Pada bulan Mei 1922 tiga bruder Yesuit tiba di Jawa. Bruder Cornelius Groot pulang dari cuti dan mendapat tugas baru di Ambarawa, sedangkan dua bruder lain, Petrus van der Voort dan Jacobus van Zon, mendapatkan penugasan di Yogyakarta. Mereka berdua sebelumnya bekerja di Novisiat Belanda. Kini di Yogyakarta mereka mendapat tugas untuk menyiapkan rumah yang akan menjadi novisiat. Untuk sementara rumah novisiat menempati satu rumah sewa milik P.J. Perquin, seorang pakar pada Dinas Kepurbakalaan. Beberapa bulan kemudian, Pater H. Koch, socius magister, dan beberapa frater novis tahun kedua akan tiba di Yogyakarta. Mereka berpindah dari ‘Novisiat Lembah Maria’ (Domus Probationis Vallis Beatae Mariae Virginis-Mariëndaal) ke Novisiat ‘Lembah Code’ Yogyakarta (Domus Probationis Djokjakartensis).


Pendidikan Calon Imam


Dua belas tahun sebelumnya, pada tahun 1910 Pater van Lith dan Pater Mertens di Muntilan sudah melihat tanda-tanda adanya beberapa murid di Kolese Muntilan yang agaknya akan tertarik menjalani hidup panggilan sebagai imam. Pada awal tahun 1911 kemungkinan mengenai adanya calon imam dibicarakan dengan Pater I. Vogels, provinsial Provinsi Nederland, yang sedang melakukan kunjungan di Nusantara. Memperhatikan adanya tanda-tanda siswa yang tertarik menjadi imam, Pater Vogels kemudian mengajukan dua pertanyaan kepada para anggota konsul provinsi, konsul misi, dan konsul Muntilan: Pertama, apabila ada calon-calon yang dianggap baik, apakah sekarang sudah saatnya untuk memulai pendidikan imam? Kedua, apabila pendidikan imam dimulai, dan apabila para calon itu minta sendiri, apakah mereka bisa diterima dalam Serikat Yesus ataukah untuk sementara dididik sebagai imam sekulir?


Mengenai pertanyaan pertama, kecuali superior misi yang merasa bahwa waktunya belum masak, semua secara prinsip menyetujui dimulainya pendidikan para calon imam, dengan catatan bahwa hal itu harus dilakukan secara sangat hati-hati. Mengenai pertanyaan kedua, konsul Muntilan menyetujuinya. Sementara itu, konsul provinsi dan konsul misi merasa bahwa lebih baik para calon dididik sebagai calon imam sekulir dulu; baru kemudian setelah tahbisan mereka bisa masuk ke Serikat apabila menginginkannya.


Halnya berubah dari pengandaian menjadi kasus konkret ketika pada akhir tahun 1911 dua dari empat siswa yang menempuh ujian Kweekschool, F.X. Satiman dan Petrus Darmasepoetra, mohon supaya diperbolehkan belajar untuk menjadi imam. Satu-satunya bentuk imamat yang mereka kenal adalah Serikat Yesus, maka mereka minta menjadi imam Serikat Yesus. Sebelum Vikaris memberikan izin, Pater van Lith dan Pater Mertens sudah mulai memberikan pelajaran khusus bahasa Latin kepada mereka. Pada tahun 1914 dua calon ini melanjutkan studi di Eropa. Setahun kemudian mereka mulai menjalani novisiat di Novisiat BMV Mariendaal di Nederland. Dalam waktu lima tahun sudah ada 10 calon imam dari Indonesia yang menjalani pendidikan bahasa Latin di Uden, tempat para pater Salib Suci. Akan tetapi, dari 10 calon itu, 2 orang meninggal dunia dan seorang lagi terpaksa pulang ke Indonesia dan akhirnya meninggal juga karena kesehatannya terganggu.


Dua Keputusan Penting


Pada tahun 1921, Serikat Yesus Provinsi Nederland membuat dua keputusan sangat penting. Pertama, akan didirikan novisiat di Hindia-Belanda; dan kedua, setiap tahun dua novis Belanda akan dikirim untuk menjalani tahun kedua di novisiat tersebut. Yogyakarta dipilih menjadi tempat pendidikan awal para calon Yesuit. Selain sebagai salah satu pusat kebudayaan Jawa, menurut pengamatan P. H. Koch, Yogyakarta sudah dikenal sebagai ‘kota dengan banyak sekolah’. Perlu dicatat pula bahwa sejak tahun 1918 Yogyakarta telah menjadi pusat baru aktivitas misi Yesuit di kalangan orang Jawa, selain -- tentu saja -- Muntilan.


Salah satu pertimbangan pendirian novisiat Serikat Yesus di Jawa adalah alasan kesehatan para calon yang mungkin tidak cocok dengan iklim Eropa seperti sudah disebut di atas. Pertimbangan lain adalah supaya para calon mendapat pendidikan awal di alam dan budaya yang kelak akan mereka geluti. Dalam catatan Pater Koch, “jadi, sudah sejak di novisiat mereka, para novis ini mengenal negara, adat istiadat dan bahasa yang digunakan oleh penduduk, sementara pada saat yang sama mereka dengan mudah membiasakan diri dengan iklim” (1923). Salah satu yang mengusulkan pengiriman novis Belanda ke Indonesia ini adalah Rama van Lith. Dalam surat kepada superior misi pada tahun 1921 ia menulis “untuk itu kiranya baik kalau novis-novis Belanda dikirim ke Jawa supaya mereka dapat mengalami awal masa pembinaan mereka bersama dengan calon rekan-rekan kerja mereka di masa depan” (Lih. F. Hasto Rosariyanto 2009, 199). Perlu dicatat bahwa sejak tahun 1922, para Yesuit sudah berkonsentrasi untuk berkarya semata-mata di pulau Jawa.


Novisiat Yogyakarta dibuka pada tanggal 18 Agustus 1922. Pater Fransiskus Straeter ditunjuk sebagai magister, sekaligus sebagai superior pertama. Ia dibantu oleh Pater H. Koch, Bruder Jac van Zon, dan Bruder Piet van der Voort. Pada tanggal 7 September 1922 dua orang novis tahun pertama , C. Poespadihardja dan C. Soeryasoetedja, memulai pendidikan mereka. Sementara itu novis secundi yang datang dari Belanda terdiri dari empat orang Indonesia (B. Soemarna, D. Hardjasoewanda, M. Reksaatmadja, dan C. Tjiptakoesoema) dan dua novis Belanda (Gerardus Vriens dan Hermanus Caminada).


Suatu keputusan prematur?


Betapapun pentingnya pendirian novisiat di Yogyakarta dalam sejarah misi Serikat Yesus di Indonesia, usaha tersebut pernah terancam gagal. Menjelang didirikannya novisiat tahun 1922, terdapat 4 calon yang ingin bergabung. Akan tetapi dua orang berhenti sebelum kursus persiapan berakhir. Dua orang kandidat akhirnya masuk novisiat sebagai angkatan pertama di Novisiat Yogyakarta, tetapi satu orang hanya bertahan selama satu bulan. Akibatnya, pada tahun 1922 hanya ada satu novis primi dan enam novis secundi pindahan dari Belanda. Tahun berikutnya hanya ada satu novis dan bahkan pada tahun 1924 tidak ada satu kandidat pun yang bergabung di novisiat. Melihat kecilnya jumlah kandidat, beberapa orang beranggapan bahwa pendirian novisiat di Yogyakarta adalah suatu keputusan yang terlalu dini, maka lebih baik ditutup saja dan para novisnya dikirim kembali ke Belanda. Keadaan menjadi semakin buruk karena novisiat di Belanda juga hanya menerima sedikit calon pada tahun 1921 dan 1922, sehingga menjadi pertanyaan besar apakah masih bisa mengirim dua novis setiap tahunnya ke Yogyakarta.


Superior misi, P. J. Hoeberechts, yang sangat yakin akan pentingnya pendirian novisiat, berusaha mempertahankan novisiat meskipun mengalami banyak kesulitan yang harus dihadapi. Ia mendapat dukungan penuh dari Roma. Rama Jenderal Ledochowski menulis kepada provinsial Belanda, mendorong agar provinsi Belanda, meskipun jumlah novisnya sendiri sedikit, tetap berkurban dengan murah hati dan tetap menyumbangkan dari yang sedikit untuk misi. Sementara itu mengenai gagasan untuk menutup novisiat, Rama Jenderal, berpendapat, dengan merujuk pada contoh-contoh dari sejarah Serikat, bahwa dari pengalaman akan sangat sulit membuka kembali novisiat setelah ditutup. Oleh karena itu, mempertahankan novisiat adalah suatu berkah tersendiri meskipun jumlah panggilan untuk sementara masih sangat kecil. Akhirnya diputuskan bahwa Novisiat di Yogyakarta tetap dipertahankan.


Pembukaan Novisiat Jawa-Belanda di Yogyakarta pada tahun 1922 adalah suatu tonggak amat penting bagi perjalanan Serikat Yesus di Indonesia. Adanya novisiat mau tidak mau menuntut dibukanya formasi yuniorat dan diselenggarakannya kursus filsafat. Pada tahun 1923 novisiat menempati rumah baru di Kolese Ignatius, di mana diselenggarakan yuniorat dan kursus filsafat bagi para skolastik. Bahwa kelak di kemudian hari Yogyakarta akan menjadi salah satu pusat pendidikan calon imam dan religius kiranya tidak bisa dilepaskan dari pendirian novisiat pada tahun 1922. Novisiat Serikat Yesus di Yogyakarta juga memiliki peran penting bagi perkembangan gereja di wilayah Yogyakarta. Sejak sangat dini para Yesuit muda ini masuk dan terlibat langsung dalam dua sayap kerasulan Rama Straeter, yakni pendidikan anak-anak di sekolah-sekolah Kanisius dan reksa pastoral di desa-desa pinggiran Yogyakarta. Sentuhan orang-orang muda ini kiranya memberi warna khas bagi pesatnya perkembangan kekatolikan di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya.


F. Suryanto Hadi S.J.

Pustaka

Haryono, Anton. 2009. Awal Mulanya adalah Muntilan. Yogyakarta: Kanisius.

Hasto Rosariyanto, F. 2009. Van Lith. Pembuka Pendidikan Guru di Jawa. Yogyakarta: Penerbit USD Press.

Koch, “Djokja en het Javaansche Noviciaat Aldaar”, St.-Claverbond, 1923, 65-72.

Vriens, G. 1959. Honderd jaar Jezuïeten Missie in Indonesië. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.




Hari 7: Menyulut Kobaran Api yang Lain
KJ 35, Dekret 2: “Menyulut kobaran api-api yang lain”
Hari 8: Reformatio Vitae