Konga mengalah, namun tiada seorang pastor pun, yang tersedia untuk menetap di antara mereka. Tenaga Serikat Jesus kurang, sehingga ladang yang memberi harapan besar pun seperti Lomblen dan Solor, yang telah dikunjungi oleh P. ten Brink, tidak dapat dilayani dengan tenaga tetap. Lebih dari sepuluh tahun sesudahnya, P. J. Frencken masih mengeluh, bahwa banyak orang Katolik' tidak lain daripada orang kafir yang dibaptis'.


Waktu Maumere dikunjungi P. Metz (1865), empat ratus penduduk atas inisiatif sendiri membangun gereja sederhana, walaupun kampung mereka sudah dua kali dihancurkan oleh orang Makassar dan Bugis. P. C. Omtzigt SJ, yang sejak 1869 mengunjungi Maumere dan Sikka dari Larantuka, menulis buku pertama dalam bahasa Sikka yang pernah diterbitkan. la menetap di Maumere 1874, namun sudah kehabisan tenaga. Sesudah empat bulan ia meninggal, saat menunggu kapal di Surabaya untuk pulang ke Belanda. Ia baru berusia 47 tahun.


Iklim Maumere pada masa ini sangat buruk: suhu badan naik, kaki bernanah, malaria merajalela, sakit perut menjadi hal lazim, a.l. karena air tidak sehat (sampai 1883 waktu air didestilasi). Ular berbisa di mana-mana. Br. van de Velde membangun pastoran sederhana sekali dengan lantai tanah yang agak basah(! 1875). Gereja pun sangat kecil, jelek dan kurang bersih. Gedung sekolah serta asrama untuk k.l. seratus murid didirikan pula (1877).


Br. van de Biggelaer terpaksa pindah ke Jawa sesudah lima bulan bekerja di Maumere; P. H. van Rijckevorsel yang baru saja tiba dari Belanda dan masih muda meninggal setelah tiga bulan (1876) dan diikuti Bruder H. de Ruyter (1877), bruder Jesuit pertama di Indonesia. P. H. Zelis, yang hanya tiga tahun berkarya di Flores menyusul (1879) karena kecapaian. Setelah 20 tahun berkarya di Larantuka, P. Metz pergi cuti ke Belanda. Setelah kembali ia dipindahkan ke Maumere. Ia meninggal dua setengah tahun sesudahnya (1885), karena keadaan pastoran tidak memadai, iklim buruk dan jadwal pekerjaan terlalu padat.


P. B. Mutsaerts terpaksa pulang setelah satu bulan saja dan P. T. Heslinga hanya bertahan tiga tahun, namun terus sakit-sakitan († 1899). Hanya P. ten Brink cukup kuat, namun dengan sedih menyaksikan saudara-saudara seSerikat satu per satu meninggal dunia atau terpaksa pulang ke Jawa. Di Maumere paling banyak misionaris Jesuit (dan kemudian pula suster) menjadi korban iklim dan situasi: P. L. Calon SJ yang membangun susteran serta sekolah dan menyusun dua daftar dengan ribuan kata bahasa Sikka, meninggal waktu masih muda setelah berkarya hanya enam tahun di Maumere (1893).


Wilayah pastoral P. ten Brink (1874-1880) mencakup Maumere, Kotting (kafir), Nita serta Sikka dengan banyak orang (umat 'Kristen lama') dan seorang raja Kristen sejak zaman misi imam-imam Dominikan. Maka, pater ini berpindah dari stasi ke stasi dengan berjalan kaki atau menunggang kuda. Tambah lagi tugasnya sekali setahun mengunjungi umat di Timor dan Makassar. Waktu visitasi, P. J. de Vries sebagai pembesar SJ bersama dengan P. ten Brink menumpang perahu, yang karena badai terpaksa mereka mendarat di Pulau Lomblen. Di tempat ini mereka membaptis 220 anak untuk pertama kali (1886). Dalam laporan visitasi P. de Vries mencatat sebagai kesimpulan: 'Bagi semangat para misionaris, Flores dan Timor merupakan medan bagus serta luas. Ribuan orang yang dapat ditobatkan, menunggu. Selain orang gunung yang belum percaya, misi di Flores dan Timor mencakup lebih banyak orang Katolik Sampan seperti yang daripada misi di seluruh Hindia. '


P. ten Brink, superior semua Jesuit di Flores, meletakkan dasar untuk umat yang sejak tahun 2006 membentuk Keuskupan Maumere. Pada masa paceklik 1883/84, ia membeli beras seharga fl 20.000,- yang dibagikan kepada orang miskin yang lapar. Pada suatu hari pastor ini jatuh dari kuda dan dua belas hari kemudian meninggal dengan sangat menderita, 1890. Kecelakaan ini terjadi, justeru pada saat ia berusaha membela PP. M. Bonnike dan C. J. F. Le Cocq d'Armandville SJ, yang difitnah oleh seorang pegawai pemerintah kolonial.


Dua posthouders, yaitu wakil pemerintah kolonial di tempat, merasa iri karena pengaruh besar para misionaris kepada raja dan kepala-kepala kampung serta umat pribumi. Para pater digaji jauh lebih besar daripada mereka dan mempunyai murid-murid yang berbaris-baris dan terlatih, sedangkan para posthouder kurang berdaya. P. Bonnike, yang hendak ditangkap dan diborgol oleh posthouder Teffer, supaya dapat dipertontonkan di muka umum, bermaksud melaporkan perkara ke atasan posthouder itu di Larantuka. Ia melarikan-diri ke Sikka lalu naik sampan. Tetapi, sampan itu terbalik akibat gelombang besar, sehingga pater tenggelam di Selat Lobetobi († 1889).


Pada tahun 1881 P. Le Cocq tiba di Maumere setelah dua tahun berkarya di Semarang. Ia sangat kuat, berdisiplin ketat, pandai berbahasa dan suka menolong orang sakit, karena pernah bekerja sebagai perawat di rumah sakit Prancis semasa perang. Pada Jumat Agung 1882 tak seorang pun masuk gereja yang baru ia bangun. Mereka semua berkumpul di gereja lama untuk mengikuti upacara lama dari zaman Portugis. P. Le Cocq terpaksa mematikan semua lilin, menutup gereja dan pulang ke pastoran dengan sedih. Tetapi, Raja Nita dan beberapa kepala kampung meminta, supaya gereja dibuka lagi. Pater hanya bersedia setelah mereka mengikutsertakan seluruh umat. Mereka boleh menyanyikan sebagian madah lama, yang menurut Jesuit Belanda terdengar sangat jelek. Kemajuan selangkah. P. Bonnike pernah mengeluh, bahwa waktu Misa orang biasa mengobrol, makan dan tertawa. Perbaikan berlangsung perlahan-lahan berkat harmonium, yang dihadiahkan Mgr. Luypen, mantan pastor kepala Maumere (1893-1898) kepadanya.


Waktu masih sering mengunjungi Sikka dari Maumere, P. Le Cocq dengan agak keras melarang segala kebiasaan buruk pada arak-arakan hari pesta besar di Sikka, tempat ia berkarya sendirian dengan sukses besar antara tahun 1884-1897. Dengan tegas dan kadang dengan kurang sabar ia menyuruh menghancurkan sisa-sisa kekafiran (mis. batu keramat atau naba) dan memaksakan perkawinan di gereja. Namun demikian, imam ini dihormati dan bahkan disayang oleh umatnya dan juga oleh orang bukan-Kristen. Semangat umat malah bertambah! Tetapi, ada pula orang yang iri hati. Waktu hujan tidak turun dan panen terancam (1888), orang yang bertakhayul menyebarkan kabar burung, bahwa atap gereja baru dari seng menghalangi hujan, sehingga panen akan gagal dan semua warga akan mati kelaparan. Maka, pada malam hari 21 Desember 1888 segerombolan orang suku Lio menerobos masuk Sikka, melukai raja dengan klewang dan menembakkan peluru ke kedua lengan pastor. Satu dari dua penembak pernah diselamatkan dari maut oleh P. Le Cocq sendiri. Ia menulis:


"Aku dan seorang pembantu serta penunjuk jalan pernah mengunjungi desa, tempat sebagian besar orang yang bersenjata itu tinggal. Aku menyelamatkan orang-orang sakit dari maut di rumah mereka, tetapi aku tahu mereka ikut serta (menyerang). Tentang kejadian itu mereka diam seribu bahasa, seakan-akan mereka tidak tahu apa-apa dan semuanya baik-baik saja; seperti orang yang tidak bisa ingat lagi dan kerasukan setan. Pada awal tahun 1890 seorang yang menyuruh membunuhku, datang ke pastoran bersama bayinya. Lengannya patah dan ia meminta, supaya aku memasangnya lagi. 'Bagaimana?' aku menanyainya.


'Pada tanggal 21 Desember kamu memberikan senapan kepada seseorang supaya membunuhku, dan sekarang meminta supaya aku menolongmu. Apa yang kamu perbuat, seandainya dia menembak lebih tepat?' Bangsat itu tertawa dan menyorongkan bayinya ke arahku. Aku memasang lengan bayi itu. Namun aku merasa, bahwa aku manusia juga dan semestinya tidak menolong orang seperti itu."


Orang yang menembak lengan P. Le Cocq dan membacok raja dari Sikka dilindungi oleh pegawai pemerintah. Akhirnya, pemerintah terpaksa melepaskan para Jesuit dari segala tuduhan, namun tidak mau mengakui kesalahan pegawai-pegawai rendahan secara terbuka.


Rupanya, karena ketegangan antara pejabat kolonial di satu pihak dan raja serta pastor di lain pihak, P. Le Cocq dipindahkan (1891). Waktu pater ini hendak naik kapal, orang Sika secara diam-diam merencanakan penahanannya dengan paksa sampai kapal lepas jangkar, supaya jangan sempat meninggalkan mereka. "Orang Sika buas dan Pater menjinakkan mereka. Orang Lio lebih buas lagi dan mereka pun engkau jinakkan. Dan kini engkau meninggalkan kami." Mereka sedih. P. Le Cocq diganti oleh P. J. Engbers SJ, yang menjadi pastor Sikka dari 1893 sampai paroki ini diserahkan kepada seorang pater Serikat Sabda Allah (SVD; 1920).


Adolf Heuken



Hari 3: Kesiapsediaan Apostolis dalam Missio Dei
Dari Distraksi ke Dedikasi: Sebuah Ajakan Untuk memasuki Pusat
Hari 4: Sahabat dalam Perutusan