Pater Herman Leemker adalah Yesuit pertama yang menginjakkan kaki di tanah Sumba. Ia mendarat di pulau itu pada 4 Agustus 1885 dalam rangka melakukan penyelidikan mengenai kemungkinan didirikannya misi di Sumba. Laporan P. Leemker dan keterangan-keterangan lain dijadikan bahan untuk membuat keputusan. “Mengenai Sumba kami tidak begitu optimistik, tetapi di lain pihak, Sumba tidak boleh kita lepaskan begitu saja”, demikian surat Superior Misi, P. de Vries, kepada pastor di Atapupu. Demikianlah, pada bulan April 1889 P. Bernard Schweitz dan Bruder Willem Busch secara resmi diutus untuk membuka misi di Sumba, tepatnya di Loura di Sumba Barat.


Kuntum Bunga yang Gugur sebelum Berkembang


Pada tahun 1892 Pater Arnoldus van der Velden menggantikan P. Schweitz. Mengenai misi Loura P. v.d. Velden menulis pada tahun 1898, tentang pendirian sekolah khusus bagi anak-anak perempuan


“Syukur kepada Allah, mengenai Misi, kami dapat melaporkan berita lebih baik. Sejak dulu kami mau mulai sekolah misi untuk anak-anak perempuan, tetapi mendapat tentangan dari kawan-kawan serumah. Pada suatu hari datanglah beberapa pemudi yang terbaik kepada kami atas kemauan sendiri. Mereka minta apakah mereka boleh belajar seperti pemuda-pemuda. Kami tidak sampai hati menolak permohonan mereka, maka kami membuka sekolah untuk pemudi. Pada dewasa ini ada 19 orang murid perempuan, semua putri dari orang-orang terkemuka. Lima adalah putri raja, tiga calon menantu raja. Seandainya kami berani dan mampu mendirikan asrama, maka jumlah tersebut pasti akan meningkat dua kali lipat. Tetapi asrama putri membutuhkan tenaga khusus, orang yang melulu mengurusi itu” (surat P. v.d. Velden kepada P. Luypen, sekitar bulan Mei 1898).


Yang dipikirkan oleh P. v.d. Velden adalah didatangkannya para suster yang ditugaskan secara khusus semata-mata mengelola asrama putri. “Sekarang ini kami berani mohon dengan lebih mendesak supaya suster datang dan menetap di sini, karena kami yakin kemanfaatannya yang besar dan bahkan keharusannya”, tulis P. v.d. Velden dalam surat yang sama.


Selain sekolah bagi murid-murid perempuan, misi mengelola sekolah bagi remaja putra. Menurut laporan P. v.d. Velden, pada tahun 1898 itu jumlah murid terus meningkat karena “[p]ara raja telah berbicara dengan para pemuka rakyat dan mendorong mereka supaya merelakan anak-anak mereka pergi sekolah.” Pada waktu itu jumlah murid laki-laki sebanyak 45 siswa. P. v.d. Velden optimis bahwa “dalam waktu dekat, kami mengharapkan bahwa akan bertambah 20 orang lagi”. Pelajaran agama di kedua sekolah dipegang oleh para imam. Br. de Jong seluruh hari bekerja semata-mata untuk sekolah laki-laki, sementara itu Br. Busch pada pagi hari bekerja di sekolah putri.


Pada bulan Juni 1898 P. v.d. Velden membaptis seorang anak di gereja Loura, seorang bayi berusia 5 bulan. Tanpa disadari, itu adalah permandian yang terakhir di Misi Loura. P. v.d. Velden pada waktu itu belum menduga itu bahwa Misi Sumba akan dihentikan. Sebab itu ia masih kirim surat di mana ia menceritakan dengan penuh semangat kemajuan sekolahnya. Kenyataannya, pada bulan September 1898, Stasi Loura dibubarkan.

Mengapa misi di Sumba (Loura) dibubarkan? Sejarawan Serikat, P. Gerardus Vriens menulis, “mengingat sangat besarnya kebutuhan tenaga misionaris di tempat lain; mengingat bahwa pos Misi di Loura sukar dihubungi, dan bahwa rupa-rupanya hasil begitu sedikit, apakah dapat dipertanggungjawabkan mempertahankan misi tersebut? Apakah dapat dipertanggungjawabkan memberanikan diri membuat eksperimen mengirimkan suster-suster ke sana?”


P. Keyzer sebagai superior misi sudah memikirkan untuk membubarkan stasi ini, tetapi berubah pikiran ketika mengunjungi Loura dan melihat sendiri keadaan di sana. Sejak kunjungan itu superior misi berkeyakinan bahwa stasi itu sungguh mempunyai masa depan dan bahwa kedatangan suster-suster merupakan suatu keharusan. Ia sudah mengetuk pintu kepada pelbagai kongregasi suster, tetapi permintaannya tidak berhasil. Pada tahun 1896 secara mendadak P. Keyzer meninggal dunia, sehingga semua pembicaraan lebih lanjut dihentikan. Penggantinya sebagai superior misi adalah P. Hellings. Superior yang baru dan para penasehatnya tidak mengenal Loura dari pengalaman sendiri. P Hellings memiliki pendapat berlainan dari pendirian pendahulunya. Ia berkeyakinan bahwa Stasi Loura tidak memiliki masa depan. Maka, pada bulan September 1898 diambil keputusan untuk membubarkan Stasi itu.


P. Hellings sendiri beberapa bulan kemudian menulis surat kepada provinsial Serikat Yesus di Belanda, menceritakan beratnya perasaan ketika harus menutup misi di Sumba, “Sungguh-sungguh, untuk saya keputusan itu berat dua kali lipat, apalagi karena Pater Keyzer almarhum masih ingin mendatangkan suster ke sana. Kesucian Pater v.d. Velden dan lebih-lebih melihat wajah yang begitu banyak manusia terlalu mempesona hati P. Keyzer.”


Luka yang harus ditanggung


Dengan hati berat para misionaris meninggalkan Pulau Sumba. Dahulu mereka disuruh ke sana, kini mereka dipanggil untuk bertugas di tempat lain. Mereka tidak membantah. Mereka menjadi misionaris tidak untuk mencari dirinya sendiri. Mereka taat dan berangkat ke tempat yang ditentukan oleh pembesar. P. Engbers dipindahkan ke Muntilan. Pada tahun 1904 ia akan menggantikan P. W. Hellings sebagai superior misi. Bruder Busch dan Bruder de Jong mungkin pergi berlibur terlebih dahulu ke Jawa untuk menenangkan hati. Kemudian Br. Busch berangkat ke Lela, Flores, di mana ia bekerja sebagai guru di sekolah dasar. Di samping itu ia bekerja sebagai koster, dan mengurusi rumah tangga pastoran. Kalau pastor pergi turne, Br. Busch memimpin kebaktian dan mengajar agama. Dari Lela ia dipindahkan ke Larantuka sampai tahun 1917, lalu kembali ke Lela. Tahun 1919 ia berangkat ke Jawa, pertama-tama di Mendut, lalu ke Muntilan, sampai habis tenaganya di sana. Tahun 1935 ia meninggal dunia dalam usia 81 tahun, setelah menyumbangkan jiwa-raganya selama 51 tahun untuk perkembangan misi di Indonesia.


Bruder de Jong pindah ke Larantuka, di mana ia mendapatkan tugas sebagai kepala sekolah. Akan tetapi dua tahun kemudian, 1900, ia menderita sakit busung dada. Diantar ke Kupang untuk berobat, tetapi dokter di kota itu tidak dapat menyelamatkan hidupnya. Pada tanggal 1 Agustus 1900 Br. de Jong menyerahkan jiwanya kepada Tuhan. Waktu itu ia berumur 30 tahun.


Pater Arnoldus van der Velden dari Sumba dipindahkan ke Atapupu, Timor. Akan tetapi di tempat ini ia kerap diserang malaria. Untuk memulihkan kesehatannya ia dikirim ke Malang. Bahkan ia pernah dirawat di Tosari di lereng Gunung Bromo. Di Malang kelihatan bahwa dari antara para bekas misionaris di Sumba, P. v.d. Velden paling terluka hatinya. Pater G. Jonckbloedt, pastor kepala Malang, kelak menulis,


“Berulang kali Pater van der Velden menyatakan: hatinya disobek-sobek karena sedih pada saat ia harus meninggalkan Loura. Tiap kali berbicara mengenai perpisahan itu, ia mengatakan dengan mencucurkan air mata. Pater v.d. Velden itu orang yang unggul keutamaannya. Ketaatannya kepada keputusan para pembesar dapat dicontoh. Tetapi di sini saya berani mengatakan: kesempatan satu-satunya di mana saya menyaksikan keutamaan ketaatannya ‘runtuh’--tidak boleh saya katakan, tetapi toh sedikit guncang--ialah pada saat ia membicarakan pembubaran Sumba. Itu terlalu berat baginya. Kadang-kadang terjadi ia terlanjur mengucapkan suatu kata -- ‘sinis’ tidak oleh saya katakan -- melainkan tajam. Tetapi demi kebenaran juga saya harus tambahkan bahwa ia lalu minta maaf kepada saya, bahwa ia masih kurang sempurna dalam ketaatan religius dan ia sendiri merasa pedih hati atas kekurangan itu.”


“Saya masih ingat betul seakan-akan baru terjadi kemarin. Pada suatu hari di Malang, P. v.d. Velden merangkak di atas lantai karena perutnya sakit bukan kepalang. Sambil merintih ia berkata kepada saya: ‘Pastor, jangan marah bahwa saya menunjukkan kelemahan saya. Segala penderitaan saya ini, saya terima dengan rela dari tangan Tuhan dan saya unjukkan agar Misi di Sumba dibuka kembali.’”


Tubuh P. v.d. Velden ada di Malang, tetapi hatinya masih ada di Sumba. Seringkali ia melamun tentang Sumba. Permulaan tahun 1900 P v.d. Velden membuka-buka catatannya dan menemukan afdruk dari gramatika Bahasa Loura karyanya. Tanggal 30 Januari 1900 ia menulis kepada Mgr. Luypen: “Monseigneur, bersama ini kami mendapat kehormatan dan kegembiraan untuk mengirimkan kepada Yang Mulia afdruk gramatika kami. Sebagai kenang-kenangan kepada Loura, kenang-kenangan yang menyedihkan.”


Ia menambahkan, “Karya kami ini kami kirim ke Batavia beberapa saat sebelum jatuhnya pukulan yang berat itu. Karya itu kiranya sekarang sudah tidak aktuil dan sama sekali tidak berguna dan juga tidak akan menarik perhatian lagi. Tetapi mungkin toh pantas untuk mendapat tempat sebagai karya seorang misionaris di samping karya-karya lainnya semacam itu.”


P. v.d. Velden secara terbuka mengungkapkan kerinduannya kembali ke Sumba, “O, seandainya kami diperbolehkan pergi ke sana!” tetapi, segera, dalam surat yang sama ia mengatakan, “[t]etapi baiklah gagasan semacam itu kami singkirkan dari kepala kami. Kami masih tetap berterima kasih atas pembicaraan dengan Monseigneur tanggal 11 Desember tahun lalu. Hanya sayang bahwa begitu tergesa-gesa. Hasil pembicaraan tidak lain dari apa yang kami harapkan. Tetapi sekarang kami sedikit-sedikit merasa puas. Kami sudah berbuat apa yang dapat kami buat. … Selanjutnya, kami tinggal menyerahkan suku bangsa yang kasihan dan anak-anak yang baik itu kepada Tuhan yang maha murah dalam doa dan kurban misa.”

Pada tahun 1901 terjadi sesuatu yang menggembirakan hati bekas misionaris Sumba itu. Keinginannya untuk hidup di pedesaan seperti petani dikabulkan. Bulan Juni P. v.d. Velden dipindahkan dari Malang ke Larantuka. Di Larantuka telinga Pater sangat peka kalau mendengar tentang Sumba. Ia mengikuti berita-berita yang ada hubungannya dengan pulau itu.


Pada akhir tahun 1902 P. v.d. Velden menulis lagi kepada Vikaris Apostolik, dengan keterangan awal bahwa “dalam menulis surat ini kami mempunyai pamrih”, yakni tentu saja ungkapan keinginan agar Misi di Loura dibuka kembali. Tidak diketahui bagaimana reaksi vikaris apostolis. Bagaimana pun pada permulaan tahun 1903 Misi Sumba dibicarakan lagi. Bahkan Vikaris menulis kepada Provinsial SJ di negeri Belanda: “Sumba kiranya harus diduduki kembali.” Tetapi kesempatan yang bagus itu tidak pernah digunakan. Dari pihak misionaris tidak dikirimkan seorang misionaris ke Sumba. Kelak ketika pater-pater SVD masuk pulau itu, mereka tidak mendapatkan izin karena Zending sudah bekerja di sana.


H. Haripranata S.J.

Dari buku Ceritera Sejarah Gereja Katolik Sumba dan Sumbawa, karya H. Haripranata S.J., bab 37-39.




Hari 5: Kemurahan Hati Melayani
MENGIKUTI KRISTUS YANG MISKIN DAN RENDAH HATI DENGAN KAUL KEMISKINAN KITA
Hari 6: Sukacita dalam Perutusan