Pater Straeter sejak tahun 1918 bekerja di Yogyakarta. Pada tahun 1922 beliau ditunjuk menjadi superior merangkap magister para novis di Novisiat yang baru didirikan pada tahun 1922. Ketika Kolese Ignatius didirikan pada tahun 1923 yang berfungsi sebagai novisiat dan skolastikat, ia menjadi rektor pertamanya. Di samping bekerja di formatio, Pater Straeter tetap menjalani tugas yang telah ia emban sejak 1918, yakni mengurusi sekolah-sekolah Kanisius dan mengunjungi stasi-stasi di desa-desa di utara dan barat Kota Yogyakarta. Pater yang perawakannya kurus ini melaksanakan tugas-tugas yang mestinya diemban oleh tiga orang. Kisah di bawah ini adalah cerita bagaimana para frater novis di novisiat yang baru didirikan di Yogyakarta ikut berperan dalam mewartakan iman di daerah sekitar Yogyakarta.


Seperti yang diketahui oleh para pembaca Claverbond, terdapat Novisiat Jawa-Belanda para Pater Yesuit, di mana para novis Jawa dan Belanda mempersiapkan diri untuk kehidupan religius.


Untuk melibatkan para frater Jawa maupun Belanda dalam karya kerasulan sejak usia dini, dan terutama juga untuk mengajar mereka menghadapi orang-orang Jawa dengan mudah, mereka diperbolehkan berkeliling desa-desa satu hari dalam seminggu, berdua-dua berkenalan dengan orang-orang, dan mengajar mereka dalam doktrin Katolik.


Murid-murid sekolah kami adalah asisten yang sangat berharga untuk misi kecil ini. Mereka membuat para pastor Katolik Roma dikenal di desa mereka, dengan menceritakan apa yang mereka dengar di pelajaran agama. Dengan demikian, para siswa sekolah itu -- secara sadar atau tidak sadar -- menjadi propagandis iman Katolik.


Beberapa bahkan adalah rasul kecil yang sangat bersemangat: misalnya, seorang anak laki-laki bernama Samidi (lihat foto) yang menemani Frater Vriens. Di malam hari dia mengumpulkan anak-anak dari desanya, mengajari mereka berdoa, menanamkan dalam diri mereka kebenaran utama iman Katolik dan membawa mereka ke gereja pada hari Minggu, yang harus ditempuh sekitar 1,5 jam perjalanan.


Ketika para novis kita datang ke desa, mereka diterima dengan sangat baik oleh masyarakat justru karena propaganda para murid sekolah-sekolah kita. Segera sekelompok orang tua dan muda, yang ingin diajar dalam doktrin Katolik, berkumpul bersama, dan mereka memasuki salah satu rumah bersama mereka. Para pendengar duduk di lantai tanah atau di ambèn; para novis mendapatkan kursi jika memungkinkan, atau juga duduk di ambèn. Gambar-gambar untuk menerangkan katekismus digantung di salah satu tiang atau di dinding bambu, dan pelajaran agama dimulai. Dari kalangan rombongan ini, kembali tersebar berita di desa bahwa “Para Pastur” [yakni pada novis] telah datang dan lingkaran pendengar menjadi semakin meluas. Mereka mendengarkan dengan penuh perhatian penjelasan tentang kebenaran iman dan penjelasan tentang gambar-gambar yang digantung di dinding-dinding itu.


Pada awalnya pelajaran diberikan secara eksklusif oleh para novis Jawa. Selama novis Jawa mengajar, para novis Belanda memiliki kesempatan yang bagus untuk belajar dengan mendengarkan, bagaimana mereka nanti harus melakukannya sendiri, segera setelah mereka cukup menguasai bahasa Jawa.


Ketika pelajaran telah berlangsung satu jam atau lebih, satu novis pergi dan melanjutkan ke desa berikutnya, sering ditemani oleh sekelompok anak laki-laki, yang terus berkeliling sampai waktunya perjalanan pulang harus dilakukan oleh para novis.


Pada sore hari, "makan siang" dilakukan di rumah salah satu katekumen atau, jika ada sekolah Misi di tempat itu, di rumah salah satu guru. Jika orang-orang terlalu miskin untuk menyiapkan makan siang bagi para novis, mereka menerima tunjangan kecil. Dengan 25 sen per orang untuk setiap porsi, mereka sudah memperoleh kompensasi yang cukup.


Melalui karya misi “sambilan” ini, yakni yang dilakukan para novis kami ini, berbagai pusat calon umat Katolik secara bertahap terbentuk di sekitar Jogja, yang dikunjungi setiap dua atau tiga minggu dan menerima pengajaran lebih lanjut tentang iman Katolik.


Para haji dan santri telah mendengar bahwa para novis kita berkeliaran di desa seperti ini dan bahwa mereka sekarang ada di sana seperti orang gila!


Sejak kunjungan para novis ini, kedatangan orang-orang fanatik Islam tiba-tiba menjadi sangat sering di desa-desa di mana dulunya hampir tidak ada haji. Guru agama berpengaruh bahkan didatangkan dari daerah lain untuk "menggarap" orang-orang desa: jika memungkinkan, para pengajar agama ini pergi ke rumah yang sama di mana para novis kami biasa mengajar, untuk mengajar orang-orang berdoa dengan cara Islam.


Beberapa pahlawan Kristen baru telah memberikan bukti ketabahan yang luhur. Mereka mendapat ancaman jika terus mendengarkan para Pastur, mereka akan dikeluarkan dari keluarga, dll dll. Dan mereka benar-benar mulai diabaikan: tidak lagi diundang ke upacara makan bersama, pernikahan, pemakaman, dll. Tentu saja ada beberapa yang bersembunyi ketakutan, dan tidak berani datang ke pelajaran agama kami, tetapi kebanyakan dari mereka tetap tabah dan menanggung "penganiayaan demi kebenaran" untuk sementara, sampai akhirnya, melihat bahwa itu tidak ada gunanya, mereka mengabaikannya.


Diharapkan melalui pertumbuhan yang terus-menerus dari jumlah calon imam Jawa, didukung oleh para konfrater dari Belanda, "benih yang baik" dapat semakin tersebar di Jawa Tengah, sehingga pada waktunya menjadi negara Katolik.


Izinkan saya meminta pembaca St.-Claverbond untuk memohon, dengan doa terus-menerus, rahmat agung dari Hati Kudus Yesus ini.

P. Fransiscus Straeter S.J.

F. Straeter, "Missietochten", St.-Claverbond 1924, hlm. 147-150



Hari 8: Reformatio Vitae
Surat Ignatius kepada Komunitas Yesuit di Alcala (1541)
Surat Ignatius kepada para Yesuit yang diutus berkarya (8 Oktober 1552).