Hampir empat tahun telah berlalu sejak kami pertama kali melaporkan di sini mengenai rencana untuk mewartakan Injil Kudus kepada penduduk bagian Belanda dari pulau New Guinea (Papua bagian Barat). Upaya berulang telah dilakukan oleh Pater C. le Cocq d’Armandville dan pater C. van der Heijden untuk mewujudkan rencana ini, tetapi sejauh ini hasilnya sangat kecil. Kami menyampaikan disini beberapa kutipan surat-surat dari dua misionaris yang disebutkan di atas untuk menunjukkan berapa banyak karya dan usaha yang sering menyertai pembentukan pertama Misi di antara bangsa-bangsa lain dan untuk menghunjukkan doa agar Tuhan dapat memberkati upaya para penggagas iman dan bahwa orang Papua asli akan segera juga menjadi Kristen dan dengan demikian menjadi bagian dari tatanan masyarakat.


Tentang kunjungan pertamanya ke Papua, P. le Cocq d'Armandville menulis catatan singkat berikut pada Mei 1894 :


Bahasa di sini sangat sulit karena benar-benar asing; saya belum mendengar sepatah kata pun yang bisa saya mengerti yang akrab dengan bahasa lain (yang saya kenal).


Misi ini juga akan sulit. Mereka adalah penduduk asli, mereka tidak pernah keluar tanpa membawa senjata dan memiliki banyak senjata [...]. Di sini tidak ada kampung, semua hidup tersebar. Salah satu kepala suku telah menunjukkan kepada saya tempat yang cocok untuk membangun rumah dan sekolah; dia mengatakan bahwa rumah-rumah lain akan didirikan dan sebuah kampong akan muncul seturut prosesnya.


Kemarin saya keluar sepanjang hari dan baru pulang jam 11 malam. Saya tidak makan sepanjang hari. Saya kemudian memasak nasi dan sementara menunggu saya berdoa ibadat harian. Dan pada seperempat jam menjelang tengah malam saya makan, yang juga akan disajikan untuk sarapan, makan siang dan makan malam. Besok perahu akan datang, yang akan membawa saya kembali ke Bonfia. Di sana saya telah membaptis 73 anak, dan beberapa di antaranya sudah pantas untuk segera memulai sekolah.


Pada bulan Oktober tahun berikutnya, P.C. van der Heijden menulis:


Hari ini, oktaf Santo Fransiskus de Borgia, dan persis tiga tahun yang lalu saya pertama kali menginjakkan kaki di Papua pada 141 derajat bujur timur, titik terluar dari wilayah kita, untuk melihat apakah di sana ada juga kemungkinan untuk menetap. Saya sudah menceritakan mengenai keadaan saya. Saya menjumpai begitu banyak penduduk dan sama sekali tidak adanya yang memeluk Islam, dua kondisi yang menguntungkan untuk sebuah Misi.


Tapi, betapa sering hal-hal baik muncul, disertai dengan suatu "tetapi" yang menghapus hal-hal baik sama sekali. -- Saya juga menjumpai orang yang benar-benar dari pedalaman dan tidak terlalu bisa dipercaya. Terlebih lagi, untuk sampai pada titik ini sangatlah sulit, seringkali mengancam jiwa atau lebih tepatnya tidak mungkin. Saya membuat laporan untuk diserahkan kepada Yang Mulia Pro-vikaris, yang, meskipun itu membuatnya sangat tertekan, memutuskan untuk sementara meninggalkan Misi di New Guinea. Setahun kemudian saya kembali diberi kesempatan untuk mengunjungi tempat yang sama, dan saya memanfaatkannya, tetapi tetap dengan hasil yang kurang menguntungkan.


Sekarang P. le Cocq d'Armandville telah melakukan percobaan di titik lain dari pulau besar itu dan berhasil mendirikan pemukiman di Kapaur dekat Skroe di seberang pulau Pandjang dan Ega. Itu baru merupakan suatu percobaan, tapi masih harus dilihat apakah akan berhasil, karena Islam sudah masuk dan penduduk sangat tersebar.


Tak lama kemudian saya mendapatkan misi untuk melakukan perjalanan ke Banda dan Amboina; rutenya mulai dari Tocal melalui Skroe, Sekar, Gisser ke Banda dll. Jadi Anda mengerti bahwa saya dengan bersemangat mengambil kesempatan untuk mengunjungi stasi baru. Saya hanya bertemu Bruder Zincken dan Bruder te Boekhorst karena P. le Cocq telah melakukan perjalanan ke Seram lagi untuk mengunjungi orang-orang Suku Alifuru di Bonfia. Saya memimpin Misa, di mana kedua bruder itu menerima Komuni Kudus, suatu kebahagiaan yang telah tidak mereka dapatkan selama tiga bulan. Saya tidak bisa tinggal lama, sebab Kapten kapal sudah tidak sabar, tetapi saya toh masih mendapatkan banyak hiburan dari kunjungan itu. Terutama untuk per Bruder, mereka menjalani kehidupan yang sangat sepi dan monoton di sana, terutama ketika Pater le Cocq sedang tidak ada di sana dan mereka tidak dapat merayakan Misa harian atau menerima Komuni. Sambutan baik dari mereka terutama juga lantaran saya membawa beberapa cerutu yang enak untuk mereka.


Pada tanggal 7 November, Pater le Cocg d'Armandville sendiri menulis hal berikut tentang pendiriannya di Kapaur:


Tanggal 1 Mei saya tiba di Kapaur dan langsung mulai membangun dan belajar bahasa. Saya sekarang memiliki rumah yang luas dan saya memiliki daftar kosakata yang memuat sekitar 1200 kata. Pada tanggal 24 Juli saya kembali ke Bonfia. Saya sudah mendapatkan 16 anak dari orang-orang yang terpandang; anak-anak itu tinggal bersama saya dan mendapatkan makanan dan memperoleh pendidikan. Karena dua bruder dan seorang guru tinggal di sana, saya berharap bahwa ketika saya kembali saya akan menjumpai semua anak-anak itu jumlahnya masih utuh. Akan tetapi rupanya para Bruder tidak berhasil mempertahankan mereka; dari 16 anak ada, maksud saya, hanya satu yang tersisa.


Saya kembali ke sini lagi pada tanggal 1 November, dan saya mungkin tidak akan pergi ke Bonfia lagi sampai situasi di sini sedikit mereda. JIka tidak ada masalah, maka tidaklah menjadi soal apakah saya tinggal di sini (Kapour) atau di Bonfia.


Apakah misi di sini memiliki masa depan, saya tidak bisa memprediksi dengan kemungkinan apapun. Menurut saya, sebuah misi selalu memiliki masa depan jika wilayahnya besar dan padat penduduk. Yah, pasti tidak ada kekurangan dalam yang pertama tersebut di sini, tapi apakah banyak orang yang tinggal di sana, saya tidak tahu. Ada kebiasaan di sini untuk tidak membentuk kampung atau desa: mereka tinggal bersama sekitar 40 orang dalam satu rumah dan rumah-rumah itu biasanya berjauhan; ini membuat karya untuk mempertobatkan menjadi sangat sulit.


Akan jauh lebih baik jika saya pergi ke Timakowa, di seberang Kepulauan Aroe; banyak orang diizinkan untuk tinggal di sana dan mereka "hidup berdekatan, seperti rerumputan di padang'' sebagaimana yang saya dengar mengenai mereka. Sebelum datang ke sini saya telah mendapatkan keterangan dari pedagang di Banda, yang pergi ke Kapaur setiap tahun selama beberapa bulan untuk bisnis mereka. Mereka sangat memuji rencana saya dan meyakinkan saya bahwa ada banyak orang di sana, terutama di pegunungan. Namun, orang-orang yang saya kenal di sini berusaha membatalkan rencana saya untuk tinggal di pegunungan, karena populasinya terlalu di pedalaman dan nyawa saya bisa terancam. Saat ini saya tinggal di daerah pantai, menyibukkan diri dengan melatih dan mendidik anak-anak. Namun, sulit sekali untuk bisa mengatur anak-anak di sini dan membuat mereka membiasakan diri untuk tertib dan disiplin. Orang tua sama sekali tidak memiliki otoritas atas mereka, mereka melakukan sesuka mereka; jika dilarang, mereka tidak tahu apa maksud yang ingin disampaikan, dan mereka segera bertekad untuk melarikan diri. Tetapi pada masa lalu pun keadaan di Flores tidak jauh lebih baik. Setiap permulaan selalu sulit: siapa yang tahu apa yang akan terjadi di sini di bawah restu Tuhan!


Jika ternyata nanti Kapaur tidak memenuhi harapan, kita selalu bisa bubar dan pergi ke Timakowa. Konon masyarakat Timakowa tidak menolak daging manusia, tapi itu tidak soal bagi saya. Sekarang saya hampir tidak lebih dari kulit dan tulang. Saya dulu berbobot 120 kattie (sekitar 72 kg, satu kattie sekitar 1 1/4 pon) tetapi sekarang berat badan saya tidak lebih dari 98 kattie (58 kg).


Majalah St.Claverbond, 1896, vol 2, hlm. 5-8.



Hari 6: Sukacita dalam Perutusan
SURAT PATER JENDERAL ARTURO SOSA TENTANG MEMPROMOSIKAN PANGGILAN SERIKAT YESUS
Hari 7: Menyulut Kobaran Api yang Lain